Laman

Tampilkan postingan dengan label Kepri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2015

Negeri Seribu Pulau: Menjenguk Suku Akit (2)

Menyinggahi Pulau Alai
Keesokan harinya, teman saya ternyata sudah membuat janji ketemu dengan bapak-bapak dari rombongan yang kami temui di kapal kemarin. Si Bapak akan mengajak kami menemui Suku Asli yang konon ada di Pulau Alai, pulau kecil di seberang Tanjung Batu. Janjiannya pukul 7 pagi, karena kami rencananya akan mengejar kapal ke Dumai menjelang siang. Di luar mendung dan saya agak malas bangun, tapi bagaimanapun harus. Karena sedianya langsung check-out, saya mengemasi barang dan turun ke lobi. Sembari menunggu teman saya, saya pesan nasi lontong untuk sarapan dari warung sebelah yang nampak semarak.

Di meja resepsionis, selain lelaki tunawicara semalam, ada juga seorang perempuan berblazer kuning. Rapi sekali dia, dan cukup ramah. Mungkin dia bertugas siang hari, sementara lelaki Tegal semalam, bertugas malam hari.

Lelaki tunawicara menggerak-gerakkan tangannya, mengajak saya bicara. Saya pikir dia bertanya: apa saya mau ke pulau di seberang? Saya bilang iya. Dia tampak ramah.  Badannya yang tegap dan gempal seperti anggota gangster, sungguh kontras dengan ketunawicaraannya. Seorang lelaki tua berkulit terang bermata sipit muncul, sepertinya baru dari jalan-jalan. Mungkin dia pemilik penginapan ini. Lalu si perempuan berblazer kuning berjalan melintas di depan saya dan...saya terkejut melihat bahwa sebelah tangannya tak ada! Namun dia nampak santai dan percaya diri saja dengan semua itu. Entah bagaimana, tiba-tiba saya merasa tertohok dan ingin menangis. Apakah penginapan ini mempekerjakan orang-orang difable? Tiba-tiba saya ingin menulis sebuah cerita tentang mereka! Saya mengeluarkan buku, membuat draft. Tapi saya kesulitan membuat narasinya, mungkin karena suasananya kurang kondusif.

Teman saya muncul. Karena ribet harus menenteng-nenteng ransel yang berat, kami memutuskan untuk menitipkan tas kami di resepsionis saja. Tokh kami masih harus kembali ke pulau ini lagi nanti untuk mencari kapal ke Dumai.

Kami ke pelabuhan, yang letaknya cuma beberapa meter dari penginapan. Saya hanya menenteng pelampung. Maklum, saya tak bisa berenang dan punya pengalaman buruk dengan air. Hihi.

Kami janji ketemuan dengan si Bapak di pelabuhan, tapi ketika teman saya menelponnya, ternyata dia meminta kami menemuinya langsung di Alai, yang hanya terbentang beberapa meter di depan. Kami mencari angkutan penyeberangan, sudah terlambat. Karena kami ingin cepat-cepat, kami charter saja. Rp.20.000 dengan perahu kayu kecil yang biasa kami sebut pompong.

Perahu melaju pelan, melintasi perairan selat yang kecoklatan. Cuaca mendung dan saya agak khawatir kalau-kalau kehujanan.

Sepuluh menit kemudian, kami sudah sampai di Pulau Alai. Si Bapak sudah menunggu di kedai kopi dekat dermaga bersama beberapa lelaki. Hm, khas desa-desa Melayu, pagi-pagi sudah berkerumun di kedai kopi.

Si Bapak terkesan lebih muda dan ramah dari yang kemarin kami temui. Kami menyalami lelaki yang lain, dan langsung ditodong dengan pertanyaan: untuk apa? Kami berusaha menjelaskan sebaik mungkin supaya bisa diterima dengan baik. Beberapa nampak antusias. Mereka sih sepertinya mengira kami wartawan dan tak terlalu berprasangka. Itu agak menguntungkan. Mereka mulai menceritakan tentang batu-batu legenda di pulau ini. Kami menanggapinya dengan tak terlalu antusias karena tujuan kami memang bukan untuk berwisata dan waktu yang kami miliki juga terbatas.

Sambil mengobrolkan hal basa basi yang tak terlalu penting, saya mengamati seorang lelaki tua yang berjalan sempoyongan beberapa meter di depan kami. Menurut para lelaki itu, lelaki tua itu gila. Kecelakaan sewaktu bekerja di Malaysia membuat kepalanya harus dioperasi. Mungkin ada yang harus diambil dari kepalanya dan syaraf otaknya setengah tak berfungsi. Dan dia tak sendiri. Ada juga lelaki tua yang lain, sepertinya keturunan Tionghoa yang juga bertingkah seperti orang gila. Keduanya mondar mandir saja di jalanan utama desa, tertawa-tawa sendiri...ini seperti sebuah dunia yang aneh. Kehidupan macam apa yang dijalani oleh orang-orang di pulau ini?

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, si Bapak akhirnya mengantar kami menemui Suku Asli. Hanya berjalan beberapa meter saja, menyusuri jalan tanah yang di kanan kiri tampak semrawut oleh rumah-rumah kayu panggung yang terlihat lembab, pohon-pohon kelapa, tumpukan tempurung kelapa. Konon, kopra adalah salah satu sumber penghasilan penduduk di sini. Sekilo bisa Rp. 4000. Sementara sawit cuma Rp. 600 perak, karena mungkin transportasinya susah.

Kami berhenti di depan sebuah rumah kayu yang cukup rapat dan reyot. Dari rumah sebelah, terdengar suara anak2 bernyanyi.' Ini rumah orang Asli, kata si Bapak yang tampaknya sudah cukup kenal dengan si pemilik. Kami masuk, disambut ramah si pemilik rumah. Sama sekali tak seperti yang kami bayangkan. Kami kira akan bertemu sekelompok orang dengan penampilan yang khas ternyata...mereka tak ubahnya seperti orang desa pada umumnya.

Mereka cukup ramah menyambut kami. Ada Pak Simon,si kepala keluarga, anak perempuannya, tiga menantu lelakinya, satu menantu perempuannya...rumahnya memang cukup sederhana, tapi cukup layak dan bernuansa ‘desa.’ Pak Simon berkulit gelap, demikian juga kaum lelaki yang lain. Mungkin karena paparan matahari terkait pekerjaannya sebagai nelayan. Dua  menantunya berwajah seperti keturunan India benggali.

Pak Simon terkesan cukup hangat, meski agak pendiam dan pemalu. Dia hanya sering tersenyum-senyum setiap ditanya, sementara dua menantunya yang aktif menjawab. Mereka mengaku sebagai Suku Asli, asalnya dari Tanjung Batu. Apa mereka kenal Suku Akit? tanya kami. Tidak. Kata mereka. Mereka hanya tahu bahwa mereka Suku Asli. Pekerjaan mereka nelayan. Sejak dulu kala. Salah satu menantu Pak Simon, mengatakan kalau dia kadang juga berburu babi di pulau sebelah.

Di sebelah, terdengar anak-anak menyanyikan lagu-lagu pujian. Mereka sedang mengikuti Sekolah Minggu. Ada seorang pendeta dari Medan, katanya. Di tengah obrolan, si pendeta ini muncul, seorang perempuan berpenampilan necis dan berwajah ala misionaris. Melihat kami, tersirat pandangan penuh selidik. Sejak lima tahun belakangan kelompok Pak Simon aktif sebagai kristen yang taat, meski sebenarnya mereka sudah beragama cukup lama.

Lalu kami bertanya, dimana suku yang masih benar-benar asli? Di Penyalai, kata mereka. Si Menantu bilang, bahwa dia pernah singgah di sana dan para perempuan masih bersembunyi ketika melihat orang luar datang. Mereka berkebun untuk diri sendiri dan cenderung ‘belum gaul’, istilah mereka. Kami antusias mendengar cerita si Menantu. Inikah suku yang kami cari? Saya membayangkan sekelompok masyarakat asli yang masih tertutup dan masih setengah bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Kami harus kesana! Tapi tidak ada perahu yang sampai kesana, kecuali pagi jam 7 pagi.
    "Coba saja charter," saran si Bapak, demi mendengar ini, ingin ikut.
    "Berapa charter kesana?"
    "Dua ratus ribuan mungkin?" Hmm, agak mahal, tapi masih terjangkau lah.

Cuaca masih mendung ketika kami keluar dari rumah Pak Simon. Kami yakin bahwa kami bisa mencharter boat. Kami pun memutuskan untuk mampir ke warung di pinggir jalan, meski kecil tapi nampak penuh sesak. Sebagian barang-barang yang dijual adalah produk Malaysia, terutama aneka makanan ringan. Pemiliknya, keturunan Tionghoa. Kami membeli ini itu. Saya membeli satu kilo pisang, beberapa bungkus roti, maksudnya untuk bekal kalau jadi pergi karena mungkin di Penyalai kami tak akan banyak menemukan toko. Imaji saya tentang Penyalai adalah pulau yang sepi dan masih dilingkupi banyak hutan.

Sementara kami belanja, si Bapak mencari informasi soal charter boat. Ternyata: 800 ribu! Damn! Itu sangat mahal, dan kami pikir it’s not that worthed. Tapi si Bapak mengatakan, bahwa masih ada boat ke Penyalai jam 2 siang. Tapi biasanya tak akan sampai di lokasi Suku Asli. Masuknya bisa naik ojek. Kami mempertimbangkan alternatif itu, mengucap terimakasih dan pamit.

Kami kembali ke Tanjung Batu dengan perahu reguler, tarifnya cuma 5000. Karena ingin memastikan boat ke Penyalai, kami minta diantar ke dermaga dan  menambah ongkos Rp. 5000. Masih pukul 10 pagi, dan kami berharap ada boat lebih awal. Ternyata hanya tinggal yang jam 1 siang. Kami membatalkan rencana ke Dumai hari ini dan memutuskan ke Penyalai. Mengisi waktu, kami ambil barang di hotel dan berniat mencari informasi dari orang-orang sekitar.


Akhirnya kami mendapat informasi tentang keberadaan Suku Akit di pulau ini. Ada seorang juragan kaya yang konon keturunan Suku Akit, meski berayah keturunan Tionghoa. Info ini diperkuat dengan pernyataan seorang informan kalau dia dulu satu sekolah dengan si juragan dan si juragan ini sering diejek 'Akit.' Kami diarahkan untuk pergi ke bagian lain pulau ini, yang konon merupakan tempat bermukim Suku Akit. Nama tempatnya, Batu Dua.

Kami minta antar ojek ke sana. Agak jauh ke pinggiran. Melintasi kota utama yang terlihat ramai. Ya, meski kota kecamatan, Tanjung Batu memang cukup ramai karena sepertinya, menjadi pusat dari pulau-pulau kecil sekitar.

Batu Dua dan Cerita Kepahlawanan Pak R
Batu Dua merupakan desa yang bersuasana cukup urban karena memang jaraknya dekat dengan kota kecamatan. Di sana, kami langsung menemui Pak H, yang disebut sebagai keturunan Suku Akit. Pak H mengatakan kalau ibunya memang keturunan Suku Akit, tapi dia sendiri sama sekali tak paham tentang Suku Akit. Ibunya yang bisa ditanya-tanya juga sedang pergi. Dia kemudian menawarkan agar kami ke Pak R, yang merupakan salah satu tokoh masyarakat yang juga keturunan Suku Akit.
Kami setuju dan diantar ke tempat Pak R.

Pak R menyambut kami dengan sedikit canggung. Wajahnya khas, mengesankan 'Suku Asli.' Tapi ketika kami tanya tentang Suku Akit, nada suaranya agak naik dan dia langsung menjelaskan panjang lebar, bahwa dirinya dan orang-orang di tempat itu bukan Suku Akit, meski orang luar menganggap mereka Suku Akit. Mereka adalah keturunan (maksudnya, Tionghoa), kata Pak R. Nenek moyangnya dalah marga Se Ng dari Tiongkok yang pergi meninggalkan Tiongkok karena tak mau dijajah Belanda. Saya dan teman saya berbagi pandang: memang Cina pernah dijajah Belanda? Meski begitu, kami mendengarkan saja cerita Pak R. Konon, si Ng ini pergi, melewati Singapura, membunuh musuh-musuhnya dan kemduian sampailah di pulau ini. Demikianlah cerita Pak R.
    "Bagaimana dengan Suku Hutan?" tanya kami, berusaha mencari penegasan istilah.
    "Mereka yang hidup di hutan-hutan, di Rupat." ujar Pak R. "Yang masih ‘primitif’, telinganya panjang-panjang...,"
    Saya mengamati foto-foto yang dipajang. Foto tua mungkin orang tua Pak R. Wajahnya seperti orang Melayu kebanyakan. Saya mengamati wajah Pak R. Wajahnya juga sangat Melayu dan rambutnya cenderung ikal, nyaris keriting. Karena sudah siang, kami pamit. Dugaan kami, sepertinya Pak R berusaha menyembunyikan jati dirinya. Dia Orang Asli, tapi tak mau mengakui, mungkin ini terkait stigma negatif yang sering dilekatkan pada suku-suku minoritas seperti ini.

Menuju Pulau Penyalai
Kami kembali kepelabuhan untuk mengejar kapal ke Penyalai. Kapalnya sederhana saja, berukuran sedang dan cukup nyaman. Saya terkantuk-kantuk karena bosan. Di depan kami, dua anak muda berwajah Tionghoa terus mengoceh sepanjang jalan dalam bahasa Mandarin yang membuat suasana seolah sedang di antah berantah.

Dua pertiga perjalanan, saya tertidur. Kadang terbangun oleh guncangan kapal menghantam ombak. Sekitar dua jam kemudian kami sampai. Penyalai. Meski tak seramai Tanjung Batu, tapi juga tak "seterbelakang" yang saya bayangkan. Seperti wajah pulau-pulau di sini, di depan dermaga adalah ruko-ruko kecil, meski terkesan lebih sepi dan terbengkalai. Kami memutuskan singgah di warung kecil untuk mencari makan, sambil mencari2 informasi tentunya.

Di sini, istilah Suku Asli cukup familiar. Mereka menempati salah satu bagian belakang pulau ini, Tanjung Medan. Untuk kesana, kami bisa naik ojek, sekitar sejaman. Untuk menginap, ada penginapan milik Pak Haji di depan menara komunikasi. Tarifnya Sekitar 50 ribu, tapi ada kamar mandinya. Bersih, promo mbak penjual jus.

Karena pengalaman di Tanjung Batu kami begitu banyak penginapan cukup bagus yang murah meriah bertebaran, sedikit banyak saya membayangkan penginapannya semacam itu. Ternyata... penginapannya adalah tempat yang memang sangat pas disebut "penginapan" karena memang sangat sederhana. Sebuah rumah kayu yang terkesan muram dan usang. Sekadar kipas angin juga tak ada. Meski tak kotor, tapi juga tak bersih. Tapi karena itu satu-satunya, kami tak punya pilihan. Setelah meletakkan barang, kami segera mencari ojek ke Tanjung Medan. Berdasarkan informasi, kami disarankan untuk menemui Pak K, salah seorang tokoh masyarakat yang merupakan Suku Asli.

Ongkos ojeknya tak terlalu mahal, si Abang ojek minta 20 ribu saja pulang pergi. Kami menelusuri jalanan yang dicor yang tak sepenuhnya bagus. Di banyak bagian sudah retak-retak, miring-miring, mungkin karena struktur tanah di bawahnya yang terlalu lembek.Di pulau ini, tanahnya adalah tanah gambut. Air kecoklatan mengalir dari parit di kanan kiri jalan. Lahan-lahan terbuka nampak berair dan hanya ditumbuhi rumput2 liar. Rumah-rumah sederhana berderet, sebagian mash kayu. Aroma bunga pinang semerbak, aroma khas desa-desa Melayu. Pohon-pohon kelapa menjulang, memberi keteduhan sekitar. Dalam perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa permepuan yang disebut Abang Ojek sebagai Orang Asli. Mereka berjalan kaki, penampilannya cukup khas tapi juga tak terlalu berbeda dengan orang kebanyakan.
Setelah setengah jaman, kami akhirnya sampai di rumah Pak K. Dan yah, tak seperti yang saya bayangkan tentang "Rumah Orang Asli." Rumah kayu berbentuk panggung sederhana, tapi sudah terkesan umum juga. Dan yang lebih mengejutkan, kami disambut anak muda berlogat jawa. Usut punya usut, dia anak tiri Pak K. Jadi Pak K ini menikah dengan perempuan Jawa. Sedangkan Pak K nya sedang tak ada di rumah, jadi kami disarankan menemui Pak M, kakaknya Pak K. Kami setuju.

Rumah Pak M hanya di seberang jalan. Rumah panggung yang besar, paling besar di sekitar tempat itu. Entah kenapa, Pak M kurang ramah menyambut kami, meski begitu, tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Dia bilang memang mereka Suku Asli. Dia bilang memang kelihatannya sudah maju, tapi sebenarnya secara ekonomi belum. Mereka banyak jadi buruh untuk kebun jagung milik warga keturunan. Lalu dia mulai curhat, anaknya baru lulus SMA dan dia bingung karena tak bisa menyekolahkan anaknya yang minta kuliah. Dia menunjuk anaknya yang berdiri di depan rumah. Anak muda yang nampak bersih dengan penampilan khas anak muda jaman sekarang. Hmm...buyar sudah bayangan "ketradisionalan" Suku Asli di benak saya.

Mereka sudah punya akses ke pendidikan sejak lama, tak beda dengan masyarakat umum. Soal ekonomi? Yah, bahkan suku mayoritas pun memiliki masalah itu...

Lalu kami menyinggung soal Suku Akit, secara hati-hati saja karena pengalaman dengan Pak R. Pak M malah mengatakan kalau orang-orang Suku Asli di tempatnya memang sebenarnya disebut Suku Akit. Ada hubungannya dengan di Rupat? tanya kami. Pak M mengiyakan. Konon secara nenek moyang mereka dari sana.
    "Bagaimana bisa kesini?" tanya kami lagi. Dia pun tak tahu. Dia sudah generasi kelima di pulau ini dan tak ada kontak apapun dengan yang di Rupat. Hmmm... agak rumit juga. Bagaimana ya mencari jejak sejarah orang-orang ini? Karena sudah sore, kami pamit.

Kami sampai penginapan menjelang petang. Kami makan mie instan, yang dijual di lantai bawah. Usai makan, karena badan lengket oleh keringat, saya memutuskan untuk mandi.  Meski tadi saya melihat bahwa air di sini adalah air gambut, saya pikir di penginapan tersedia air tawar biasa. Tapi ketika masuk ke kamar mandi, ternyata airnya pekat kecoklatan. Air gambut! Teman saya mengeluh, merasa jijik dan 'tak tega' menggunakan air itu. Tapi saya nekad mandi saja. Apa buruknya sekali dua kali, orang-orang di sini bahkan harus menggunakan air seprti ini setiap hari!

Usai mandi, masih terlalu dini untuk tidur sebenarnya, tapi saya tiduran saja. Teman saya yang memang agak penyakitan, mengaku kelelahan dan ingin segera istirahat. Sebenarnya saya tak terlalu lelah, tapi tak tahu juga apa yang bisa dilakukan di tempat yang terasa "kering" seperti ini. Tak ada TV untuk hiburan. Di luar, suara rekaman burung walet bercerecau dengan berisik. Setelah beberapa waktu, akhirnya saya jatuh tertidur.
(bersambung)

Negeri Seribu Pulau: Menjenguk Suku Akit (1)

Awal Perjalanan: Menuju Batam
Ini semacam kebetulan. Meski saya ragu, apa ada yang benar-benar namanya kebetulan. Ketika tiba-tiba lembaga tempat saya bekerja berencana melakukan penelitian kecil-kecilan pada suku-suku Asli minoritas di Sumatera, yang tersebar di sekitar Riau dan Kepulauan Riau. Tim saya, yang terdiri dari saya dan seorang teman, ditugaskan untuk melakukan penelitian pada Suku Akit.

Saya sendiri baru mendengar nama ini dari sebuah buku. Informasinya juga sekilas saja. Tak ada gambaran jelas dimana sebenarnya kelompk terbesar suku ini bermukim. Coba-coba browsing di internet dan bertanya pada teman-teman yang bermukim di sekitar Riau, ternyata juga tak banyak membantu. Ada yang menyebutkan di Kab. Pelelawan, Riau. Ada yang mengatakan di Pulau Rupat, Bengkalis. Ada majalah lama di kantor saya yang memuat hasil penelitian tentang suku-suku kecil ini, termasuk suku Akit, beserta peta persebarannya, dan ternyata Suku Akit tak hanya terdapat di Pulau Rupat, tapi juga di pulau-pulau sekitar. Nah, lho...

Karena informasi yang masih kabur, bingung memulai dari mana, akhirnya kami sepakat untuk ke Pulau Rupat. Ada dua alternatif rute perjalanan dari Jambi: Jambi-Pekan Baru-Dumai (darat), Dumai-Rupat (laut). Rute kedua: Jambi-Batam (udara), Batam-Dumai-Rupat (laut). Dan kami sepakat mengambil rute yang kedua karena berpikir lebih efektif.

Kami mendapat info kalau kapal Batam-Dumai beroperasi dua kali sehari, pukul 7 pagi dan 2 siang. Pesawat kami pukul 12 siang dan sampai Batam pukul 1 siang, jadi kami masih bisa mengejar kapal yang pukul 2. Begitu keluar bandara, kami lekas-lekas mencari taksi ke pelabuhan.Taksinya tak pakai argo. Tarifnya: Rp. 90.000,-.Sebenarnya agak terlalu mahal karena jaraknya tak terlalu jauh. Tapi kami tak punya pilihan karena karena dikejar waktu, selain itu juga tahu informasi tentang  angkutan umum rute bandara-Sekupang.

Sampai di Sekupang, kami langsung mencari tiket kapal ke Dumai. Ini juga kedua kalinya saya menginjakkan kaki di Sekupang. Pada kesan pertama, saya tak menyukai tempat ini karena terlalu berisik dan annoying. Kali ini, ternyata sama saja. Para penjual tiket tak henti berteriak--benar-benar berteriak--ribut sekali.
    "Tak ada. Adanya cuma besok pagi, jam 7-an." jawab si penjaga loket ketika kami tanya tiket ke Dumai. Kami jadi agak bingung karena rencana semula jadi berantakan. Rasanya terlalu buang-buang waktu kalau harus menginap di Batam. Pun ketika kami tanya penginapan di dekat-dekat pelabuhan, katanya tak ada. Adanya hotel besar, itu pun agak jauh. Mengingat bahwa kapal jam 7 pagi, menginap di tempat yang agak jauh dari pelabuhan sama sekali bukan ide bagus. 

Bingung, akhirnya kami memutuskan untuk mencari warung di dekat pelabuhan. Kami pesan minum dan mulai tanya-tanya. Si Ibu cukup ramah mengatakan kalau kami bisa menginap di tempatnya, alakadarnya memang. Tapi kami tak keberatan dengan penginapan alakadarnya. Kami buka-buka peta, dan berdiskusi: bagaimana kalau mengunjungi pulau terdekat? Ada Tanjung Balai di seberang sana. Sepertinya sih tak ada yang terlalu menarik, tapi lebih baik mengunjungi tempat baru daripada bengong. Apalagi setelah diperhatikan lagi, ada pulau kecil dekat Tanjung Balai yang dipeta diarsir sebagai lokasi Suku AKit, Pulau Kundur. Lalu datang abang-abang yang mungkin suami si Ibu, dan kami mulai tanya-tanya soal Suku Akit. Tapi lagi-lagi nama Suku Akit tak familiar, jadi kami tanya Suku Asli. Karena berpikir sama saja konotasinya. Kami tanya apa di Pulau Kundur ada Suku Asli? Si Abang mengiyakan, meski sepertinya tak terlalu meyakinkan.
    "Apa masih ada transport kesana?" tanya kami.
    "Masih, terakhir jam 4!" jawab si Abang. Saya melihat jam. Hampir pukul 4. Tanpa babibu, kami mengucap terimakasih dan bergegas.

Menyinggahi Tanjung Batu, Pulau Kundur
Kami membeli tiket, lalu setengah berlari ke dermaga. Sampai di dermaga, ternyata kapalnya sudah penuh. Seorang lelaki bermata sipit yang mungkin pemiliknya teriak-teriak kalau sudah penuh dan jangan ada yang naik lagi. Kapal pun segera melepas sauh. Kami bengong. Beberapa penumpang yang nasibnya sama dengan kami menggerutu. Saya merasa bingung dengan situasi itu. Bagaimana tiket sudah di tangan tapi ternyata tak bisa menjaminkan bisa berangkat? Jadi penjualan tiketnya bukan berdasar ketersediaan kursi ya? Parah.

Untunglah, ternyata bukan berarti tiket kami hangus. Kami bisa menukarkannya kembali. Beberapa orang yang bernasib sama dengan kami, menyarankan untuk mengganti tiket ke Tanjung Balai saja, mungkin dari sana masih ada kapal yang ke Pulau Kundur. Gambling sih, tapi kami ambil ide itu. Mentoknya bermalam di Tanjung Balai saya pikir tak lebih buruk daripada cuma bengong di Batam.

Teman saya menukar tiket. Kami menunggu beberapa menit dan kapal berikutnya datang. Batam-Tanjung Balai cuma memerlukan waktu dua jam dengan kapal cepat. Kondisi kapalnya lumayan, kecuali bahwa ac-nya rusak, tapi kemudian pulih di tengah jalan. Saya merasa penat dan mencoba tiduran, tapi tak bisa karena anak-anak di belakang saya berisik sekali.Sementara teman saya memilih duduk di luar karena katanya bisa mengambil foto dengan leluasa.
Tanjung Balai Karimun (photo by HA)

Tiba di Tanjung Balai, saya cukup takjub juga melihat bangunan-bangunan menjulang, menandai kota yang cukup besar. Tadinya saya kira, Tanjung Balai hanya pulau kecil saja yang membosankan, tapi ternyata terlihat cukup megah.

Di kapal, teman saya mendapat kenalan orang dari Tanjung Batu, Pulau Kundur. Mereka berombongan, katanya baru menghadiri semacam majelis Melayu begitu. Karena berombongan, mereka bisa mendapatkan kapal dan menawari kami kalau kami mau barengan. Tentu saja kami mau! Kami menunggu sekitar 15 menit, lalu datanglah speed boat berukuran sedang yang sedianya akan membawa kami ke Pulau Kundur.
Perjalanan menuju Tanjung Batu (Photo By HA)

Perjalanan ke Tanjung Balai-Tanjung Batu cuma sekitar 1 jam, melintasi laut tenang, membelah pulau-pulau kecil yang dinaungi bakau. Tampak indah permai dalam pendar matahari sore yang keemasan. It’s great! Saya pikir, saya benar-benar mulai menyukai perjalanan ini!

Sudah menjelang petang sampai di Pelabuhan Tanjung Berlian, Pulau Kundur. Saya pikir, rombongan yang bersama kami tadi akan sedikit basabasi sama kami ketika turun mengingat kami tak tahu mau kemana, tapi ternyata berpisah begitu saja dan kami harus mengandalkan diri sendiri.
Pelabuhan Tanjung Berlian, Pulau Kundur (photo by HA)

Keluar dari dermaga adalah deretan ruko berornamen Tionghoa yang berjejer di kiri kanan jalan, memanjang dan lengang karena sudah pada tutup. Kami tanya-tanya ternyata ini bukan kota utamanya. Tapi masih jauh. Sayangnya sudah tak ada kendaraan karena sudah terlalu sore. Bersama kami seorang anak muda dan ibu muda yang kemudian mengajak kami nyarter angkot. Kami setuju.

Di dalam angkot, ada bapak-bapak yang cukup ramah dan mengajak kami mengobrol ini itu. Petang sudah datang dan tak banyak yang bisa dilihat di kanan kiri jalan. Hanya jalanan yang mulus, rumah-rumah yang tak terlalu padat, hamparan pekarangan yang agak bersemak...kesan desanya kuat sekali kecuali bahwa jalan yang kami lalui sangat mulus.

Sampai tengah jalan, kilat menyambar-nyambar. Saya teringat cerita teman saya yang berasal dari Kepri. Konon petir di daerah kepulauan ini mengerikan. Mungkin seperti inilah. Kesannya langit hanya sejengkal di atas kita dan kilat menyambar. Benar-benar terasa mengerikan. Lalu hujan turun, menguarkan aroma aspal yang basah. Deras sekali kelihatannya. Kami tutup semua jendela dan pintu. Suasana di dalam angkot terasa pengap. Rasanya perjalanan cukup lama, melintasi daerah pedesaan yang membuat saya berpikir, kok mau-maunya angkot ini mengantar? Apa tak takut pulang melintasi jalan sepi dan gelap begini?

Hujan hanya sebentar saja. Ketika penumpang satu per satu turun, kami agak bingung. Tapi kami disarankan turun di kota kecamatan saja karena banyak penginapan di sana. Kota kecamatan tapi ada penginapannya? Saya penasaran juga. Seperti apa sih kotanya? Ternyata suasananya sama sekali tak seperti kota kecamatan, cukup besar untuk disebut kota kabupaten malah. Deretan toko-toko terlihat masih ramai. Ada pasar malam juga. Kami diturunkan di depan sebuah penginapan yang terlihat cukup layak. Teman saya bertanya, apa sebaiknya cek tempat lain? Tapi karena hari sudah malam dan kami buta tempat ini, saya pikir lebih baik di sini saja.

Hotel biasa saja, bernuansa usang dengan ornamen China. Kesannya, bukan hotel yang ‘bersih.’ Harganya ternyata cukup murah,untuk harga Rp. 90.000 sudah ber-ac dan ber-tv. Tak ada pertanyaan soal KTP  segala macam, langsung bayar dan dikasih kunci kamar.

Saya diantar seorang lelaki bertubuh gempal--yang sepertinya bell boy hotel itu--ke kamar di lantai dua, sementara teman saya di lantai 1. Koridor lantai dua tampak lengang dan gelap. Sepertinya tak banyak tamu. Entah bagaimana saya merasa agak ngeri juga karena atmosfer hotel ini terasa kurang nyaman.

Masuk ke kamar, ternyata kamarnya cukup luas. Ketika tadi saya berusaha menawar, resepsionisnya tadi mengatakan tidak bisa dan sebagai semacam nilai plusnya adalah karena TVnya besar, ternyata TV biasa saja, 21 inc, sudah tua pula. Sebenarnya, tak masalah bagi saya TV kecil atau besar, tapi iseng saya protes pada petugas yang mengantar saya: Mana? Katanya besar? Dia diam saja. Saya pikir dia agak tersinggung, tapi kemudian ketika dia hendak keluar, dia menggerak-gerakkan tangannya membentuk bahasa isyarat. Oh, ternyata dia tuna wicara! Meski saya tak tahu bahasa isyarat, tapi saya kira saya paham apa yang dikatakannya. Dia bertanya kenapa saya dan teman saya tak sekamar? Saya bilang kami bukan suami istri, tapi teman kerja. Dia sepertinya mengerti, tapi kemudian dia masih menggerakkan jari lagi. Saya tak paham kata-katanya, jadi hanya saya jawab: bukan-bukan. Mungkin aneh juga dua orang berjenis kelamin berbeda bepergian, bukan suami istri dan menginap di hotel begini.

Mengabaikan atmosfer tak nyaman di kamar, saya memutuskan untuk mandi karena badan terasa lengket oleh keringat. Kamar mandinya tak terlalu bagus. Airnya beraroma karat. Saya memeriksa dinding, khawatir kalau-kalau ada semacam hidden camera. Tapi sepertinya tidak dan saya pun mulai mandi.

Tanjung Batu dan Sisa Kejayaan Masalalu
Usai mandi, teman saya sms mengajak saya cari makan di luar. Kami keluar dan beberapa meter dari penginapan, mendapati hamparan pujasera yang terlihat cukup meriah. Menu-menunya sih tak ada yang terlalu khas: bakso, mi goreng, nasi goreng, miso...tapi suasananya terasa sangat hidup. Dan kami benar2 merasa surprise! Rasanya seperti sedang liburan saja!

Usai makan, kami memutuskan untuk jalan-jalan. Beberapa toko sudah tutup. Jalanan cukup riuh oleh anak-anak muda yang bersliweran dengan sepeda motor menderu-deru. Maklum, malam Minggu. Selebihnya, lorong panjang pertokoan yang temaram, dengan lampion-lampion merah yang bergelantungan. Di sudut perempatan, ada wihara yang merah temaram, menambah kesan eksotik tempat itu.

Salah satu sudut kota Tanjung Batu

Kami berjalan-jalan saja, menyadari bahwa kota itu ya di situ-situ saja. Di salah satu perempatan, kami mendapati patung ibu dan dua anak di perempatan dan kami pikir itu pasti ada legendanya dan besok akan kami tanya kalau ketemu seseorang.

Kami sampai di ujung dermaga yang terbengkelai. Gelap tapi terlihat beberapa anak muda duduk-duduk disana, mojok. kami ingin pulang, tapi hujan turun, dan kami mampir di sebuah kedai makan. Ngobrol-ngobrol dengan pemiliknya yang sebenarnya sudah mau tutup. Kami tanya tentang Suku Akit, tak banyak tahu juga. Suku Asli ada, di Penyalai, pulau di seberang lagi. Teman saya pesan teh, saya makan mangga. Tanya-tanya penginapan. Katanya penginapan kami mahal, hotel lain 25-70 ribu, katanya sambil menunjuk bangunan di sebelah. Terlihat seperti asrama.

Lalu cerita melompat ke Tanjung Batu di masa lalu. Dulu katanya surga judi dan perempuan. Masa Suharto. Tiap malam orang-orang Malaysia dan Singapura berdatangan dengan kapal untuk mereguk surga dunia. Perempuan penghibur didatangkan terutama dari Jawa. Sekarang, sudah tak boleh lagi. Sepi. Saya pikir penginapan-penginapan di sini adalah sisa kejayaan masa lalu. Dimana hiburan di sini? Ada klub di sana. Ujar si Abang. Ada juga perempuannya. Tapi benar-benar sudah sepi sekarang, tambahnya.

Si Abang warung bilang akan segera tutup karena sebentar lagi lampu dimatikan. Listrik di sini tidak 24 jam. Hujan pun reda dan kami berjalan pulang. Suasana jalanan masih semarak.

Saya kembali ke kamar, nonton TV, dan tertidur. Karena kecapekan, saya tidur cukup nyenyak. Tapi di tengah malam saya terbangun dan samar-samar mendengar gemeletuk hak sepatu perempuan. Saya mendengar suara-suara...Hmmm...saya tak mau berpikir aneh-aneh dan meneruskan tidur. (Bersambung)




Rabu, 28 Januari 2015

Pulau Berhala, Surga Kecil Yang Menenangkan (3-Habis)

Cuaca Buruk dan Insiden Terdampar di "Pulau Lumpur"
Kami bangun pagi-pagi. Mendapati langit yang mulai terang. Tapi angin masih menderu. dan ini agak mengkhawatirkan. Tentu bukan ide yang baik mengarungi lautan dengan angin sekencang itu. Datuk mengatakan bahwa kami harus menunggu laut tenang untuk pulang. Kami pun menunggu dengan agak gelisah. Bagaimana kalau cuaca semakin buruk dan kami terjebak tak bisa pulang? Meski kalau dipikir-pikir, tak terlalu buruk juga karena tokh kami berdekatan dengan pemukiman penduduk.

Masih menunggu air tenang, kami jalan-jalan ke bukit di belakang Pendopo. Di situ ada makamnya Datuk Berhala, orang yang namanya melegenda sebagai nenek moyangnya raja-raja Jambi. Tadinya kami tak terlalu berminat untuk menziarahinya, karena kuburan kan begitu-begitu saja, ya?

Menaiki beberapa puluh anak tangga, kami sampai di makam. Bangunan kecil dilapis keramik yang retak-retak dan dikelilingi semak-semak. Di atas makam, tertulis kalau Datuk Berhala ini umurnya ratusan tahun. Benarkah? Entahlah. Banyak orang yang membangun mitos untuk menunjukkan powernya bukan?


Sekitar pukul 10 air mulai surut. Angin masih riuh, tapi sudah mulai tenang. Air laut juga masih bergolak, tapi matahari terik bersinar. Kami mulai mengarungi lautan biru. Kali ini, saya tak mulai merasa tenang dan sedikit tertawa ketika speed terlonjak-lonjak. Hingga di tengah lautan, tiba-tiba si Datuk terlihat panik. Ternyata dia salah arah!

Kami mulai ketar-ketir. Waduh, bukannya dia sudah berpengalaman? Tapi, yah manusia bisa saja membuat kesalahan. Boat melaju, menghantam gulungan ombak. Saya menggumam doa. Daratan belum juga tampak, padahal 1 jam sudah lewat. Apakah kami akan terdampar? Apalagi menoleh kiri kanan, tak ada kapal yang melintas.
Terdampar di "Pulau Lumpur" :D

Hingga beberapa waktu kemudian, akhirnya dataran mulai terlihat, saya benar-benar merasa lega. Apalagi ketika kami mulai menyusuri air yang tenang. Eits, tunggu dulu, karena ternyata ini adalah awal yang benar-benar buruk: boat kami kandas di genangan air berlumpur dan tak bisa dinyalakan. Entah bagaimana, si Datuk enggan berputar balik untuk cari jalan lain, malah menyuruh kami turun dan mendorongnya. Awalnya terasa amazing dalam kondisi seperti itu tapi ketika setengah jam berlalu dan kami terus mendorong sementara yang terlihat di depan mata hanya hamparan air, kami pun mulai kelelahan. Akan sampai dimana harus mendorong?

Tiba-tiba langit mendung, dan tanpa bisa dicegah byuuur....hujan turun. Kami masih terdampar di tengah genangan air dan lumpur. Lapar melanda. Tak ada bekal makanan yang memadai. Hanya tersisa popmie. Karena saking laparnya, teman saya nekad merendamnya dengan air dingin. Hahaha.

Nipah Panjang, Dua Jam Kemudian...
Dua jam kemudian, setelah basah kuyup bermandikan lumpur dan air hujan, akhirnya kami sampai di air agak dalam dan boat pun mulai bisa berjalan. Sampai di Nipah Panjang disambut hujan deras sederas-derasnya. Sempat ngeri membayangkan perjalanan sungai yang masih harus kami tempuh. Tapi setelah melewati lautan yang keras, rasanya perjalanan sungai bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Seperti perjalanan ketika berangkat, kami naik boat sampai di Suak Kandis, kemudian disambung dengan mobil sampai Jambi. Menjelang petang kami sampai di Jambi. Karena kelaparan, kami tempat pertama yang kami cari adalah tempat makan. Akhirnya kami memutuskan makan di warung penyetan. Meski rasanya biasa saja, kami makan dengan rakus. Sepanjang sisa perjalanan, kami tak henti tertawa mengenangkan kejadian yang telah kami lewati. Terdampar di lautan lumpur, mendorong kapal, didera hujan benar-benar terasa konyol tapi juga mengesankan. Hmmm, liburan yang menyenangkan! :D ***

Catatan:


* Pada tahun 2011 Pulau Berhala yang dalam status quo. Selama menunggu kepastian, dilarang dilakukan pembangunan di pulau ini oleh kedua belah pemprov. Namun konon Kepri terus melakukan pembangunan dan menurut saya masuk akallah karena memang disana ada penduduk yang bermukim. Keputusan Mendagri nomor 44 tahun 2011, menyebutkan Pulau Berhala masuk wilayah Jambi (Pemerintah Kabupaten Tanjungjabung Timur), namun hal ini kemudian digugat oleh pemerintah Kepulauan Riau dan dimenangkan di MK. Yah, apapun, tokh masih dalam wilayah satu negara. Di bawah provinsi manapun, semoga selalu dilakukan yang terbaik untuk masyarakat di sana.


Rute Jalan dari Jambi-ke Pulau Berhala:

1. naik angkot ke suak kandis (di depan Ramayana): Rp.25.000 (sekitar dua jam)
suak kandis-nipah panjang: naik boat sekitar dua jam (25.000)
nipah panjang-berhala : sewa boat: 1,5-2 juta pp.

2. naik boat dari ancol (belakang ramayana) - nipah panjang: 50-60 ribu sekali jalan.
nipah panjang-berhala: sewa boat: 1,5-2 juta pp.

- Berangkat pagi dari jambi kalau nggak mau nginap di nipah panjang. Untuk penyewaan boat, bisa cari-cari info di belakang WTC. Yang jelas, semakin banyak orang semakin murah.
- Bisa juga naik mobil dari Jambi ke Muara Sabak (ibukota kab. Tanjung Jabung Timur), perjalanan sekitar 2 jam, terus dari Muara Sabak baru nyeberang. Berapa lama dan berapa biaya, saya kurang paham karena belum nyoba dan rute ini juga nggak terlalu populer

*Perjalanan ini dilakukan pada pertengahan tahun 2011. Sekitar dua tahun saya mendengar tentang rencana penyediaan transportasi untuk wisata ke Pulau Berhala oleh Pemkab Tanjabtim, tapi dengan berubahnya keputusan bahwa Pulau Berhala kemudian masuk Kepri, saya nggak tahu apa rencana ini jadi terealisasi atau tidak.



Pulau Berhala, Surga Kecil Yang Menenangkan (2)

Menuju Pulau Berhala
Masih pagi benar ketika kami dibangunkan oleh Datuk (kami tak menyangka bahwa dia akan menjadi guide kami mengingat usianya yang terlihat sudah cukup uzur). Di luar masih gelap. Kami diminta bersiap, karena kita akan berangkat pagi-pagi. kata si Datuk. Meski di perjanjian awal kami sepakat untuk tak disediakan makan, sebagai konsekuensi pengurangan harga, ternyata si Bapak sepertinya tak tega melihat kami dan usai mandi, tahu-tahu kami sudah disiapkan masing-masing seporsi nasi uduk.

Matahari muncul dengan berbinar-binar ketika kami sampai di dermaga. Kehidupan pinggir sungai terasa eksotis sekali di saat seperti itu. Boat melaju, mengarungi sungai. Kali ini saya merasa lebih tenang karena boatnya sedikit lebih besar, dan juga disediakan pelampung. Di sisi lain, mungkin saya juga mulai terbiasa melihat air. Sekitar 15 menit kemudian, terhampar air yang seolah tak berbatas. Laut.
Biarpun cengengesan di depan kamera, sebenarnya sudah ketar-ketir

Laut terlihat tenang tapi semakin ke tengah, saya mulai gelagepan. Boat mulai bergoncang hebat ketika menghantam air beriak. Saya miris membayangkan ketika tiba-tiba boat terbalik dan bluppp....kami terlempar ke tengah lautan yang entah berapa dalamnya. Meski ada pelampung, saya tak tahu seberapa 'ampuh' benda itu bisa melindungi dari kegelapan air. Di tengah hamparan lautan yang seolah tak berbatas, saya benar-benar selalu merasa kecil dan tak berdaya.

Pulau Berhala: Tanah Datuk Berhalo Yang Menjadi Sengketa
Saya menarik nafas lega, ketika satu jam kemudian, terlihat bayangan kelabu sebuah pulau. Pulau Berhala, pulau yang kami tuju. Tadinya saya pikir butuh waktu sekitar 2 jam ke sana, tapi ternyata baru satu jam sudah sampai.


Dalam beberapa menit kemudian, kami sudah melihat hamparan hijau air laut yang tenang dan bebatuan yang bertebaran juga dermaga kayu yang sepi. Kami sudah sampai, disambut pemandangan berupa hamparan daratan yang ditumbuhi alang-alang dan semak, beberapa pohon kelapa yang  menjulang dan bangunan yang terbengkelai. Suasananya terkesan sunyi dan tak terawat. 

Seorang lelaki datang, cukup hangat menyambut kami dan membawa kami ke sebuah bangunan terbuka, semacam pendopo yang memang disediakan untuk para tamu. Di belakang pendopo, ada beberapa rumah kayu yang tampak lengang. Seorang mbak-mbak, istri si lelaki yang kemudian kami ketahui sebagai orang Sunda, ikut menyambut kami. Dari cerita-cerita sambil melepas lelah, kemudian kami ketahui kalau rumah-rumah kayu itu disediakan oleh pemda Jambi untuk mereka yang diharapkan menjadi penghuni pulau ini. Mungkin ada sekitar 10 rumah. Tapi sekarang, hanya tinggal satu yang berpenghuni. Keluarga si Mbak yang tetap bertahan.
Beberapa fasilitas yang dibangun dan terbengkelai

Bisa dimaklumi, tentu berat bagi orang yang terbiasa hidup di Pulau Besar untuk tinggal di pulau kecil nan sunyi dan terisolir begini. Di sisi lain, ada juga beberapa penghuni yang memilih pindah ke bagian lain pulau ini, perkampungan kecil yang disediakan oleh Provinsi Kepri yang menyediakan lebih banyak fasilitas.

Yah, Pulau Berhala memang menjadi sengketa dua Provinsi: Jambi dan Kepri. Saling klaim kepemilikan. Ketika perjalanan ini saya lakukan, pulau masih dalam status quo tapi setelah sebelumnya masuk Prov. Jambi. Secara akses pulau ini memang lebih dekat ke Jambi dan adanya Makam Datuk Berhalo juga menjadi salah satu legitimasinya. Namun menurut peta yang dibuat jaman Belanda, wilayah pulau ini konon masuk ke Kepri. Selama masa status quo, kedua belah pihak dilarang melakukan pembangunan. Namun Kepri gencar menyediakan fasilitas seperti listrik, sekolah dan puskesmas untuk Kampung Kepri. Dan tahun 2013 lalu, akhirnya Kepri memenangkan gugatan di MK. Pulau Berhala pun masuk ke Kepri. Aneh rasanya melihat persengkataan ini, mengingat sama-sama masih dalam satu negara. Saya sendiri tak paham, apa sebenarnya potensi yang tersimpan di pulau ini sehingga terjadi perebutan semacam itu.

Menikmati 'Surga Kecil" yang Menenangkan
Suasana pulau benar-benar terasa tenang ditambah lagi cuaca sangat cerah. Kekhawatiran kami bahwa pulau ini akan ramai ketika musim liburan, ternyata tak terbukti. Sepertinya kamilah satu-satunya rombongan yang berwisata ke sana saat itu.
Pulau Berhala dengan hamparan pantai berair biru kehijauan

Meski matahari pagi sudah begitu terik bersinar, kami segera berkeliling menyusuri pinggir pantai yang sedang surut, melompat dari batu ke batu. Bernarsis ria di depan kamera. Sesekali kami berteduh di balik gundukan karang sambil menikmati ketenangan pantai. Di ujung, ada gundukan bebatuan yang kokoh menjulang, dan berdiri di sana, rasanya menakjubkan. Nyaman sekali duduk di sana berlama-lama, menatap lautan luas yang terasa begitu menenangkan. Saya membayangkan, menyenangkan mungkin menghabiskan beberapa waktu di sini, bermalasan, menatap lautan, menatap langit biru, merasakan hembusan angin beraroma laut, membaca, menulis...hmm...Rasanya benar-benar luar biasa!

Surga kecil yang tenang

Kami kemudian mengelilingi pulau yang memang hanya perlu waktu tak lebih dari dua jam (luas pulau ini hanya 2,5 Km persegi). Kami melewati perkampungan Kepri yang jaraknya cuma beberapa meter dari pendopo Jambi. Suasananya terlihat semarak dan hidup, sebagai umumnya perkampungan nelayan. Kontras dengan bagian Jambi yang terbengkelai.
Lelah berkeliling, kami mampir ke rumah penduduk untuk mencari kelapa muda. Penduduk di sini cukup hangat dan enak diajak bicara. Senang mendengar logat bicara Melayu mereka yang begitu kental.
(Foto oleh Bang Nopri H)

Menikmati kelapa muda yang baru dipetik dari pohon di tengah siang yang terik benar-benar terasa nikmat. Dan karena perut sudah mulai lapar, kami memutuskan untuk kembali ke pendopo yang selanjutnya menjadi penginapan kami. Lagi-lagi, ternyata si Datuk sudah menyediakan makan. Alih-alih menjadi guide, dia justru bak datuk sungguhan bagi kami, memperlakukan kami seperti cucu-cucunya saja.

Kenyang dan kelelahan kami ketiduran.

Sore, air mulai bergerak pasang. Kami memutuskan untuk main air. Mandi-mandi di pinggiran karena saya tak berani ke tengah karena takut tenggelam :(. Kami teriak-teriak, main ciprat-cipratan, lempar-lemparan pasir...bener-bener holiday!
Yeah, it's HOLIDAY!!

Usai mandi sedianya ingin melihat sunset, tapi sunset ada di belakang pulau dan cuaca mendung. Pasti sunsetnya tak akan terlalu bagus. Saya pun memutuskan tinggal di pendopo sementara sebagian dari kami tetap ingin melihat sunset.

Saya dan teman saya kemudian mencari ikan di Kampung Kepri untuk dibakar malam-malam. Sayang tak ada ikan yang cukup bagus, karena yang bagus sudah dijual ke seberang. Tapi cukuplah.

Menjelang malam, ternyata angin bertiup semakin kencang. Langit juga sangat mendung. Kami mulai agak kecewa karena sudah membayangkan alan menikmati malam yang cerah di pinggir laut sambil main api unggun.
Acara bakar-bakar ikan yang alakadarnya karena cuaca buruk

Meski begitu, di tengah angin yang tak henti menderu-deru, kami tetap nekad membakar ikan di celah-celah batu agar apinya tak padam. Usai bakar-bakar, hujan benar-benar mulai turun. Kami menyantap makan malam kami dengan menu ikan bakar ala kadarnya. Rasanya kurang memuaskan, ditambah lagi cuaca yang benar-benar mulai tak kondusif membuat kami memutuskan untuk istirahat cepat-cepat. Apalagi suasana nyaris gelap gulita karena kami hanya mengandalkan penerangan dari lilin (sebenarnya ada genset yang disediakan untuk pengunjung, tapi harus membayar jika ingin menyalakannya). Rencana tidur di tenda juga batal, karena setiap kali tenda di pasang, angin kencang bertiup dan siap menerbangkannya.
(Bersambung)


Pulau Berhala, Surga Kecil Yang Menenangkan (1)

Sulitnya Informasi
Waktu itu, long weekend (Kamis-Minggu) dan suntuk mau bagaimana mengisinya. Rencana pertama memang ke pulau berhala, tapi maju mundur karena minimnya informasi yang berhasil kami dapatkan. Meski namanya cukup populer bagi masyarakat Jambi, tapi ternyata tidak demikian dengan akses ke sana. Satu-satunya cara kesana adalah dengan mencarter speed boat, tapi beberapa teman yang sudah pernah kesana, kerena berombongan tak terlalu paham detailnya. Baik kontak yang menyewakan maupun harganya.

Saya pun kemudian coba browsing di internet, karena berpikir bahwa apa sih zaman sekarang yang nggak ada di internet? Ternyata eh ternyata, sangat sedikit informasi yang tersedia. Paling lebih pada berita tentang sengketa Pulau Berhala atau sejarahnya, tapi bukan tentang bagaimana cara kesana. Dari informasi yang sedikit itu, saya nemu blog yang sangat sederhana, berisi info penyewaan kapal kalau mau ke Pulau Berhala.

Iseng saya telpon, ternyata langsung nyambung.
    "Iya penyewaan kapal ke Berhala," kata Bapak-bapak penerima di seberang. Saya langsung tanya harganya berapa? Setelah penjelasan yang panjang dan terasa bertele-tele ia memberikan harga yang cukup membuat saya ingin segera menutup telepon:
    "Kemarin kita habis bawa juga, untuk rombongan, 50 orang, 27 juta!" Apa?! 27 Juta?! Kepala saya langsung kliyeng-kliyeng. Harga yang gila.
    "Tapi kami cuma 5 orang," Ujar saya. Dan setelah ngomong ini itu, dia berjanji mau mencarikan paket untuk jumlah yang kecil. Meski begitu, saya tetap pesimis bisa dapat harga yang cukup masuk akal setelah penyebutan angka yang fantastis itu.

Peta Pulau Berhala (gambar diambil dari www.fotografer.net)

Persiapan yang 'Mendadak Dangdut'
Saya dan teman-teman kemudian berusaha mencari-cari informasi lagi. Ada seorang kenalan, tapi keteika dihubungi tak diangkat. Kami nyaris menyerah, ketika pagi-pagi, ternyata si Bapak menelpon lagi. Dia menawarkan harga Rp. 800.000,- per orang. Totalnya: Rp. 4000.000. Tetap jumlah yang terasa   terlalu besar bagi kami. Kami pikir, setidaknya Rp. 500 ribu lah per orang. Setelah tawar menawar, akhirnya disepakati harga 650 ribu/orang. Alasannya, mereka harus menyewakan boat yang cukup mahal. Dari paket yang saya baca di internet, biaya sewa boat sebenarnya hanya sekitar 1,5-2 juta, ditambah transport dari Jambi ke Nipah panjang sekitar 150.000 pp. Dan meski harga yang yang disepakati itu mahal, tapi karena kami benar-benar merasa antusias untuk ke Pulau Berhala, kami merasa tak keberatan dengan harga itu.

Kami janjian berangkat pukul 2 siang. Cukup panik mempersiapkan ini itu dalam waktu sesingkat itu. Dalam bayangan kami, Pulau Berhala adalah pulau terpencil yang nggak ada apa-apa. Jadi kami harus mempersiapkan banyak barang, terutama bahan makanan dan tenda.

Menuju Suak Kandis-Nipah Panjang
Kami bertemu Si Penyenggara di depan mall WTC,  pukul 2 lewat karena agak kelamaan di angkot. Langsung diangkut mobil menuju Suak Kandis (sekitar 3 jam). Begitu turun di Suak Kandis, kami disambut abang-abang dan dibawa ke speed boat.

Beberapa menit kemudian kami sudah terguncang-guncang di atas speed boat kecil, mengarungi hamparan sungai Batanghari. Hal yang membuat nyali saya ciut karena tidak ada pengaman (pelampung) dan saya tak bisa berenang. Sepanjang jalan, saya hanya merem-melek sambil berdoa dan berpikir, lain kali, saya harus membawa pelampung sendiri kalau hendak melakukan perjalanan air.
Nipah Panjang, perkampungan nelayan yang berbatasan langsung dengan Selat Berhala (foto oleh Bang Nopri H.)
Dua jam yang menyiksa akhirnya berakhir di Nipah Panjang, tempat perhentian terakhir. Sampai dermaga yang disandari banyak speed dan perahu, kami sudah dijemput ojek dan dibawa ke penginapan: sebuah rumah keluarga yang ternyata rumah keluarganya Bapak yang menjual paket ke kami. Cukup menyenangkan karena kami jadi bisa berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain, bukan seperti suasana sebuah penginapan. Si Bapak tua, yang kami panggil Datuk saja, pemilik rumah sangat antusias menyambut kami, mengajak kami mengobrol dengan hangat.

Malamnya, usai diajak makan malam bersama, kami mencoba melihat-lihat suasana malam di Nipah Panjang. Nipah Panjang merupakan kota kecamatan. Tadinya saya sempat membayangkan sebagai daerah antah berantah yang terisolir, tapi kenyataannya adalah kota kecil yang terlihat begitu semarak. Listrik, sinyal hp, saluran teve, toko-toko kecil... tak ada bedanya dengan kota-kota kecil di tempat lain.
(bersambung)