Menuju Bengkalis
Kami bangun pagi-pagi karena harus mengejar kapal pukul 7. Abang becak semalam sudah menunggu. Kami di antar ke loket di seberang jalan. Beli tiket. Ternyata ada shuttle busnya dari loket, tapi sudahlah, rejeki si Abang Becak.
Udara pagi tak terlalu segar di Dumai. Mungkin karena banyak pabrik di sini. Ada Wilmar di dekat pelabuhan, asapnya hitam dan menguarkan aroma busuk. Entah seperti apa kadar pencemaran udara dan air di tempat ini.
Kami sampai di pelabuhan, bergegas. Ternyata ada dua kapal, pukul 7 dan 7.15. Kami milih yang paling cepat. Kali ini ada nomor kursinya. Ferinya juga lebih besar dan bersih serta ac-nya bekerja dengan baik. Saya bahkan agak kedinginan sepanjang perjalanan.
Perjalanan Dumai-Bengkalis memakan waktu 2 jam saja. Sampai di Bengkalis, pelabuhannya cukup besar tapi sangat lengang. Kami keluar, cari becak motor. Tujuan pertama kami adalah kantor BPS. Ongkosnya Rp. 15.000.
Sampai di BPS, kami disambut dengan cukup hangat oleh pegawainya dan langsung di bawa ke pihak yang bersangkutan. Pegawai lelaki muda yang cukup welcome. Tanpa banyak tanya, dia langsung ngasih saja apa yang kami butuhkan. Dari obrolan basabasi, kami ketahui kalau ternyata kampung halamannya berdekatan dengan tempat tinggal saya di Bantul sono.
Usai dari BPS kami mencari makan di warung makan khas Melayu. Menunya masih segar dan rasanya juga lumayan sehingga kami makan dengan lahap.
Kami kemudian singgah ke Kantor Dinas Sosial, hendak menemui Kasi KAT-nya tapi ternyata sedang tak ada di tempat. Sama pegawainya kami suruh nelpon sendiri, tapi ternyata si Kasi tak akan kembali ke kantor padahal hari belum lagi tengah hari. Alasannya, karena waktu itu menjelang long weekend. Nah, lho apa hubungannya? Menyebalkan sekali. Padahal katanya semua data sama dia. Ini persoalan klise kalau mengunjungi kantor pemerintahan. Rasanya jengkel sekali karena orang-orang itu dibayar oleh pajak masyarakat dan seharusnya memberi pelayanan yang maksimal bukannya sok elit begitu.
Tujuan Berikut: Pulau Padang
Kami kemudian naik becak motor ke pelabuhan untuk mencari kapal ke Pulau Padang. Udara Bengkalis terasa begitu menyengat kulit. Tapi orang-orang di pulau itu, mungkin karena sudah terbiasa, tampak santai saja.
Kami sampai di dermaga. Dermaganya kecil saja dan terkesan apa adanya. Kami membayar 50 ribu untuk menyeberang. Kami naik ke atas boat. Satu per satu penumpang lain berdatangan. Orang-orang pulau yang mungkin berbelanja ke Bengkalis ini.
Agak lama baru boat berangkat. Melewati perairan selat yang agak bergelombang. Sebentar saja sudah menyusuri pingiran pulau. Dermaga-dermaga kecil yang lengang yang masih dilingkupi semak belukar. Sepertinya pulau ini jauh lebih ‘terbelakang’ di banding pulau-pulau yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Ironis juga karena pulau ini justru letaknya lebih dekat dengan pulau besar Sumatra. Pulau-pulau yang lebih dekat dengan negara tetangga sepertinya justru lebih ramai dan maju. Pantas saja kalau orang-orang pulau ini nasionalismenya kurang.
Pemberhentian kami di dermaga Bendol. Nama yang aneh. Dermaganya agak lebih ramai dari dermaga-dermaga sebelumnya yang kami lewati. Seorang bapak menwari kami ojek, tapi karena tujuan kami belum terlalu jelas, kami memutuskan istirahat dulu di warung sembari mencari-cari informasi.
Setelah kapal pergi, dermaga benar-benar sepi. Barisan ruko di depan dermaga terlihat tutup. Hanya ada satu dua warung-warung reot yang menjual makanan alakadarnya. Kami singgah di warung penjual miso dan es campur. Kami mulai ngobrol-ngobrol. Suku Asli konon banyak tinggal di Selat Akar, bagian belakang pulau ini. Lalu beberapa lelaki datang, ikut nimbrung cerita tentang Suku Asli. Ada juga seorang lelaki berkulit gelap yang mengaku keturunan Suku Asli. Dia berceloteh panjang pendek tentang Suku Asli yang tinggal di pulau seberang, Pulau Rangsang. Konon, di pulau itu adat istiadat mereka masih kuat. Tapi setelah dikorek-korek, sepertinya mereka sudah cukup maju juga.
Suku Asli di Selat Akar
Setelah beberapa saat, akhirnya kami memutuskan naik ojek ke Selat Akar. Cuaca mendung seolah mau hujan. Kami menelusuri jalan coran seperti di Penyalai meski kondisinya jauh lebih bagus. Kanan kiri jalan juga mirip di Penyalai, semak dan berawa. Agak lama juga baru sampai Selat Akar.
Kami berhenti di depan sebuah bangunan sederhana dengan tulisan "balai gendong,". Belakangan, kami tahu bahwa itu semacam sanggar untuk belajar tari gendong, tari tradisional Suku Asli. Nuansa tradisionalnya cukup kental di sini. Tapi seperti di pulau lain, mereka sudah terasimilasi ke budaya Tionghoa yang tampak dari tempelan-tempelan di depan pintu rumah mereka.
Pak Batin sedang pergi, jadi kami diketemukan dengan adiknya, lelaki tua berkulit gelap dengan wajah yang cukup khas. Kami diajak ke rumahnya, rumah panggung sederhana dengan berbagai tempelan tionghoa tentunya. Anak-anak bermain di halaman rumah itu, sepertinya cukup heran dengan kehadiran kami. Saya memperhatikan mereka, wajah mereka tak terlalu khas. Sama halnya dengan anak-anak keturunan Melayu pada umumnya.
Kami mengobrol sekilas dan karena si Bapak sepertinya kurang memahami pertanyaan kami, kami kemudian ke rumah Pak D, perangkat kampung yang berada di seberang jalan. Rumah Pak D ini kuat sekali kesan Tionghoa-nya dan anak-anak yang ada di depan rumah itu juga berwajah keturunan. Lalu Pak D muncul. Seorang lelaki kurus kecil dengan gigi ranggas, seperti banyak orang yang kami temui di pulau ini. Pastilah karena buruknya air bersih di pulau ini.
Mitos 3 Dunia ala Pak D
Pak D sangat cerewet meski isinya tak jelas. Saya bertanya tentang asal-usul orang asli, dia antusias menjawab. Tadinya saya pikir dia sungguh-sungguh dan bagi saya ini menarik karena sejauh ini belum ada yang bisa cerita soal itu dengan gamblang.
"Jadi begini," Pak D mulai cerita. "Ada 3 dunia. Dunia pertama, ada kakak adik, sumbang. Kemudian dunia dileburkan. Lalu ada dua beruang, kakak adik, kalau siang mereka mencari rotan... Sumbang, dileburkan..." Lantas apa hubungannya? Pak D mengulang ceritanya tentang dunia pertama dileburkan. Lalu bagaimana dengan dunia kedua dan dunia ketiga? Tapi sepertinya dia tak bisa melanjutkan ceritanya seperti yang saya harapkan. Dan saya mulai pusing mendengarnya. Sepertinya dia hanya membual saja. Sialan, padahal saya sudah serius mencatat.
Di tengah obrolan, datang lelaki muda bertubuh agak tambun dengan kulit gelap, cenderung legam. Dia cukup komunikatif dan bahasanya juga mudah dicerna. Namanya Pak A. Dia mengaku sebagai Suku Asli, meski ibunya keturuan Tionghoa. Hal yang membuat saya agak tak percaya. Apakah matahari pulau ini sudah membakar pigmennya? Dia juga cerita kalau ayahnya itu dari Rupat. Suku Akit. Tapi dia sendiri sepertinya enggan menyebut Suku Akit. Dia ngotot dengan sebutan Suku Asli. Menurutnya, Suku Asli lebih jelas asal-usulnya, sementara Suku Akit tidak.
Dia juga cerita kalau baru mengadakan pertemuan Suku Asli di Bengkalis dan akan mengadakan semacam festival Suku Asli. Ada bantuan pemerintah terkait pengembangan kesenian ini Suku Asli meski konon jumlahnya sangat sedikit. Cuma 2.5 juta pertahun kalau tak salah.
Anehnya, pemerintah sendiri sepertinya lebih mementingkan tetek bengek kecil seperti itu daripada memperhatikan kesejahteraan hidup Suku Asli ini. Mereka mengaku bermasalah secara ekonomi. Pak D berapi-api bicara soal lahan mereka sedikit, ada yang tak punya lahan malah. Seperti seperti kebanyakan suku-suku kecil di Sumatera ini, di masa lalu mereka agaknya menjalankan pola hidup semi nomaden sebagai pengambil hasil hutan saja tanpa ada semacam hak ulayat. Ketika sekeliling mereka sudah terbuka seperti sekarang ini, banyak orang luar berdatangan dan memiliki kebebasan mengolah lahan kosong di mana saja, siap mengambil setiap jengkal tanah di pulau ini. Padahal para pendatang ini umumnya lebih ulet dan agresif. Bisa dipahami kemudian jika Suku Asli akhirnya justru tak memiliki apa-apa di tanah sendiri. Idealnya sih pemerintah lebih memperhatikan hal-hal yang lebih penting seperti ini, memberi perlindungan hak-hak hidup Suku Aslim misalnya, daripada sekadar mengurusi soal menghidupkan kesenian Suku Asli. Tapi yah... seperti biasa, selalu tak banyak yang bisa diharapkan dari pemerintah negeri ini.
Dari obrolan dengan Pak D dan Pak A sendiri, tak ada kesan bahwa karena mereka sebagai Suku Asli lantas mereka berhak mendapat lebih atau memperjuangkan hak mereka. Bagus juga sih karena mereka ‘cinta damai’, begitu terbuka terhadap pendatang, tapi kasihan juga karena pada akhirnya mereka menjadi minoritas marjinal yang tergusur di tanah sendiri.
Setelah ngobrol panjang lebar, kami pamit. Minta tukang ojek untuk membawa kami mengitari desa sebentar. Kami melintasi tempat yang ditunjuk sebagai tempat tinggal Suku Asli yang masih suka pindah-pindah, membangun pondok-pondok kayu sederhana. Kalau dipikir-pikir, agak unik juga karena pulau ini kecil saja sehingga pindahnya ya di situ-situ saja. Jalan-jalannya sendiri sudah cukup bagus dan suasana perkampungan di sekitar tampak semarak. Ada panglong--tempat pembakaran arang yang umumnya dikelola para Keturunan Tionghoa, rumpun sagu, jajaran pohon bakau, pemukiman tepi pantai yang diisi orang-orang Melayu, tampak lengas dan kumuh... Saya tak terlalu bisa menikmati perjalanan karena tersiksa menahan buang air kecil.
Kami kembali ke warung semula. Saya buru-buru minta ijin numpang ke kamar mandi. Kamar mandinya adalah ruang kecil terpisah di bagian belakang rumah. WC-nya sangat praktis, lantai kayu yang dilobangi dan langsung bisa melihat air laut di bawah sana. Jika buang air, otomatis akan langsung nyemplung ke laut. Agak geli karena rumah panggung ini cukup tinggi sehingga ketika saya buang air kecil, suaranya cukup berisik ketika jatuh ke dasar. Tak terbayangkan jika buang air besar. Hihi.
Lanjut ke Sungai Dua
Setelah beristirahat sebentar, kami memutuskan untuk ke pulau seberang, Sungai Dua, yang konon selain dihuni Suku Asli, juga ada Suku Hutannya. Kami pergi ke dermaga di sisi lain pulau, untuk menyeberang ke Sungai Dua. Kami menyeberang dengan perahu mesin, sekitar 15 menit saja.
Dermaga Sungai Dua adahal hamparan kayu yang cukup luas dan bersih. Menyenangkan rasanya membayangkan berbaring-baring di sana menikmati udara laut sore hari. Tapi tentu saja, kami harus bergegas. Di kanan kiri dermaga adalah rumah-rumah kayu dengan tiang-tiang tinggi yang tampak agak kumuh. Kami sempat mendapat cerita tadi, kalau di Sungai Dua ini konon banyak kriminalnya. Dan mungkin karena cerita itu, saya jadi merasa agak was-was. Tapi suasana sekitar dermaga sendiri tampak biasa saja. Beberapa anak-anak dengan rambut kemerahan dan kulit gelap tampak asyik bermain. Kami bertanya pada kerumunan lelaki yang sedang membuat kapal di dekat dermaga tentang Pak N, orang yang konon tahu banyak tentang Suku Asli. Meski wajah mereka terkesan keras, tapi mereka cukup ramah. Salah satu bahkan mau mengantar. Yah, soal kriminalitas itu hanya stigma dari orang di seberang saja.
Kami melintasi jalan tanah yang lonyot di sana sini, di sisi kanan kiri adalah semak belukar pinggiran pantai dan genangan air gambut yang kecoklatan dan muram.
Kami sampai di rumah Pak N. Rumah beton sederhana dengan warung kecil di depan rumahnya. Ada anak-anak kecil berkumpul di sana. Mereka cukup ramah pada kami, selayaknya anak2 pada umumnya. Agak lama kami menunggu Pak N yang masih voli. Istrinya, yang ternyata orang Batak, kurang ramah pada kami. Mungkin sedikit curiga karena kedatangan kami yang tiba-tiba dan wajah kami yang pastinya sudah lusuh.
Menjelang petang baru Pak N pulang. Orangnya cukup komunikatif dan terkesan berwawasan, meski sepertinya masih menjaga jarak pada kami. Seolah dia masih tak yakin kami orang yang bisa dipercaya atau tidak. Tapi itu wajar mengingat kami baru bertemu, dari LSM pula yang mungkin di mata banyak orang sering dianggap sebagai pekerjaan tak jelas.
Pak N asli keturunan Suku Asli. Dia bercerita tentang kehidupan sukunya di masalalu. Ketika ia masih kecil dulu, bagiamana ‘terbelakangnya’ kehidupan mereka sebelum kemudian datang seorang pastor dari Italia, Pastor Vellaro. Si Pastor mengajari cara hidup bersih dan memperkenalkan pendidikan. Pak N menjadi semacam asistennya. Terlepas dari ajaran agama, saya semakin berpikir bahwa itu adalah hal yang baik. Misionaris adalah cara yang efektif untuk menjadikan hidup orang-orang yang kurang terakses menjadi ‘lebih baik’ kehidupannya. Apakah itu dibilang melanggar hak asasi segala macam, tapi saya yakin orang-orang itu, si pelaku, merasa beruntung dengan intervensi semacam itu.
Pak N mengatakan kalau Suku Asli itu konon nenek moyangnya berasal dari Siak, sebuah desa di muara Sungai Siak. Tapi ia tak bisa menjelaskan tentang mereka yang di Rupat. Sepertinya mereka memang tak punya hubungan lagi dengan sesama suku asli dari satu pulau dan pulau lainnya.
Setelah merasa cukup mendapat informasi, kami berpikir untuk kembali ke Bengkalis. Tadinya kami berpikir untuk menginap di Sungai Dua dan besok pagi baru ke Bengkalis, tapi dari obrolan kami mengetahui kalau kapal ke Pekan Baru dari Bengkalis berangkat pagi-pagi.
Pak N kemudian membantu kami mencarikan ojek. Seorang lelaki tua penjual sayur, orang Batak, tampak agak takjub mendengar kami mau ke Bengkalis malam-malam. Ia bahkan mengatakan bahwa perjalanan ke Bengkalis agak rawan karena lewat hutan-hutan. Gelap dan jalannya juga tak terlalu bagus. Jujur saya agak keder. Tapi mau bagaimana lagi?
Menuju Bengkalis dan Celotehan Bang Acin
Tukang ojek yang saya tumpangi adalah abang-abang keturunan Tionghoa, sebut saja Bang Acin. Seperti yang dibilang Pak Sayur, jalanan memang gelap dan beberapa bagian masih hutan, tapi pemukiman juga cukup banyak. Sebagian besar kondisi jalan buruk, aspal rusak yang cukup membuat tubuh terguncang-guncang. Menyiksa sekali, ditambah lagi, saya kebelet pipis dan lapar sekali. Ingin minta berhenti pipis di pinggir jalan, saya belum sepenuhnya percaya dengan Bang Acin.
Menghalau siksaan, saya mencoba mengobrol sama Bang Acin. Ternyata dia sangat senang bercerita. Logatnya adalah campuran antara logat Melayu dan Tionghoa yang terdengar berlagu. Dia cerita kalau ibunya keturunan Suku Asli dan ayahnya yang Tionghoa. Dia adalah salah seorang keturunan yang dianugerahi kemampuan untuk bisa mengobati orang, karena dia dirasuki semacam dewa yang ada di keluarganya. Pasiennya siapa saja dan bisa dari agama apa saja, termasuk orang Muslim.
Menurutnya, orang yang punya kemampuan seperti itu harus berhati bersih dan dia merasa senang karena 'dipilih' untuk emmilikinya. Dia berpikir, mungkin Dewa Cina lebih memilih dia daripada orang Cina asli karena hatinya yang lebih baik. Orang Cina asli terlalu materialistis, pelit, sementara dia sebagai keturunan, punya sifat lebih tanpa pamrih membantu orang lain yang diwarisi dari darah keturunan orang Asli. Saya tertawa saja mendengar ceritanya. Dan sepertinya dia sangat antusias cerita tentang kemampuannya ini, karena 2/3 perjalanan kami isinya adalah cerita dia hal itu.
Saya iya-iyain saja, meski rasanya sudah agak pusing dan mual menahan sakit di perut. Di perjalananan,kami melintasi rumah yang tengah mengadakan upacara kematian orang Tionghoa yang penuh lampion putih, kami berpapasan dengan orang-orang yang mengangkuti kayu malam-malam. Menurut Bang Acin, itu karena orang-orang itu mencuri kayu tersebut, yang sebenarnya di larang oleh Kehutanan. Kami melintasi hamparan ladang terbuka yang luas: sawit, semak belukar, kebun buah naga...
Itu milik para pejabat dari Bengkalis, kata Bang Acin. Lalu ada rumah dengan pesta pernikahan orang Tionghoa yang bernuansa merah, rumah-rumah keturunan Tionghoa yang tampak sederhana... kami sampai di jalan besar dengan kondisi jalan yang bagus. Saya menghela napas lega, sedikit siksaan berkurang dan bahkan sebentar lagi penderitaan ini akan segera berakhir.
Kami sampai di Bengkalis, langsung singgah di kedai makan. Tapi abang-abang ojek menolak makan dan hanya minum kopi saja. Kami membayar ojek, 200 ribu mengucap terimakasih dan berpisah. Mereka harus segera kembali ke Sungai Dua sebelum terlalu larut. Kami mencari penginapan untuk bermalam. Jatah uang kami sudah terbatas sehingga kami harus mencari penginapan yang benar-benar murah.
Penginapan Ala Pak Haji di Bengkalis
Kami tak memiliki referensi soal penginapan di kota ini, jadi kami jalan saja tanpa petunjuk yang jelas. Kami jalan ke arah pasar, yang ada hotel yang terkesan mahal. Jalan lagi dan akhirnya menemukan bangunan kayu sederhana bertuliskan 'penginapan'. Ada beberapa lelaki duduk-duduk sambil minum kopi. Seorang lelaki tua berpeci mendekati kami. Suami istri? Bukan. Dan belum apa-apa dia sudah menceramahi kami: dari masuk kamar sampai besok pagi, tak boleh saling menginjakkan kaki di kamar yang lain! Tentu saja tak masalah, tapi yang menjadi masalah kemudian adalah karena harus berbagi kamar mandi dengan penghuni lain. Yang benar saja. Itu lebih mengerikan daripada sekedar menginjakkan kaki di kamar lawan jenis karena saya menduga para penginap di sini adalah para pesinggah mungkin ABk yang jujur membuat saya berprasangka.
Kemudian dia menyarankan kami ke wisma di seberang, milik temannya, katanya, Pak Haji S. Dari luar, penginapannya agak lumayan bersih. Tarifnya ada yang 50 ribu, ada yang 100 ribu. Saya pilih yang 100 ribu karena kamar mandi dalam. Begitu masuk ke kamar, saya mendapati kamar yang lembab dan berbau apak, belum lagi kamar mandinya yang usang dan airnya bau karat. Tapi sudahlah. Saya berusaha mengabaikan semua itu dan tidur dengan nyenyak.
Menyusuri Sungai Siak, Menyusuri Jejak Kejayaan Masalalu
Pagi-pagi kami naik becak ke pelabuhan. Tukang becaknya menawarkan harga 15 ribu, kami tawar 10 ribu. Dia setuju, tapi merengut saja sepanjang jalan. Kami tanyai jawabya ogah-ogahan. Kami jadi merasa agak sebal. Kalau memang tak mau ya sudah, kok sewot tapi tetap ngantar.
Kami mencari tiket speed ke Pekan Baru. Ternyata satu kapal sudah penuh. Satu lagi tinggal satu bangku dan satu lagi di cap. Kami ambil saja. Harganya 145 ribu. Speednya kecil saja meski keadannya cukup bagus dan ac-nya dingin. Speed meluncur menyusuri Sungai Siak yang berair pekat. Di sebelah saya duduk seorang perempuan berdandan heboh, ketika saya ajak beramah tamah, dia tampak tak terlalu tertarik.
Karena bosan, saya berusaha tidur, tapi tak bisa tenang karena salah satu tujuan kami memilih perjalanan ini adalah karena ingin melihat Istana Siak, yang terletak di pinggir sungai. Saya lihat di peta, sedianya itu di pertengahan, tapi saya sendiri tak tahu dimana tepatnya jadi terus berjaga-jaga. Mengusir bosan saya memperhatikan 3 anak keturunan Tionghoa yang cantik-cantik, sibuk membaca majalah anak-anak sepanjang perjalanan. Mereka tampak sangat manis dan menikmati semua itu.
Perjalanan sekitar 3 jam. Pas di istana siak ternyata berhenti karena ada dermaga yang cukup besar. Tampak mesjid Siak yang megah dan beberapa bangunan sisa kerajaan yang bercorak khas Melayu. Sisa peradaban masa lalu. Tak urung saya pun membayangkan, betapa riuh rendahnya mungkin kehidupan sungai jaman kerajaan-kerajaan dulu.
Tak berapa lama, kami sampai di Pekan Baru. Mencari sarapan di warung makan depan pelabuhan sambil mendiskusikan tentang transportasi air. Jujur saya cukup terkesan dengan perjalanan barusan, dan juga perjalanan demi perjalanan yang telah kami tempuh beberapa hari ini. Perjalanan air, meski agak membosankan karena tak banyak yang bisa dilihat selama perjalanan, tapi kami sepakat bahwa transportasi air jauh lebih efektif. Tanpa macet, tak perlu biaya pemeliharaan jalan yang mahal. Bahwa negri ini dulunya dibangun oleh tranportasi air karena memang nyaris di setiap kota memiliki sungai-sungai besar. Lalu kenapa semua itu sekarang ditinggalkan? Pembangunan transportasi darat lah yang gencar dibangun, sementara transportasi air semakin ditinggalkan. Proyek para pembesar? Hmm, entahlah.
Usai makan, kami naik angkutan umum ke pusat kota untuk melanjutkan perjalanan ke tempat semula. Meski badan terasa penat karena terus bergerak kesana kemari selama beberapa hari ini, tapi ada rasa puas yang tak terperi. Menyinggahi pulau-pulau, melihat bagaimana kehidupan orang-orang di sana, bertemu dengan orang-orang baru, selalu memberi pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga. (***
* Perjalanan ini dilakukan pada pertengahan bulan Mei 2012
Laman
Tampilkan postingan dengan label Riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riau. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 21 Februari 2015
Negeri Seribu Pulau: Menjenguk Suku Akit (4)
Paginya, kami bersiap untuk menemui Pak Batin, semacam tetua adat. Kami keluar penginapan sekitar pukul 7, lalu mencari sarapan di warung dekat dermaga, milik keturunan Tionghoa. Kami sarapan nasi goreng yang sangat berminyak. Tapi cukuplah untuk mengisi perut.
Udara pagi di pulau ini ternyata tidak tak ada sejuk-sejuknya. Belum apa-apa tubuh terasa lembab berkeringat. Saya tak tahu apa memang begitu udara di Rupat yang memang daerah dataran rendah di tepi pantai, atau hanya pada musim-musim tertentu saja kelembaban begitu tinggi seperti ini. Tapi orang-orang sepertinya santai saja dengan udara seperti itu.
Kami jalan kaki ke rumah Pak Kades untuk menemui anak Pak Kades yang sedianya akan jadi pemandu kami. Seorang pemuda berwajah sangat Chinese dan cukup ramah. Kami dipinjami sepeda motor RX King untuk ke tempat Pak Batin, yang ternyata tak terlalu jauh.
Menimba Ilmu dari Pak Batin
Pak Batin tinggal di rumah kayu sederhana. Beliau sudah cukup tua, berkulit gelap dengan tatapan mata tajam dan garis wajah kuat. Bisa dibilang dia masih punya wajah yang ‘khas’. Beliau agak canggung menyambut kami, tapi ketika mulai mengobrol dia mulai terlihat rileks. Kami bertanya ini itu. Tentang ada istiadat Suku Akit. Ia kemudian menunjukkan sebuah buku tua yang berisikan sekelumit sejarah dan adat istiadat Suku Akit.
Kemudian kami mulai mengobrolkan tentang hutan. Hutan Samak merupakan perkampungan yang ditinggali oleh mayoritas Suku Akit dan sekarang sedang ada konflik dengan sebuah HTI yang akan menggusur lahan penduduk. Selain itu ada dua PT lagi, sawit dan akasia. Tapi konon tak berkonflik dengan masyarakat. Meski begitu, agak mengerikan juga membayangkan di pulau kecil seperti ini dipenuhi kebun sawit dan akasia yang kurang ramah lingkungan itu..
Hutan Samak
Usai dari Pak Batin, kami ke Hutan Samak. Sedikit terburu-buru karena harus mengejar speed ke Dumai pukul 1 siang nanti. Kami menyeberang meggunakan perahu mesin ke Hutan Samak di temani Pak Wakil Batin yang pendiam. Perjalananannya cuma 5 menitan karena memang hanya dipisahkan oleh laut selat yang kecil saja.
Kami sampai di Hutan Samak. Jangan bayangkan ‘seseram’ namanya, karena melibatkan kata "hutan", karena Hutan Samak adalah perkampungan biasa yang cukup ramai. Kami disuguhi pemandangan rumah-rumah kayu dengan tempelan-tempelan jimat bernuansa Tionghoa, beberapa ornag duduk2 di depan rumah, menatap kedatangan kami dengan sedikit heran. Tapi tatapan mereka adalah keheranan yang ramah.
Pak Wakil mengajak kami singgah di sebuah rumah kayu sederhana beratap rumbia. Di sini tinggal seorang nenek tua yang konon generasi tertua Suku Akit yang masih hidup di sini. Umurnya sekitar 80 tahun meski dari wajahnya dia tak terlihat setua itu. Seringkali, orang-orang jaman dulu tak terlalu tahu persisnya kapan lahir dan mengira-ira saja.
Wajahnya wajah melayu pada umumnya. Dia cukup ramah meski Bahasa Indonesianya terbatas. Kami mengobrol alakadarnya. Sebenarnya kami berharap bisa ke hutannya yang terletak di belakang kampung, tapi katanya cukup jauh ditambah cuaca panas menyengat yang membuat enggan.
Lalu kami berjalan-jalan masuk ke kampung. Melintasi jalan desa yang terik. Di salah satu rumah tampak keramaian kecil; ada pesta pernikahan. Suasananya ya pesta hajatan seperti di desa-desa umumnya. Orang-orang berkumpul, memasak, anak2 ramai...
Kami sampai di sekolah. Sudah sepi. Hanya ada gemuruh suara genset yang dinyalakan. Tapi tak ada orang. Sekolahnya sendiri sudah sangat layak. Sudah siang dan kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Panas semakin menyengat.
Kami sebenarnya ingin ke tempat orang Akit yang lain, di Selat Morong, dekat Batu Panjang, tapi ternyata tak ada ojek yang bisa mengantar kami. Jadilah kami berpikir untuk ke Dumai saja dulu berhubung logistik sudah mau habis dan tak ada ATM di sini. Rencananya dari Dumai kami akan menyeberang lagi ke Batu Panjang yang memang lebih dekat.
Kembali ke Dumai
Kami sempat makan siang di sebuah warung. Menunya lontong, milik seorang mbah-mbah berwajah Jawa. Tapi ketika saya ajak bicara Jawa, ia tak tak menanggapi meski sepertinya mengerti. Mbah ini sering menggumam-gumam sendiri, khas perempuan tua, tapi dia cukup komunikatif.
Karena Kades dan perangkat desa lain sedang ada acara di Kecamatan karena ada acara dengan bupati, kami pun hanya pamit lewat telepon.
Lalu kami menunggu boat di warung nasi goreng. Boat datang. Tak terlalu penuh dan boatnya lebih buruk dari yang kemarin, terkesan lebih tua dan rapuh tanpa ac, tapi tak buruk juga. Boat melaju, berguncang-berguncang menghantam ombak yang lumayan tinggi.
Ternyata boat singgah dulu ke Medang, kota kecamatan, untuk mengambil penumpang. Medang adalah pelabuhan kecil dengan beberapa boat yang bersandar. Boat bersandar sebentar, lalu kembali melanjutkan perjalanan, kembali terguncang-guncang. Beberapa kali boat berhenti di dermaga kecil untuk mengambil penumpang. Sekitar 2 jaman, kami sudah sampai Dumai.
Kami turun di pelabuhan kecil yang sepertinya khusus untuk boat-boat. Kusam dan kumuh. Kami keluar dengan tanpa petunjuk apapun, mendapati jalan raya kota Dumai panas dan berdebu. Kami memutuskan singgah di rumah makan karena teman saya merasa belum puas belum makan nasi. Kami singgah di warung Padang yang tampak tak terlalu bersih. Sembari makan, kami mencari informasi bagaimana cara ke Batu Panjang atau ke Bengkalis. Di kapal tadi, kami menimbang-nimbang untuk ke Bengkalis saja daripada kembali ke Rupat karena terkait tenggat waktu dan juga logistik. Tapi si pemilik warung mengaku tak tahu dan kami disarankan untuk ke loket penjualan tiket kapal saja. Dan itulah yang kemudian kami lakukan.
Kami naik angkot ke kantor penjualan tiket kapal Dumailine.Ternyata kapal ke Bengkalis adanya hanya besok pagi, pukul 7, harganya Rp. 70.000/orang. Ke Batu Panjang juga katanya tinggal ada yang besok pagi. Padahal harapannya kami bisa ke Batu Panjang sore ini, dan besok lanjut ke Bengkalis. Tapi sepertinya tak memungkinkan seperti itu. Seorang Bapak di loket menyarankan kami naik travel saja ke Bengkalisnya. Setiap saat ada, katanya. Perjalanan cuma 3 jam. Saya pikir itu ide yang masuk akal, karena saya pikir bermalam di Dumai dan menunggu waktu hingga besok pagi hanya buang-buang waktu.
Kami kemudian diantar ojek ke loket travel. Karena tahu kami pendatang, dia seenaknya saja pasang tarif Rp.10.000, padahal jaraknya ternyata tak sampai lima menit. Ternyata juga si tukang ojek tak terlalu paham loket travel karena yang ada hanya mobil charteran dan kami tak mungkin mencharter mobil ke Bengkalis. Karena tak memiliki banyak informasi, akhirnya kami memutuskan untuk menginap saja. Kebetulan di dekat-dekat situ lumayan banyak penginapan karena dekat pelabuhan. Dari luar sih kelihatan cukup layak, tapi ternyata setelah di lihat dalamnya banyak yang kumuh dan bernuansa 'mesum.'
Setelah melihat-lihat beberapa penginapan, akhirnya kami memutuskan menginap di sebuah penginapan sederhana tapi cukup bersih seharga Rp. 75.000 per kamar. Kamarnya sederhana sekali tapi cukup layaklah meski aku masih dibayangi ketidaknyamanan di kota ini.
Menikmati Malam yang Semarak di Dumai
Setelah mandi kami memutuskan keluar untuk mencari makan dan warung internet karena ada beberapa hal yang harus di cek di email.
Kami jalan kaki saja tanpa tujuan yang jelas. Dumai di malam hari terasa lebih ramah. Saya memutuskan singgah di warung mie Aceh pinggir jalan yang kami lintasi. Warungnya berada di sudut kecil yang terkesan cukup hangat tapi ketika disajikan, ternyata mi-nya biasa saja. Sangat berlemak dan rasanya dominan penyedap rasa. Kami juga sempat mencobai air akar yang dijual bapak tua dengan gerobak kayunya. Minuman yang dijualnya di kemas dalam botol-botol sehingga terlihat sangat khas. Namanya air akar. Saya penasaran. Setelah diminum ternyata: cincau! Bedanya hanya dicampur susu dan es.
Kami jalan lagi, mampir ke warnet sebentar. Warnetnya merangkap sebagai game online, yang isinya anak-anak muda yang main game, membunyikan sound sekeras-kerasnya, berbau rokok dan keringat cowok. Sama sekali bukan tempat yang nyaman. Kami cuma sebentar saja, lalu tanya-tanya pusat keramaian kota ini. Ada satu tempat namanya Ombak, kata pramuniaga toko. Karena sudah mulai lelah jalan kaki, kami pun memutuskan naik becak. Ongkosnya Rp. 10.000.
Tukang becaknya bapak-bapak yang belum terlalu tua dan enak diajak ngobrol. Dia mengaku dari Bangkinang, lama dia di Malaysia kerja bangunan. Konon dia terlibat dalam pembangunan KLCC dulu.
"KLCC itu dibangun oleh orang-orang Indonesia," ujarnya. Saya sempat surprise tapi kemudian berpikir, apa itu patut dibanggakan? Jadi buruh di negri orang? Kita jadi arsiteknya itu hebat, tapi jadi buruh kasarnya? Hmm...
Dia lama di sana, lama di sini, pokoknya fasih dia cerita. Dia cerita kalau di Ombak ada swalayan yang menjual makanan-makanan Malaysia, sembari menyebut merek-mereknya, seolah aneka makanan itu memiliki gengsi tersendiri...
Ternyata Ombak lumayan jauh dan kami merasa ongkos 10 ribu yang Bapak itu pasang terlalu murah. Merasa kasihan, kami tambah 5 ribu dan dia tampak senang. Dia menyarankan agar nanti kalau kami hendak pulang untuk naik dia lagi dan dia memberi nomor ponselnya.
Ombak, tak seperti yang kami bayangkan berupa Pujasera atau semacamnya. Itu adalah sebuah jalan memanjang yang di kanan kiri adalah penjual makanan. Makanannya pun tak khas, jajanan PKL pada umumnya: martabak bangka, mie rebus, mie goreng, nasi goreng, sate... ada satu dua seafood itu pun penuh sesak. Jalanannya juga tak nyaman. Bercampur dengan toko-toko kelontong, tambal ban, dan tak ada trotoar sehingga tak nyaman untuk pejalan kaki. Tak ada yang terlalu menarik. Kami memutuskan untuk singgah ke swalayan mencari beberapa makanan ringan. Teman saya kemudian makan sate.
(bersambung)
Udara pagi di pulau ini ternyata tidak tak ada sejuk-sejuknya. Belum apa-apa tubuh terasa lembab berkeringat. Saya tak tahu apa memang begitu udara di Rupat yang memang daerah dataran rendah di tepi pantai, atau hanya pada musim-musim tertentu saja kelembaban begitu tinggi seperti ini. Tapi orang-orang sepertinya santai saja dengan udara seperti itu.
Kami jalan kaki ke rumah Pak Kades untuk menemui anak Pak Kades yang sedianya akan jadi pemandu kami. Seorang pemuda berwajah sangat Chinese dan cukup ramah. Kami dipinjami sepeda motor RX King untuk ke tempat Pak Batin, yang ternyata tak terlalu jauh.
Menimba Ilmu dari Pak Batin
Pak Batin tinggal di rumah kayu sederhana. Beliau sudah cukup tua, berkulit gelap dengan tatapan mata tajam dan garis wajah kuat. Bisa dibilang dia masih punya wajah yang ‘khas’. Beliau agak canggung menyambut kami, tapi ketika mulai mengobrol dia mulai terlihat rileks. Kami bertanya ini itu. Tentang ada istiadat Suku Akit. Ia kemudian menunjukkan sebuah buku tua yang berisikan sekelumit sejarah dan adat istiadat Suku Akit.
Kemudian kami mulai mengobrolkan tentang hutan. Hutan Samak merupakan perkampungan yang ditinggali oleh mayoritas Suku Akit dan sekarang sedang ada konflik dengan sebuah HTI yang akan menggusur lahan penduduk. Selain itu ada dua PT lagi, sawit dan akasia. Tapi konon tak berkonflik dengan masyarakat. Meski begitu, agak mengerikan juga membayangkan di pulau kecil seperti ini dipenuhi kebun sawit dan akasia yang kurang ramah lingkungan itu..
Hutan Samak
Usai dari Pak Batin, kami ke Hutan Samak. Sedikit terburu-buru karena harus mengejar speed ke Dumai pukul 1 siang nanti. Kami menyeberang meggunakan perahu mesin ke Hutan Samak di temani Pak Wakil Batin yang pendiam. Perjalananannya cuma 5 menitan karena memang hanya dipisahkan oleh laut selat yang kecil saja.
Kami sampai di Hutan Samak. Jangan bayangkan ‘seseram’ namanya, karena melibatkan kata "hutan", karena Hutan Samak adalah perkampungan biasa yang cukup ramai. Kami disuguhi pemandangan rumah-rumah kayu dengan tempelan-tempelan jimat bernuansa Tionghoa, beberapa ornag duduk2 di depan rumah, menatap kedatangan kami dengan sedikit heran. Tapi tatapan mereka adalah keheranan yang ramah.
Pak Wakil mengajak kami singgah di sebuah rumah kayu sederhana beratap rumbia. Di sini tinggal seorang nenek tua yang konon generasi tertua Suku Akit yang masih hidup di sini. Umurnya sekitar 80 tahun meski dari wajahnya dia tak terlihat setua itu. Seringkali, orang-orang jaman dulu tak terlalu tahu persisnya kapan lahir dan mengira-ira saja.
Wajahnya wajah melayu pada umumnya. Dia cukup ramah meski Bahasa Indonesianya terbatas. Kami mengobrol alakadarnya. Sebenarnya kami berharap bisa ke hutannya yang terletak di belakang kampung, tapi katanya cukup jauh ditambah cuaca panas menyengat yang membuat enggan.
Lalu kami berjalan-jalan masuk ke kampung. Melintasi jalan desa yang terik. Di salah satu rumah tampak keramaian kecil; ada pesta pernikahan. Suasananya ya pesta hajatan seperti di desa-desa umumnya. Orang-orang berkumpul, memasak, anak2 ramai...
Kami sampai di sekolah. Sudah sepi. Hanya ada gemuruh suara genset yang dinyalakan. Tapi tak ada orang. Sekolahnya sendiri sudah sangat layak. Sudah siang dan kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Panas semakin menyengat.
Kami sebenarnya ingin ke tempat orang Akit yang lain, di Selat Morong, dekat Batu Panjang, tapi ternyata tak ada ojek yang bisa mengantar kami. Jadilah kami berpikir untuk ke Dumai saja dulu berhubung logistik sudah mau habis dan tak ada ATM di sini. Rencananya dari Dumai kami akan menyeberang lagi ke Batu Panjang yang memang lebih dekat.
Kembali ke Dumai
Kami sempat makan siang di sebuah warung. Menunya lontong, milik seorang mbah-mbah berwajah Jawa. Tapi ketika saya ajak bicara Jawa, ia tak tak menanggapi meski sepertinya mengerti. Mbah ini sering menggumam-gumam sendiri, khas perempuan tua, tapi dia cukup komunikatif.
Karena Kades dan perangkat desa lain sedang ada acara di Kecamatan karena ada acara dengan bupati, kami pun hanya pamit lewat telepon.
Lalu kami menunggu boat di warung nasi goreng. Boat datang. Tak terlalu penuh dan boatnya lebih buruk dari yang kemarin, terkesan lebih tua dan rapuh tanpa ac, tapi tak buruk juga. Boat melaju, berguncang-berguncang menghantam ombak yang lumayan tinggi.
Ternyata boat singgah dulu ke Medang, kota kecamatan, untuk mengambil penumpang. Medang adalah pelabuhan kecil dengan beberapa boat yang bersandar. Boat bersandar sebentar, lalu kembali melanjutkan perjalanan, kembali terguncang-guncang. Beberapa kali boat berhenti di dermaga kecil untuk mengambil penumpang. Sekitar 2 jaman, kami sudah sampai Dumai.
Kami turun di pelabuhan kecil yang sepertinya khusus untuk boat-boat. Kusam dan kumuh. Kami keluar dengan tanpa petunjuk apapun, mendapati jalan raya kota Dumai panas dan berdebu. Kami memutuskan singgah di rumah makan karena teman saya merasa belum puas belum makan nasi. Kami singgah di warung Padang yang tampak tak terlalu bersih. Sembari makan, kami mencari informasi bagaimana cara ke Batu Panjang atau ke Bengkalis. Di kapal tadi, kami menimbang-nimbang untuk ke Bengkalis saja daripada kembali ke Rupat karena terkait tenggat waktu dan juga logistik. Tapi si pemilik warung mengaku tak tahu dan kami disarankan untuk ke loket penjualan tiket kapal saja. Dan itulah yang kemudian kami lakukan.
Kami naik angkot ke kantor penjualan tiket kapal Dumailine.Ternyata kapal ke Bengkalis adanya hanya besok pagi, pukul 7, harganya Rp. 70.000/orang. Ke Batu Panjang juga katanya tinggal ada yang besok pagi. Padahal harapannya kami bisa ke Batu Panjang sore ini, dan besok lanjut ke Bengkalis. Tapi sepertinya tak memungkinkan seperti itu. Seorang Bapak di loket menyarankan kami naik travel saja ke Bengkalisnya. Setiap saat ada, katanya. Perjalanan cuma 3 jam. Saya pikir itu ide yang masuk akal, karena saya pikir bermalam di Dumai dan menunggu waktu hingga besok pagi hanya buang-buang waktu.
Kami kemudian diantar ojek ke loket travel. Karena tahu kami pendatang, dia seenaknya saja pasang tarif Rp.10.000, padahal jaraknya ternyata tak sampai lima menit. Ternyata juga si tukang ojek tak terlalu paham loket travel karena yang ada hanya mobil charteran dan kami tak mungkin mencharter mobil ke Bengkalis. Karena tak memiliki banyak informasi, akhirnya kami memutuskan untuk menginap saja. Kebetulan di dekat-dekat situ lumayan banyak penginapan karena dekat pelabuhan. Dari luar sih kelihatan cukup layak, tapi ternyata setelah di lihat dalamnya banyak yang kumuh dan bernuansa 'mesum.'
Setelah melihat-lihat beberapa penginapan, akhirnya kami memutuskan menginap di sebuah penginapan sederhana tapi cukup bersih seharga Rp. 75.000 per kamar. Kamarnya sederhana sekali tapi cukup layaklah meski aku masih dibayangi ketidaknyamanan di kota ini.
Menikmati Malam yang Semarak di Dumai
Setelah mandi kami memutuskan keluar untuk mencari makan dan warung internet karena ada beberapa hal yang harus di cek di email.
Kami jalan kaki saja tanpa tujuan yang jelas. Dumai di malam hari terasa lebih ramah. Saya memutuskan singgah di warung mie Aceh pinggir jalan yang kami lintasi. Warungnya berada di sudut kecil yang terkesan cukup hangat tapi ketika disajikan, ternyata mi-nya biasa saja. Sangat berlemak dan rasanya dominan penyedap rasa. Kami juga sempat mencobai air akar yang dijual bapak tua dengan gerobak kayunya. Minuman yang dijualnya di kemas dalam botol-botol sehingga terlihat sangat khas. Namanya air akar. Saya penasaran. Setelah diminum ternyata: cincau! Bedanya hanya dicampur susu dan es.
Kami jalan lagi, mampir ke warnet sebentar. Warnetnya merangkap sebagai game online, yang isinya anak-anak muda yang main game, membunyikan sound sekeras-kerasnya, berbau rokok dan keringat cowok. Sama sekali bukan tempat yang nyaman. Kami cuma sebentar saja, lalu tanya-tanya pusat keramaian kota ini. Ada satu tempat namanya Ombak, kata pramuniaga toko. Karena sudah mulai lelah jalan kaki, kami pun memutuskan naik becak. Ongkosnya Rp. 10.000.
Tukang becaknya bapak-bapak yang belum terlalu tua dan enak diajak ngobrol. Dia mengaku dari Bangkinang, lama dia di Malaysia kerja bangunan. Konon dia terlibat dalam pembangunan KLCC dulu.
"KLCC itu dibangun oleh orang-orang Indonesia," ujarnya. Saya sempat surprise tapi kemudian berpikir, apa itu patut dibanggakan? Jadi buruh di negri orang? Kita jadi arsiteknya itu hebat, tapi jadi buruh kasarnya? Hmm...
Dia lama di sana, lama di sini, pokoknya fasih dia cerita. Dia cerita kalau di Ombak ada swalayan yang menjual makanan-makanan Malaysia, sembari menyebut merek-mereknya, seolah aneka makanan itu memiliki gengsi tersendiri...
Ternyata Ombak lumayan jauh dan kami merasa ongkos 10 ribu yang Bapak itu pasang terlalu murah. Merasa kasihan, kami tambah 5 ribu dan dia tampak senang. Dia menyarankan agar nanti kalau kami hendak pulang untuk naik dia lagi dan dia memberi nomor ponselnya.
Ombak, tak seperti yang kami bayangkan berupa Pujasera atau semacamnya. Itu adalah sebuah jalan memanjang yang di kanan kiri adalah penjual makanan. Makanannya pun tak khas, jajanan PKL pada umumnya: martabak bangka, mie rebus, mie goreng, nasi goreng, sate... ada satu dua seafood itu pun penuh sesak. Jalanannya juga tak nyaman. Bercampur dengan toko-toko kelontong, tambal ban, dan tak ada trotoar sehingga tak nyaman untuk pejalan kaki. Tak ada yang terlalu menarik. Kami memutuskan untuk singgah ke swalayan mencari beberapa makanan ringan. Teman saya kemudian makan sate.
(bersambung)
Negeri Seribu Pulau: Menjenguk Suku Akit (3)
Saya bangun pagi-pagi, duduk bermalas-malasan di teras sambil memperhatikan anak-anak melintas di bawah hendak berangkat sekolah. Mereka mengobrolkan soal hp dengan logat Melayu kental yang membuat saya ingin tersenyum. Sepeda motor lalu lalang dari orang-orang yang hendak berangkat kerja. Cerecau rekaman walet masih bising bersahutan. Matahari berpendar. Kehidupan baru dimulai. Tempat ini memang membosankan. Tapi orang-orang tetap menjalani hidup dengan riang. Mungkin kami hanya perlu membiasakan diri saja. Meski saya juga merasa bersyukur, tidak harus tinggal lama di sini.
Sekitar pukul 7, kami pergi ke Kantor Kecamatan. Bangunan baru yang cukup layak. Sudah buka, tapi belum ada orang. Kami mampir ke rumah camat di belakang, ternyata tak ada juga.
Kami ke rumah seorang pejabat kecamatan. Bergegas karena kami harus mengejar kapal pukul 8. Si Bapak masih ada tamu dan sepertinya belum mandi. Tamunya ternyata orang yang mau ngukur tanah untuk kebun sawit yang baru akan dibuka... nha...info bagus. Lalu kami menjelaskan kedatangan kami, blabla...apa ada data? Di kantor...data per suku tak ada...sudahlah. Kami sedikit mengorek info hutan. Ada hutan lindung, tapi SK-nya hilang, lokasinya ditengah pulau, dekat kebun yang akan dibuka. Hmm...
Kami pamit. Merasa menyesal karena dikejar waktu. Seharusnya kami bisa cari-cari informasi lebih mendalam jika punya lebih banyak waktu.
Menuju Selat Panjang -DumaiKetika sampai pelabuhan, suasana sudah ramai. Kami beli tiket ke Selat Panjang dan rencananya, dari Selat Panjang melanjutkan ke Dumai. Udara terasa menyengat. Kapal belum datang. Karena tak sempat sarapan, saya membeli makanan ringan di toko seberang dermaga. Pemiliknya keturunan Tionghoa dan sama seperti di Tanjung Batu maupun Alai, warungnya penuh sesak dengan aneka jajanan dan hampir semuanya produk Malaysia. Yah, begitulah. Agaknya orang-orang di pulau ini selalu dicekoki makanan produk negeri tetangga sejak kecil. Mungkin karena lebih dekat sehingga lebih murah.
Udara terasa panas berkeringta. Agak lama baru fery datang. Cukup nyaman dan besar. Lebih besar daripada kemarin yang dari Tanjung Batu. Sejak kemarin, saya menandai bahwa transportasi di lautan ini tak mengecewakan. Semuanya cukup layak dan nyaris selalu tepat waktu. Jauh lebih tepat waktu daripada di darat karena terlambat kadang berarti harus menunggu hingga hari berikutnya. Yang saya agak heran adalah melihat cukup banyak di antara mereka yang selalu menenteng tas besar hingga koper ketika bepergian.
Perjalanan ke Selat Panjang tak terlalu nyaman. Fery terus berguncang-guncang, sepertinya agak kandas menyusuri pinggiran. Berhenti sebentar-sebentar di dermaga-dermaga kecil pulau-pulau sekitar, menurun-naikkan satu dua penumpang. Hmm, jadi seperti itulah sepertinya kehidupan di pulau...
Sekitar dua jam kami sampai di Selat Panjang. Selat Panjang merupakan ibu kota Kabupaten Meranti, kabupaten yang terbilang baru, pemekaran dari Bengkalis. Kotanya cukup ramai, banyak-banyak kapal yang bersandar. Sayang, kami tak ada alasan untuk menyinggahi pulau ini dalam waktu agak lama. Turun dari feri kami langsung ditodong tukang becak motor dan ojek untuk ke pelabuhan besar mencari kapal ke Dumai. Kami memutuskan naik becak saja, becak mesin. 15 ribu. Ketika melintasi pusat kota, suasana kota ini terlihat cukup menyenangkan.
Pelabuhan Selat Panjang cukup besar, bahkan memiliki pelabuhan internasional. Sayang, suasananya kumuh dan pengap. Toiletnya juga buruk dan jorok. Bayar pula. Seperti di terminal lah.
Kapal agak terlambat beberapa menit. Kami menunggu dengan perut lapar. Tapi tak tahu bagaimana mengakses makanan, karena khawatir terlambat jika keluar.
Kapal menuju Dumai yang akan kami tumpangi adalah kapal dari Batam. Jenis Jet Foil yang cukup besar dan nyaman. Kursinya empuk dan terkesan bersih, tapi sepertinya ada masalah dengan AC karena ruangan terasa panas.
Perjalanan dari Selat Panjang menuju Dumai sekitar dua jam.Saya tak terlalu menikmati perjalanan karena didera lapar. Memang ada penjual makanan yang menjajakan nasi goreng, nasi ayam dan popmie, tapi semuanya tak mengundang selera. Pengalaman dari membeli makan di perjalanan seperti ini seringkali rasanya sangat pas-pasan dan kadang basi juga.
Sekitar pukul 3 sore, akhirnya kami sampai di Dumai. Pelabuhannya besar dan penuh kapal-kapal besar yang bersandar. Kami tanya-tanya dimana mencari kapal untu ke Rupat?
"Biasanya kapal bisa dipanggil kesini," kata abang-abang di dermaga. Apalagi berbarengan dengan kami dari Bengkalis adalah beberapa orang berseragam, pejabat dari Bengkalis sepertinya. Ketika boat datang, kami berdesakan masuk. Kami tak mendapat tempat duduk. Banyak penumpang lain yang juga tak mendapat tempat duduk. Dilihat di peta, Dumai-Rupat tak terlalu jauh jadi saya pikir 1 jaman sudah akan sampai, jadi tak masalah berdiri. Ternyata, sekitar 3 jam baru sampai di Rupat!
Akhirnya, Pulau Rupat: Titi Akar
Kami turun di pemberhentian terakhir, Titi Akar. Dermaga yang kecil dan sepi. Berdasarkan hasil mengobrol di kapal, disarankan kalau kami menemu Pak Batin jika ingin mencari informasi tentang Suku Akit. Dalam perjalanan mencari rumah Pak Batin, kami singgah di warung bakso yang kebetulan ada di pinggir jalan, untuk mengisi perut. Sembari makan, kami mengajak ngobrol si ibu pemilik warung yang bicara dalam logat Melayu kepulauan yang kental.
"Ombaknya sedang besar sekarang." Katanya. "Biasanya halus saja."
Saya memandang sekolahan di depan kami. Sebuah bangunan SD seperti pada umumnya. Ramai oleh anak-anak bermain bola. Saya ingat tulisan di sebuah buku yang saya baca, yang ditulis para anak muda dari kota yang dikirim ke pelosok-pelosok untuk mengajar. Salah satunya di tempat ini dan bagaimana dalam buku tersebut digambarkan bahwa tempatnya begitu terpencil dan bagaimana anak-anak Suku Akit mengalami banyak diskriminasi. Pemandangan di depan saya langsung membuyarkan bayangan saya.
Seorang abang-abang berpakaian rapi muncul, mengajak si Ibu berbahasa Jawa. Saya dan teman saya langsung berbagi pandang. Jadi dia ibu itu ternyata orang jawa? Nah, lho...
Si Abang lalu bercerita kalau dia orang Bengkalis, tapi istrinya orang Jawa jadi dia belajar bicara Bahasa Jawa. Dia seorang guru di Hutan Samak. Tempat ini juga pernah saya dengar di buku yang saya baca.
"Apakah tempatnya terpencil?" tanya saya. Dari cerita si mas, ternyata sepertinya tidak. Meski kesana harus menyebrang pakai perahu setiap pagi.
"Bagaimana akses pendidikan di sini?" tanya saya lagi.
"Di Sempur. Tapi ada kelas jauh di sana." ujarnya. Lalu setelah ngobrol ini itu, kami bertanya dimana bisa menginap. Si Abang menyarankan agar kami pergi saja ke rumah Kades, karena ada penginapan desa untuk tamu-tamu yang datang. Tapi lapor ke Kades dulu.
Usai makan, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Batin. Eh, ternyata ketemunya malah rumah Pak Kades duluan. Ya sudah. Kebetulan Pak Kadesnya juga sedang ada di rumah, sekalian saja kami singgah. Kami dipersilakan masuk dan saya mengamati suasana rumah dengan banyak ornamen Tionghoa. Ruang tamunya penuh foto-foto yang dibingkai.
Suku Akit, Mereka Yang Bertugas Membuat Rakit
Pak Kades keluar menyambut kami. Seorang lelaki berkulit coklat dan mata agak sipit, tapi garis wajahnya lebih Melayu daripada keturunan. Keramahannya bercampur kegusaran yang wajar dikunjungi tamu tak dikenal seperti kami. Kami pun segera menjelaskan maksud kedatangan kami. Ia tampak paham dan tanpa banyak kami tanya, mulai mulai cerita tentang sejarah Suku Akit. Tanpa berputar-putar seperti orang-orang yang kami temui sebelumnya, dia dengan penuh percaya diri mengaku bahwa dirinya adalah Suku Akit. Sepertinya, beliau cukup bangga dengan identitas dirinya. Dan ini melegakan. Kami pun jadi lebih leluasa untuk bertanya.
Leluhurnya, Suku Akit konon adalah sekelompok orang yang ditugaskan untuk membuat rakit oleh Kerajaan Siak dulu. Selain itu ada juga Ia bercerita tentang Batin Panjang yang merupakan salah satu tokoh yang ikut berperan melawan penjajahan Belanda. Dia mengatakan bahwa banyak Suku Akit yang kemudian menikah dengan pendatang keturunan Tionghoa, dan kemudian ikut memeluk agama Budha. Termasuk dirinya.
Seperti yang dikatakan si Abang di warung bakso, kami ditawari menginap di Wisma desa. Dia menelpon bawahannya untuk mengantar kami ke penginapan karena hari beranjak petang. Dia menyarankan agar besok saja kami ke Pak Batin, karena malam-malam tak ada listrik. Listrik sedang bermasalah. Kami setuju dan pamit.
Kami diantar ke penginapan oleh seorang gadis remaja berwajah sangat oriental yang agak malu-malu tapi ramah. Namanya Ros, baru kelas 2 SMP. Kami berjalan bersisian dan rambutnya menguarkan aroma dupa.
Penginapan yang dimaksud adalah bangunan besar, bertingkat dan tertutup. Dari luar, terkesan kurang artistik. Tapi ketika masuk, ternyata kamarnya sangat layak. Berlantai keramik, bersih dengan kamar mandi dalam pula. Di dekat pintu masuk, ada guratan tulisan Cina dan jumlah uang dalam ringgit. Ternyata itu nama-nama penyumbang bangunan ini. Kenapa dalam ringgit? Saya tak sempat bertanya. Apapun, penginapan itu cukup mewah untuk sebuah penginapan desa. Konon ini berakaitan dengan rencana menjadikan Titi Akar sebagai salah satu daerah tujuan wisata.
Setelah meletakkan barang-barang, kami keluar untuk melihat suasana di dermaga menjelang petang. Ada bangku-bangku kayu di sana. Dari situ, kami bisa melihat matahari yang hampir tenggelam di balik pulau dan suasana terasa begitu permai. Rasa penat menempuh perjalanan seharian sedikit menguar. Saya merasa bersyukur karena mendapat kesempatan mengunjungi tempat yang demikian indah seperti ini.
Malam datang. Kami diundang untuk makan malam di salah satu rumah perangkat desa. Sebuah keluarga muda pasangan Melayu-Jawa. Kami disuguhi hidangan makan malam sederhana tapi cukup lezat. Ditambah lagi tuan rumah yang ramah. Kami mengobrol panjang lebar. Sang istri lebih ramah sementara suaminya meski juga cukup ramah tapi lebih pendiam. Kedua-duanya adalah guru SD. Mereka bercerita tentang Orang Asli. "Mereka biasa saja, seperti orang luar." Ujar si Ibu. Tapi memang ada juga stigma ‘primitifisme’ terutama dari ornag luar. Si Ibu pernah pernah mengajak salah satu muridnya yang merupakan Suku Akit dan banyak orang yang terkejut mengetahui bahwa ternyata Suku Akit sama saja dengan anak-anak kebanyakan.
Sang Suami yang walaupun keturunan Jawa tapi sudah lahir di Rupat, menceritakan ketika ia kecil dan berteman dengan anak-anak Suku Akit. Mereka kala itu juga sudah sekolah tapi pakaian mereka agak aneh dan tas mereka dari plastik. Itu tak penting. Banyak anak dari suku mayoritas di daerah terpencil juga berpakaian alakadarnya. Tapi yang jelas anak-anak Suku Akit ini sejak 30 tahunan yang lalu sudah mengenal sekolah. Tak urung saya pun membandingkan dengan Suku Orang Rimba yang baru beberapa mulai diperkenalkan dengan sekolah akhir-akhir ini.
Bagaimana dengan di sekolah? Diskriminasi dari anak-anak lain? Kata si Bapak sih biasa-biasa saja. Juga si Ibu yang sekarang mengajar banyak anak-anak Suku Akit.
Setelah cukup lama mengobrol, kami pamit untuk pulang ke penginapan. Saya membersihkan badan yang lengket oleh keringat dan istirahat. Udara terasa sangat panas dan bunyi mesin diesel begitu berisik. Tapi untungnya ada kipas angin yang membuat saya bisa tidur nyenyak. Namun, tengah malam saya terbangun. Listrik sudah dipadamkan dan tubuh saya kuyup oleh keringat.
(bersambung)
Sekitar pukul 7, kami pergi ke Kantor Kecamatan. Bangunan baru yang cukup layak. Sudah buka, tapi belum ada orang. Kami mampir ke rumah camat di belakang, ternyata tak ada juga.
Kami ke rumah seorang pejabat kecamatan. Bergegas karena kami harus mengejar kapal pukul 8. Si Bapak masih ada tamu dan sepertinya belum mandi. Tamunya ternyata orang yang mau ngukur tanah untuk kebun sawit yang baru akan dibuka... nha...info bagus. Lalu kami menjelaskan kedatangan kami, blabla...apa ada data? Di kantor...data per suku tak ada...sudahlah. Kami sedikit mengorek info hutan. Ada hutan lindung, tapi SK-nya hilang, lokasinya ditengah pulau, dekat kebun yang akan dibuka. Hmm...
Kami pamit. Merasa menyesal karena dikejar waktu. Seharusnya kami bisa cari-cari informasi lebih mendalam jika punya lebih banyak waktu.
Menuju Selat Panjang -DumaiKetika sampai pelabuhan, suasana sudah ramai. Kami beli tiket ke Selat Panjang dan rencananya, dari Selat Panjang melanjutkan ke Dumai. Udara terasa menyengat. Kapal belum datang. Karena tak sempat sarapan, saya membeli makanan ringan di toko seberang dermaga. Pemiliknya keturunan Tionghoa dan sama seperti di Tanjung Batu maupun Alai, warungnya penuh sesak dengan aneka jajanan dan hampir semuanya produk Malaysia. Yah, begitulah. Agaknya orang-orang di pulau ini selalu dicekoki makanan produk negeri tetangga sejak kecil. Mungkin karena lebih dekat sehingga lebih murah.
Udara terasa panas berkeringta. Agak lama baru fery datang. Cukup nyaman dan besar. Lebih besar daripada kemarin yang dari Tanjung Batu. Sejak kemarin, saya menandai bahwa transportasi di lautan ini tak mengecewakan. Semuanya cukup layak dan nyaris selalu tepat waktu. Jauh lebih tepat waktu daripada di darat karena terlambat kadang berarti harus menunggu hingga hari berikutnya. Yang saya agak heran adalah melihat cukup banyak di antara mereka yang selalu menenteng tas besar hingga koper ketika bepergian.
Perjalanan ke Selat Panjang tak terlalu nyaman. Fery terus berguncang-guncang, sepertinya agak kandas menyusuri pinggiran. Berhenti sebentar-sebentar di dermaga-dermaga kecil pulau-pulau sekitar, menurun-naikkan satu dua penumpang. Hmm, jadi seperti itulah sepertinya kehidupan di pulau...
Sekitar dua jam kami sampai di Selat Panjang. Selat Panjang merupakan ibu kota Kabupaten Meranti, kabupaten yang terbilang baru, pemekaran dari Bengkalis. Kotanya cukup ramai, banyak-banyak kapal yang bersandar. Sayang, kami tak ada alasan untuk menyinggahi pulau ini dalam waktu agak lama. Turun dari feri kami langsung ditodong tukang becak motor dan ojek untuk ke pelabuhan besar mencari kapal ke Dumai. Kami memutuskan naik becak saja, becak mesin. 15 ribu. Ketika melintasi pusat kota, suasana kota ini terlihat cukup menyenangkan.
Pelabuhan Selat Panjang cukup besar, bahkan memiliki pelabuhan internasional. Sayang, suasananya kumuh dan pengap. Toiletnya juga buruk dan jorok. Bayar pula. Seperti di terminal lah.
Kapal agak terlambat beberapa menit. Kami menunggu dengan perut lapar. Tapi tak tahu bagaimana mengakses makanan, karena khawatir terlambat jika keluar.
Kapal menuju Dumai yang akan kami tumpangi adalah kapal dari Batam. Jenis Jet Foil yang cukup besar dan nyaman. Kursinya empuk dan terkesan bersih, tapi sepertinya ada masalah dengan AC karena ruangan terasa panas.
Perjalanan dari Selat Panjang menuju Dumai sekitar dua jam.Saya tak terlalu menikmati perjalanan karena didera lapar. Memang ada penjual makanan yang menjajakan nasi goreng, nasi ayam dan popmie, tapi semuanya tak mengundang selera. Pengalaman dari membeli makan di perjalanan seperti ini seringkali rasanya sangat pas-pasan dan kadang basi juga.
| Dumai yang industrialis |
Sekitar pukul 3 sore, akhirnya kami sampai di Dumai. Pelabuhannya besar dan penuh kapal-kapal besar yang bersandar. Kami tanya-tanya dimana mencari kapal untu ke Rupat?
"Biasanya kapal bisa dipanggil kesini," kata abang-abang di dermaga. Apalagi berbarengan dengan kami dari Bengkalis adalah beberapa orang berseragam, pejabat dari Bengkalis sepertinya. Ketika boat datang, kami berdesakan masuk. Kami tak mendapat tempat duduk. Banyak penumpang lain yang juga tak mendapat tempat duduk. Dilihat di peta, Dumai-Rupat tak terlalu jauh jadi saya pikir 1 jaman sudah akan sampai, jadi tak masalah berdiri. Ternyata, sekitar 3 jam baru sampai di Rupat!
Akhirnya, Pulau Rupat: Titi Akar
Kami turun di pemberhentian terakhir, Titi Akar. Dermaga yang kecil dan sepi. Berdasarkan hasil mengobrol di kapal, disarankan kalau kami menemu Pak Batin jika ingin mencari informasi tentang Suku Akit. Dalam perjalanan mencari rumah Pak Batin, kami singgah di warung bakso yang kebetulan ada di pinggir jalan, untuk mengisi perut. Sembari makan, kami mengajak ngobrol si ibu pemilik warung yang bicara dalam logat Melayu kepulauan yang kental.
"Ombaknya sedang besar sekarang." Katanya. "Biasanya halus saja."
Saya memandang sekolahan di depan kami. Sebuah bangunan SD seperti pada umumnya. Ramai oleh anak-anak bermain bola. Saya ingat tulisan di sebuah buku yang saya baca, yang ditulis para anak muda dari kota yang dikirim ke pelosok-pelosok untuk mengajar. Salah satunya di tempat ini dan bagaimana dalam buku tersebut digambarkan bahwa tempatnya begitu terpencil dan bagaimana anak-anak Suku Akit mengalami banyak diskriminasi. Pemandangan di depan saya langsung membuyarkan bayangan saya.
| Add caption |
Seorang abang-abang berpakaian rapi muncul, mengajak si Ibu berbahasa Jawa. Saya dan teman saya langsung berbagi pandang. Jadi dia ibu itu ternyata orang jawa? Nah, lho...
Si Abang lalu bercerita kalau dia orang Bengkalis, tapi istrinya orang Jawa jadi dia belajar bicara Bahasa Jawa. Dia seorang guru di Hutan Samak. Tempat ini juga pernah saya dengar di buku yang saya baca.
"Apakah tempatnya terpencil?" tanya saya. Dari cerita si mas, ternyata sepertinya tidak. Meski kesana harus menyebrang pakai perahu setiap pagi.
"Bagaimana akses pendidikan di sini?" tanya saya lagi.
"Di Sempur. Tapi ada kelas jauh di sana." ujarnya. Lalu setelah ngobrol ini itu, kami bertanya dimana bisa menginap. Si Abang menyarankan agar kami pergi saja ke rumah Kades, karena ada penginapan desa untuk tamu-tamu yang datang. Tapi lapor ke Kades dulu.
Usai makan, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Batin. Eh, ternyata ketemunya malah rumah Pak Kades duluan. Ya sudah. Kebetulan Pak Kadesnya juga sedang ada di rumah, sekalian saja kami singgah. Kami dipersilakan masuk dan saya mengamati suasana rumah dengan banyak ornamen Tionghoa. Ruang tamunya penuh foto-foto yang dibingkai.
Suku Akit, Mereka Yang Bertugas Membuat Rakit
Pak Kades keluar menyambut kami. Seorang lelaki berkulit coklat dan mata agak sipit, tapi garis wajahnya lebih Melayu daripada keturunan. Keramahannya bercampur kegusaran yang wajar dikunjungi tamu tak dikenal seperti kami. Kami pun segera menjelaskan maksud kedatangan kami. Ia tampak paham dan tanpa banyak kami tanya, mulai mulai cerita tentang sejarah Suku Akit. Tanpa berputar-putar seperti orang-orang yang kami temui sebelumnya, dia dengan penuh percaya diri mengaku bahwa dirinya adalah Suku Akit. Sepertinya, beliau cukup bangga dengan identitas dirinya. Dan ini melegakan. Kami pun jadi lebih leluasa untuk bertanya.
Leluhurnya, Suku Akit konon adalah sekelompok orang yang ditugaskan untuk membuat rakit oleh Kerajaan Siak dulu. Selain itu ada juga Ia bercerita tentang Batin Panjang yang merupakan salah satu tokoh yang ikut berperan melawan penjajahan Belanda. Dia mengatakan bahwa banyak Suku Akit yang kemudian menikah dengan pendatang keturunan Tionghoa, dan kemudian ikut memeluk agama Budha. Termasuk dirinya.
Seperti yang dikatakan si Abang di warung bakso, kami ditawari menginap di Wisma desa. Dia menelpon bawahannya untuk mengantar kami ke penginapan karena hari beranjak petang. Dia menyarankan agar besok saja kami ke Pak Batin, karena malam-malam tak ada listrik. Listrik sedang bermasalah. Kami setuju dan pamit.
Kami diantar ke penginapan oleh seorang gadis remaja berwajah sangat oriental yang agak malu-malu tapi ramah. Namanya Ros, baru kelas 2 SMP. Kami berjalan bersisian dan rambutnya menguarkan aroma dupa.
Penginapan yang dimaksud adalah bangunan besar, bertingkat dan tertutup. Dari luar, terkesan kurang artistik. Tapi ketika masuk, ternyata kamarnya sangat layak. Berlantai keramik, bersih dengan kamar mandi dalam pula. Di dekat pintu masuk, ada guratan tulisan Cina dan jumlah uang dalam ringgit. Ternyata itu nama-nama penyumbang bangunan ini. Kenapa dalam ringgit? Saya tak sempat bertanya. Apapun, penginapan itu cukup mewah untuk sebuah penginapan desa. Konon ini berakaitan dengan rencana menjadikan Titi Akar sebagai salah satu daerah tujuan wisata.
Setelah meletakkan barang-barang, kami keluar untuk melihat suasana di dermaga menjelang petang. Ada bangku-bangku kayu di sana. Dari situ, kami bisa melihat matahari yang hampir tenggelam di balik pulau dan suasana terasa begitu permai. Rasa penat menempuh perjalanan seharian sedikit menguar. Saya merasa bersyukur karena mendapat kesempatan mengunjungi tempat yang demikian indah seperti ini.
| Dermaga di tepi selat tempat bisa menikmati senja |
Malam datang. Kami diundang untuk makan malam di salah satu rumah perangkat desa. Sebuah keluarga muda pasangan Melayu-Jawa. Kami disuguhi hidangan makan malam sederhana tapi cukup lezat. Ditambah lagi tuan rumah yang ramah. Kami mengobrol panjang lebar. Sang istri lebih ramah sementara suaminya meski juga cukup ramah tapi lebih pendiam. Kedua-duanya adalah guru SD. Mereka bercerita tentang Orang Asli. "Mereka biasa saja, seperti orang luar." Ujar si Ibu. Tapi memang ada juga stigma ‘primitifisme’ terutama dari ornag luar. Si Ibu pernah pernah mengajak salah satu muridnya yang merupakan Suku Akit dan banyak orang yang terkejut mengetahui bahwa ternyata Suku Akit sama saja dengan anak-anak kebanyakan.
Sang Suami yang walaupun keturunan Jawa tapi sudah lahir di Rupat, menceritakan ketika ia kecil dan berteman dengan anak-anak Suku Akit. Mereka kala itu juga sudah sekolah tapi pakaian mereka agak aneh dan tas mereka dari plastik. Itu tak penting. Banyak anak dari suku mayoritas di daerah terpencil juga berpakaian alakadarnya. Tapi yang jelas anak-anak Suku Akit ini sejak 30 tahunan yang lalu sudah mengenal sekolah. Tak urung saya pun membandingkan dengan Suku Orang Rimba yang baru beberapa mulai diperkenalkan dengan sekolah akhir-akhir ini.
Bagaimana dengan di sekolah? Diskriminasi dari anak-anak lain? Kata si Bapak sih biasa-biasa saja. Juga si Ibu yang sekarang mengajar banyak anak-anak Suku Akit.
Setelah cukup lama mengobrol, kami pamit untuk pulang ke penginapan. Saya membersihkan badan yang lengket oleh keringat dan istirahat. Udara terasa sangat panas dan bunyi mesin diesel begitu berisik. Tapi untungnya ada kipas angin yang membuat saya bisa tidur nyenyak. Namun, tengah malam saya terbangun. Listrik sudah dipadamkan dan tubuh saya kuyup oleh keringat.
(bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)