Laman

Tampilkan postingan dengan label JalanJalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JalanJalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Desember 2015

Sehari Menyinggahi Bumi Sriwijaya Dengan Kereta Api

Akhirnya, kesampaian juga saya mencobai kereta api Lubuk Linggau-Palembang. Ada dua jadwal keberangkatan, pagi pukul 09.30 kereta api ekonomi dengan tiket Rp. 35. 000 dan malam, pukul 20. 00., kereta api eksekutif dengan tiket Rp. 120.000. Perjalanan di mulai dari statiun Lubuk Linggau hingga ke Stasiun Kertapati Palembang memakan waktu antara 7- 9 jam dengan melewati beberapa stasiun besar seperti Tebing Tinggi, Muara Enim, Lahat dan Prabumulih. Saya berangkat bersama 3 orang teman saya dan karena niatannya mau menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, kami pun memilih kereta api pagi. Seperti umumnya kereta api saat ini, kereta api yang kami tumpangi, meskipun kelas ekonomi tapi sudah cukup nyaman. Gerbongnya ber-AC dan cukup bersih.

Tapi, sayangnya rasa antusais kami terusik, belum apa-apa petugas keamanan kereta mulai berkeliling ketika kereta api mulai beranjak, dan memperingatkan penumpang untuk menutup gorden jendela. Alasannya, sering terjadi pelemparan batu di sepanjang jalan. Selama sekitar sebulan tinggal di daerah Sumatera Selatan, peringatan semacam ini bukan hanya sekali kami dengar. Kemana-mana kami selalu mendapat peringatan untuk berhati-hati. Hal yang membuat saya bertanya-tanya: apa orang-orang di sini sejahat dan se-anarkis itu? (Untunglah sepanjang perjalanan, tidak terjadi pelemparan batu seperti yang diperingatkan atau juga kejadian yang kurang menyenangkan). 
Pemandangan di kiri kanan jalan yang menyedihkan :(

Bayangan saya tentang perlintasan kereta api di Sumatra adalah kanan-kiri jalan yang ditumbuhi hijau pepohonan. Hutan tropis yang masih asli.. dan yah, kenyataannya tidak seperti itu. Pemandangan yang kami lewati di sepanjang jalan adalah deretan kebun karet, kebun kopi, kebun sawit, kota-kota kecil di pinggiran stasiun yang menurut saya polanya kok hampir sama saja dimana-mana: cenderung kumuh dan kotor karena beberapa tempat dijadikan pembuangan sampah. Mungkin juga karena kami bepergian ketika musim kemarau sedang mencapai puncaknya. Dimana-mana rumput terlihat kering kecoklatan, sawah-sawah terlihat kerontang, semak-semak sisa kebakaran dimana-mana... meninggalkan pemandangan gersang yang menyedihkan. Dan pemandangan ini semakin menyedihkan ketika sampai antara Prabumulih-Palembang.
Di daerah ini, sedang dilakukan pembuatan rel kereta baru yang baru pada tahap pembukaan jalan. Ketika kereta api melintas, serpih-serpih debu --meskipun di ruang tertutup--terkadang masuk melalui celah-celah jendela. Dan hal ini diperparah ketika memasuki areal lahan gambut, pemandangan yang tersaji di kanan kiri kami adalah lahan yang sedang terbakar. Asap pekat menyelubung. Langit terlihat kelabu sepenuhnya. Pun ketika kereta akhirnya memasuki Stasiun Kertapati, suasana berasap itu masih menyelimuti.
Stasiun Kertapati yang bersih dan besar

Stasiun Kertapati sendiri cukup menakjubkan bagi saya, yang pertamakali menginjakkan kaki di sana. Saya selalu memabyangkan stasiun kereta api di Sumatera--karena memiliki rute yang terbatas--pastilah stasiun yang biasa saja. Tapi ternyata Stasiun Kertapati cukup megah, bersih dan terlihat sangat nyaman. Dari stasiun ini, selain kereta api ke Lubuk Linggau juga melayani rute Palembang (Kertapati) - Lampung (Tanjung Karang) dengan waktu tempuh sekitar 10-12 jaman. Saya berpikir, jika ada kesempatan lain waktu ingin mencobanya juga. Sementara kereta api lokal dari kertapati ke indralaya. Selain itu, stasiun ini terutama dihidupi oleh kereta api batu bara yang agaknya beroperasi sejak dulu kala.  

Palembang sedang diselubungi kabut asap, seperti juga beberapa kota di Sumatera lainnya seperti Jambi dan Pekan Baru. Karenanya, sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk mengunjungi Palembang saat seperti ini.  Tapi yah, apa boleh buat karena kesempatannya memang baru didapat saat seperti ini.
Jembatan Ampera yang berselubung kabut asap

Selama di Palembang, kami menginap di rumah temannya teman di daerah Jl Sultan Syahrir. Karena tidak paham transportasi umum di sini, kami memutuskan untuk naik taksi saja. Karena agak lama menunggu tak ada taksi melintas, teman saya menelepon Blue Bird dan kami menunggu di pinggir jalan depan stasiun. Tak berapa lama, beberapa orang lelaki yang sedari tadi berdiri di sekitar kami, memanggil kami dengan ramah, mengatakan bahwa tkasi kami sudah menunggu. Jujur, saya sudah agak curiga melihat keramahan mereka karena mereka terlihat bukan sebagai petugas ataupun sopir taksi. Dan benar saja, ketika kami sudah masuk ke taksi, dia langsung menodong kami dengan uang parkir: Rp. 10.000! Padahal taksi baru saja sampai, berhenti di pinggir jalan umum pula.  Meski merutuk kemudian, kami tak ingin ribut dan segera memberi uang yang diminta. Sopir taksi terlihat kurang enak dan mengatakan bahwa ia juga tak bisa berbuat apa-apa karena itu sistem di sini. Inilah hal yang saya benci dari negeri ini: premanisme. Hal yang juga membuat saya merasa malu sebagai sesama orang Indonesia. Kenapa sih harus mencari rejeki dari hal-hal kurang menyenangkan seperti itu?

Taksi melaju dan jalanan sangat ramai. Kami melntasi seputaran Jembatan Ampera dan saya mengais ingatan samar tentang kota ini. Sebenarnya saya sudah dua kali menginjakkan kaki di kota ini. Pertama tahun 2009 lalu dan terakhir tahun 2013.  Entah karena waktu itu tak banyak tempat yang saya kunjungi atau memang sudah berubah, saya merasa kota ini tak seperti ingatan saya. Jauh lebih ramai, jauh lebih riuh dan besar. Ketika taksi membawa kami menyusuri daerah pertokoan yang padat dan semarak, saya kembali merasa takjub. Saya selalu merasa bahwa palembang adalah kota besar tapi dalam bayangan saya,  kotanya tak sebesar ini. Di selang-seling pertokoan yang semarak dan menjulang, kota ini dipenuhi kanal-kanal dengan air kehitaman yang nyaris kering dan dipenuhi sampah diamna-mana. Mungkin karena musim kemarau semuanya terlihat kelabu, berdebu, usang dan kumuh. Setelah sekitar 30 menitan kami sampai di tujuan dan argo taksi menunjuk angka Rp. 60.000.

Kami tak memiliki banyak referensi soal Palembang.  Lagipula, Palembang sebenarnya memang bukan tempat yang kaya akan obyek wisata. Tujuan kami ke kota ini lebih karena ingin mencoba kereta api. Tapi karena sudah berada di kota ini, kami ingin jalan-jalan juga. Setelah browsing-brwosing di internet, kami mendapat beberapa referensi tempat wisata di sekitar kota. Salah satunya adalah Pulau Kemaro.

Kami pergi ke Pulau Kemaro pagi-pagi sekitar pukul 10-an. Kami naik angkot dan turun di bawah Jembatan Ampera yang memang menjadi salah satu meeting point angkutan umum di kota ini. Dari sini, kami mencari boat yang akan mengantarkan kami menyeberang ke Pulau Kemaro. Karena merupakan tujuan yang populer, para sopir boat di sana langsung riuh menawarkan boatnya pada kami. Suasana pinggir sungai sendiri sangat ramai. Saya baru ngeh kalau sungai Musi merupakan salah satu sungai tersibuk di Indonesia sepertinya. Syukurlah meski musim kemaru panjang, debit air sungai ini masih cukup besar sehingga perahu-perahu masih berlintasan.
Riuhnya kehidupan di pinggir Sungai Musi

Seorang abang-abang menawari kami menaiki boatnya. Harga yang ditawarkan adalah Rp. 300.000 pp dengan boat. Kami mencoba menawar Rp. 150.000, tapi dia tidak mau. Setelah agak lama, akhirnya kami sepakat pada harga Rp. 180.000. Menurut teman saya yang orang Palembang, tarif standarnya Rp. 200.000. Jadi harga itu cukup masuk akal.

Perjalanan ke Pulau Kemaro sebenarnya dekat saja. Setelah terguncang-guncang di atas boat selama sekitar 15 menit di atas Sungai Musi, kami akhirnya sampai. Pulau Kemaro sendiri adalah sebuah delta di tengah Sungai Musi dan yang menjadi menarik adalah karena di ataasnya dibangun wihara yang cukup megah. Tapi konon tempat ini baru ramai pada perayaan imlek atau cap gomeh. Sehingga ketika kami datang, tempat ini sepi saja. Hanya ada satu dua pengunjung selain kami. Dan kalau diamat-amati, sebenarnya tempat ini juga kurang terpelihara. Ditambah lagi karena musim kemarau, rumput dan pepohonan di sekitar wihara juga banyak yang kering dan meranggas. Tapi pada beberapa sudut, cukup menariklah sebagai spot untuk foto-foto.

Setelah puas menjepretkan kamera di Pulau Kamaro, kami singgah di Pasar 16--salah satu pasar terbesar di Kota Palembang. Pasar ini tepat berada di pinggir Sungai Musi. Terlihat sangat ramai dan besar. Tujuan kami? Mencari barang second hand. Hehe. Tapi ternyata tidak terlalu banyak. Setelah puas, kami singgah untuk sholat dzuhur di Mesjid Agung yang hanya berlokasi di seberang pasar.
Mesjid Agung Palembang

Mesji Agung Palembang berupa bangunan mesjid yang terlihat megah dan artistik. Gaya arsitekturnya sedikit bernuansa Tionghoa. Seperti diketahui, Palembang memang memiliki pengaruh Tionghoa yang kuat. Setelah sembahyang dan foto-foto di depan mesjid, kami melanjutkan perjalanan lagi ke obyek wisata lain yang letaknya juga tak terlalu jauh dari Mesjid Agung, yakni Benteng Kuto Besak. Seperti namanya, merupakan benteng tua yang kemudian digunakan sebagai markas ABRI. Yang menarik, benteng ini berada di pinggiran Sungai Musi. Jadi sambil melihat bangunan tua, bisa dilanjutkan dengan duduk-duduk di pinggiran sungai sambil menikmati jajajan pinggir jalan yang memang banyak terdapat di sana. Kami menyempatkan diri duduk-duduk di pinggir sungai, tapi tidak terlalu menikmati karena udara masih dipenuhi kabut asap sehingga lama-lama mata terasa perih. 
Benteng Kuto Besak

Sebenarnya saya ingin ke Bukit Siguntang yang konon merupakan situs sejarah.  Tapi karena hari sudah sore dan badan juga lelah (mungkin karena paparan kabut asap), kami memutuskan mencari udara yang lebih segar. Tebak di mana? Mall. Hehe. Ya itung-itung cuci mata, karena memang sudah lama tidak pergi ke mall. Tujuan kami hanya untuk refreshing saja dan karena pertimbangan akses, kami memilih mall Palembang Indah Mall.  Berhubung kami tak terlalu suka window shopping, kami memutuskan untuk nonton film saja di XXI. Sayangnya, sedang tidak banyak film bagus yang diputar. Dan setelah menimbang-nimbang, kami sepakat nonton film berjudul Crimson Peak, garapan sutradara Guillermo Del Torro dan dibintangi dua bintang yang cukup terkenal: Mia Wasiwoska dan Jessica Stain. Karena buakn sedang weekend, kami membayar tiket Rp. 35.000/orang. Filmnya sendiri tidak terlalu istimewa, tapi lumayan lah.

Usai dari bioskop kami llngsung pulang karena khawatir tidak ada lagi angkot. Meskipun kota yang cukup besar, tapi konon angkot di sini hanya beroperasi hingga sekitar pukul 9 malam. Pun pada pukul 7-8 sudah sepi.  Tarif angkot jauh dekat adalah Rp 4000/orang.

Keesokan harinya, kami bersiap untuk kembali ke Linggau. Jadwal keberangkatannya sama saja, yakni pukul 09.30 pagi. Tapi kali ini perjalanan lebih lambat. Mungkin karena menjelang akhir pekan , sehingga banyak orang bepergian. Kereta berhenti hampir di semua stasiun kecil, menaikturunkan penumpang. Perjalanan juga terasa kurang nyaman. Sepanjang jalan, lagi-lagi si petugas keamanan terus menerus mengingatkan kami untuk menutup jendela. Ruangan terasa panas meskipun ac dinyalakan. Kami mulai merasa bosan, penat dan lapar. Meski sudah membawa aneka cemilan, tapi rasanya masih belum puas. Harga makanan di dalam kereta sebenarnya cukup terjangkau. Untuk nasi goreng dengan telur dadar dan nasi ayam goreng dihargai Rp 18.000 per porsi sedangkan Popmie Rp. 7000/porsi (harga yang menurut saya cukup murah dibanding kereta api yang pernah saya naiki di Jawa). Tapi pilihan menunya terbatas sehingga kami tak cukup berselera untuk makan.

Sekitar pukul 6 petang, bersama adzan magrib yang berkumandang, kami sampai di Linggau. Meskipun agak melelahkan, namun perjalanan singkat ini cukup menyenangkan lah.

(Perjalanan ini dilakukan pada tanggal 13-14 Oktober 2015)

Selasa, 24 November 2015

Berwisata ke Gunung Kaba

Musim penghujan, tentu saja bukan waktu yang tepat untuk melakukan aktivitas outdoor seperti mendaki gunung. Tapi berhubung waktu dan kesempatannya baru didapat, dengan rasa was-wasa beserta harapan agar cuaca cukup cerah dalam beberapa hari ini, kami pun nekad berangkat ke Gunung Kaba. Gunung Kaba merupakan salah satu obyek wisata yang cukup populer di Curup, Bengkulu. Jaraknya sekitar 25 km dari Kota Curup atau sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. Gunung ini memiliki ketinggian 1.938 m dpl, sehingga masyarakat sering mengenalnya sebagai Bukit Kaba.

Pemberhentian terakhir adalah Desa Sumber Urip, sebuah desa pertanian yang sejuk dan uniknya mayoritas penduduknya adalah Suku Jawa. Jadi ketika memasuki desa ini, nuansa Jawa-nya lebih terasa daripada Sumatra. Di desa ini, para pendaki diwajibkan untuk melapor di kantor Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang dikelola oleh masyarakat setempat. Retribusi yang dikenakan adalah Rp. 3000/orang.

Perjalanan ke Gunung Kaba bisa melalui dua jalur. Jalur yang satu adalah jalur jalan setapak melewati hutan yang masih cukup lebat. Sedangkan jalur yang satunya lagi adalah melewati jalan besar yang sudah dikeraskan. Jalur hutan medannya lebih terjal tapi lebih pendek dan sejuk. Sedangkan jalur jalan besar lebih jauh dan terbuka. Bagi yang suka suasana alam sih jalur pertama lebih jadi pilihan. Dan itu pula yang kami pilih.

Kami meninggalkan pos Pokdarwis sekitar pukul 16.30. Meskipun langit agak mendung, tapi cuaca terbilang cerah. Jalanan yang kami lewati basah dan agak licin, tapi terbilang cukup mudah dan terang, karena sering dilewati. Perjalanan menuju shelter untuk berkemah sekitar 2 jaman, itu juga dengan ritme perjalanan yang terbilang santai dan sesekali berhenti melepas lelah. Menjelang petang, kami sampai di area perkemahan. Di seberangnya, tampak gundukan lereng-lereng pegunungan Kaba yang terhampar kokoh.

Karena sudah cukup sore, kami segera mendirikan tenda. Selain kami, hanya ada satu rombongan pendaki dari Bengkulu yang sudah datang lebih dulu. Gunung ini memang baru ramai dikunjungi pendaki pada akhir pekan. Dan juga, musim penghujan seperti ini pastilah memang bukan waktu yang ideal untuk berwisata gunung.

Petang menjelang dan udara dingin  mulai berhembus. Kabut juga mulai turun dan sekeliling kami mendadak berubah kelabu. Rintik-rintik hujan mulai turun. Meski begitu, sesekali langit masih tersingkap dan bulan setengah lingkarang bersinar cemerlang di atas kepala. Sayangnya, hanya sebentar saja. Karena beberapa jenak kemudian,  langit kembali diselimuti kabut dan hujan semakin rapat. Usai makan,kami segera masuk tenda. Setelah mengobrol ngalor ngidul akhirnya tertidur. Meski udara cukup dingin, tapi masih dalam batas wajar. Sehingga kami bisa tidur cukup lelap.

Rencananya, kami akan bangun pagi-pagi untuk melihat matahari terbit. Tapi ketika alarm berbunyi pukul 5.15 dan melongokkan kepala keluar tenda, pemandangan di sekeliling sepenuhnya kelabu tertutup kabut. Gundukan lereng pegunungan yang tampak gagah kemarin petang juga tak tampak. Jarak pandang hanya beberapa meter saja dan angin kencang berderak-derak. Saya pun memutuskan untuk kembali membuntal diri dengan sleeping bag dan tidur lagi. Menjelang agak siang, baru keluar tenda. Tapi harapan bahwa cuaca akan segera berubah agaknya sulit terwujud. Kabut terus berputar-putar bersama angin dan tak ada tanda-tanda tersingkap. Meski begitu, kami berusaha untuk bersabar. Berharap, semakin siang udara akan semakin bersahabat.

Menjelang tengah hari, meskipun kabut masih cukup rapat, kami nekad untuk melihat kawah di puncak seberang. Udara dingin menggigit dan angin kencang masih bertiup. Tapi sesekali kabut mulai tersingkap dan kami bisa menikmati panorama di sekitar kawah berupa tebing-tebing batu yang terlihat gagah. Kawah pertama yang kami kunjungi adalah kawah mati. Pada kedalaman sekitar 10 meter, tampak air kawah yang berwarna kehijauan mengepul menguarkan aroma belerang yang menyengat.

Tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah kawah hidup, yang berada di balik gundukan bukit satunya. Perjalanan kesini adalah menyusuri tebing yang agak terjal tapi cukup mudah dilewati. Kawah hidup terhampar pada lereng melandai dan dari jarak sekitar 10 meter gemuruh suara magma terdengar jelas, sembari mengepulkan asap pekat kekuningan. Yah, Gunung Kaba, meski pendek saja, adalah gunung api yang masih aktif. Letusan terakhir konon sudah beberapa ratus tahun lalu. Memandangi kawah gunung ini merasa takjub sekaligus miris. Gunung api selalu menyajikan keindahan yang agung tapi buas. Gelegak magma yang sedang berproses di dalam perut bumi hanyalah menunggu waktu untuk diledakkan dan yah, entah kerusakan dan bencana macam apa yang bisa terjadi. Wallahualam.

Setelah puas berfoto-foto, kami bersiap kembali. Keinginan untuk mendaki puncak tertinggi, kami urungkan karena cuaca yang kurang mendukung. Bagi kami, melihat pemandangan di sekitar kawah ini sudah cukup memuaskan.  Pemandangan kawah dan sekitar kedua kawah ini sudah cukup menakjubkan. 

Sekembali dari kawah, kami menikmati makan siang lalu bersiap pulang. Perjalanan pulang, kami memutuskan melewati jalur yang sama karena lebih teduh dan cepat. Hanya sekitar satu jaman kami sudah sampai di pos dan diajak singgah ke rumah seorang warga yang menyambut kami dengan ramah, disuguhi kopi dan teh hangat. Kami bahkan ditawari untuk memetik tomat di kebun segala. Hanya saja, karena kami khawatir repot membawanya, kami menolak tawaran itu.  Usai Maghrib, kami baru bertolak ke Curup. Badan cukup letih tapi perjalanan pendek ini terasa cukup memuaskan. Menurut saya, Gunung Kaba tak kalah indahnya dengan Gunung Bromo atau Tangkupan Perahu. Selain itu, pendakiannya juga relatif pendek dan mudah sehingga bagi yang kurang berpengalaman mendaki sekalipun, tempat ini masih recommended. Tapi yah, mungkin karena faktor akses, jarak dan promosi yang kurang membuat tempat ini kurang populer.

Perjalanan ini dilakukan pada tanggal 18-19 November 2015

Kamis, 02 Oktober 2014

Menengok Negeri Laskar Pelangi (4)

Perjalanan yang Memabukkan!
Kapal mulai bergerak sekitar pukul 2-an. Langit tiba-tiba mendung. Dan baru beberapa menit meninggalkan dermaga, kapal sudah terasa guncangannya. Menit berikutnya, jangan ditanya. Kapal seperti mau jungkir balik. Jantungan rasanya.  Hentakan demi hentakan.Saya ingat cerita si Ibu di rumah makan, kalau perjalanan ini bisa sampai  7 jam. Waduh. Tujuh jam seperti ini? Pikiran-pikiran buruk menghinggapi benak. Bagaimana kalau tiba-tiba kapal terbalik diseret ombak? Dalam keadaan begini, saya baru ingat kalau bahkan saya nggak pamit sama kedua orangtua (karena saya nggak ingin berdebat ini itu jalan-jalan seperti ini). Bagaimana kalau tiba-tiba terjadi apa-apa? Tapi cerita si Ibu juga menandakan bahwa keadaan seperti ini berarti sudah biasa terjadi. Kapal setiap hari pulang dan pergi. Saya menoleh ke kiri kanan, ke penumpang lain yang nampak tenang-tenang saja. Saya merasa agak lega.

Dua jam berlalu, kapal masih terus berguncang-guncang. Hampir dari seluruh penjuru kapal, suara huek-huek mulai terdengar. Mabok. Mbak dan ibu2 di belakang kami yang sepertinya sudah biasa dengan perjalnanan ini, tahu-tahu juga sudah huek-huek. Kepala saya sudah berputar-putar. Mana belum makan nasi sejak pagi lagi. Meski sudah coba melahap bekal makanan ringan yang dibawa, tapi rasanya belum nendang di perut. Teman saya sepertinya juga sudah merasa 'tak baik-baik saja.'

Rasa mual mulai merambati juga. Saya sudah nyiapan plastik kresek kalau sewaktu-waktu isi perut tak tertahankan lagi. Saya coba mejam-mejamin mata untuk mengalihkan pikiran.Tapi justru makin mual. Teman saya sudah menyerah dan huek-huek. Abang2 di kursi seberang yang sedari tadi nampak tangguh juga sudah muntah duluan. Satu-satunya yang  membuat saya merasa tenang di atas semua itu adalah suara seorang bocah lelaki yang terus mengoceh riang. Juga ketika kapal oleng dan terlihat daratan di sisi kanan. Artinya ini nggak terlalu di tengah lautan, jadi bukan laut dalam. Entah bagaimana tiba-tiba saya mulai merasa relaks. Saya mencoba memejamkan mata, mengalihkan pikiran dengan mendengarkan musik dari MP3: berhasil! Saya ketiduran. Entah berapa lama. Rasanya menyenangkan bisa membunuh waktu. Dan ketika terbangun, saya sudah merasa tak mual lagi.

Di luar terlihat sudah gelap di luar. Belum ada tanda2 mau sampai. Tapi guncangan mulai memelan.  Sejam, dua jam kemudian...

Tanjung Pandan, Akhirnya...
Tanjung Pandan. Pelabuhan kecil. Temaram. Meski ada beberapa orang menunggu di dermaga, tapi terasa lengang. Sebelum turun, si Abang Palembang menyarankan kami menginap di hotel langganannya, Hotel Citra. Jalan Sriwijaya, depan KFC. Katanya sih nggak terlalu jauh jalannya. Oke. Trims.
sumber peta: http://yuliacahang-student-esaunggul.ac.id

Sebenarnya sih kami ingin nginep di hotel dekat2 pantai, tapi menoleh ke kanan kiri nggak ada tanda-tanda suasana pantai dengan  hotel-hotelnya seperti yang saya bayangkan.

Jalan keluar pelabuhan gelap. Tukang ojek terus menawarkan jasa. Karena kami belum yakin mau kemana, kami memutuskan jalan. Nanya orang di warung. Ada hotel di seberang jalan, katanya. Mendanau hotel. Kami menyeberang jalan. Ada got menganga membelah jalan. Nampak kumuh dan bau. Dan hotel Mendanau ada di belakangnya. Jadi hotel ini menghadap got, pemandangan di seberangnya bangunan ruko. Kelihatannya sih cukup hotelnya cukup mewah, tapi saya pikir bukan tempat yang menyenangkan. Sudah kelihatan mahal, pemandangannya menyedihkan lagi.

Kami sudah terlalu letih dan lapar dan memutuskan untuk mengikuti saran si Abang di kapal mencari penginapan langganannya.

Kami jalan, sampai di pusat jalan sepertinya , sebuah bundaran yang semarak. Dikelilingi muara jalan, mungkin ada 7 atau 6 muara jalan yang bermuara di bundaran itu. Suasana yang membuat saya kagum. Lampu lampu masih menyala dari toko toko di kanan kiri jalan. Sepertinya ini pusat kotanya. Bayangan saya akan kota Tanjung Pandan yang klasik segera menguar. Kota ini lebih terlihat sebagai kota kecil yang baru menggeliat daripada sebuah kota kecil yang klasik.

Akhirnya kami menemukan Hotel Citra yang dimaksud. Awalnya agak ragu karena di depannya nggak tertulis hotel atau penginapan, cuma penjualan tiket dan warnet. Tapi ketika kami tanya, ternyata memang menyediakan penginapan. Kami diketemukan dengan pemiliknya, lelaki kecil  paruh baya yang berlogat kental Sunda. Harga penginapan 100 ribu berdua untuk kipas, 165 ribu berdua untuk yang ac. Nggak ada tivi. Tivinya di ruang tamu doang. Agak mahal sih untuk fasilitas segitu, tapi kami sudah lelah untuk cari penginapan lain jadilah kami memilih yang ber-ac karena kamar mandinya di dalam. Kami di antar ke kamar. Kamarnya kecil tapi bersih dan terasa nyaman. Lumayanlah.

Seafood yang Mengecewakan
Usai mandi, kami memutuskan cari makanan di sepanjang jalan. Penginnya sih seafood. Tapi nggak ada. Ada chinese food depan penginapan, ramai banget dan yang jualan berjilbab. Kayaknya enak. Kami niat kesana, tapi ternyata kata si mbak penjualnya sudah habis. Hmmm..kami jalan lagi.  Yang ada bakso2an, penyetan....bosan. Tapi karena terbaca ada ikan lain selain lele, kami memutuskan makan di sana. Warung sederhana saja. Demi menuntaskan hasrat akan seafood, saya pesan kerapu asam manis, teman saya pesan kepiting.

Setelah menunggu beberapa waktu, pesanan datang. Rasanya: tak memuaskan karena sepertinya kualitas bumbunya rendah sekali. Dan yang lebih mengerikan adalah harganya, untuk menu alakadarnya begitu kami harus membayar 88 ribu! Kepitingnya ternyata dihargai 50 ribu! Waks...apa itu memang harga wajar atau harga untuk pendatang? Tapi tentu saja kami nggak bisa protes. Kami pulang, istirahat.
(Bersambung)

Menengok Negeri Laskar Pelangi (3)

Kami bangun pagi-pagi dan bersiap mencari sewaan sepeda motor. Ibu penginapan menyarankan kami untuk ke Penginapan Mutiara di dekat Mesjid Jami’.

Penginapan Mutiara adalah penginapan kecil yang terkesan klasik. Tempelan bermacam jasa layanan tertempel di kaca. Mulai dari penjualan tiket hingga jasa pengiriman. Di meja resepsionis yang sangat alakadarnya, seorang bapak tua yang berwajah ramah sedang sibuk dengan bukunya. Kami tanya tentang sewa motor. "Enam puluh ribu sehari." Katanya. "35 kalau setengah hari." Oke, kami ambil setengah hari. Ketika kami mengatakan bahwa kami mau ke Belitong, beliau cerita kalau penumpang kapal yang kemarin dari Palembang ke Belitong yang ketinggalan kapal kemarin diinapkan di tempatnya.

Kami dipersilahkan memilih motor. Pilihan kami motor Honda Helmin' yang masih baru. Sambil menunggu si Bapak menyelesaikan administrasi (yang cukup lamban), kami sekalian tanya-tanya tempat yang kira-kira bisa kami kunjungi. Ada pantai terdekat. Tapi sepertinya tak menarik. "Kalau Belinyu?" "2 jaman. Pas kalau pulang jam 12." Tapi saya pikir terlalu mepet. "Kalau ke Sungailiat?" "Sejaman. Banyak pantai bagus di sana."

Biking ke Sungali Liat
Oke, kami memutuskan ke Sungai Liat. Si bapak sempat menggambarkan peta untuk kami. Tapi petanya ruwet. Ketika kami mencoba mengikuti peta itu, kami malah kesasar,hihi.
Jalanan ke Sungai Liat yang mulus dan lebar

Jalan ke Sungailiat sama saja dengan jalanan kemarin dari Muntok, halus mulus. Cukup ramai sih kendaraan yang hilir mudik. Panas membakar. Bagusnya di Bangka ini papan petunjuk jalan nyaris selalu ada di persimpangan, meski sayangnya nggak pernah dikasih jarak tempuhnya. Kami ikuti saja petunjuk jalan.

Ternyata pemilihan motor baru nggak terlalu menguntungkan karena bensinnya boros banget. Baru kami isi dua liter menjelang berangkat, belum apa-apa sudah menunjukkan batas dasar. Akhirnya kami isi lagi di pom bensin dua liter lebih.

Kami sampai di Sungailiat. Agak kebingungan karena petunjuk tiba-tiba kabur. Kami ikuti feeling saja, muter-muter. Mana perut lapar lagi. Rumah makan yang ada di kanan kiri jalan terlihat tak menarik. Yang agak besar paling rumah Makan Padang. Aduh, jauh-jauh ke Bangka masa cuma makan di rumah Makan Padang? Enggak banget.
Suasana perkampungan warga keturunan Tionghoa

Kota Sungailiat terlihat cukup besar dan rapi. Jalannya lebar dan dua jalur. Kesannya rapi. Sayang trotoarnya tetap nggak nyaman untuk pejalan kaki karena sempit dan banyak yang rusak.

Ketika kami memutuskan untuk balik, ternyata kami dapat petunjuk jalan lagi lokasi ke arah pantai. Ke arah pantainya melewati perkampungan gitu. Kesannya sih sudah desa urban ya. Rumah-rumahnya terlihat layak. Jalannya sama saja bagusnya. Di pertigaan ada tulisan 3 pantai: Pantai Batu Bedaun, Pantai Parai dan Pantai Matras.

Pantai Batu Berdaun, indah sih tapi tak terawat :(
Pantai Batu Bedaun, Pantai Parai  & Pantai Matras
Pantai pertama, Batu Bedaun. Ada plang kecil di belakang rumah warga. Jalannya juga jalan kecil meski sudah di aspal kasar. Sekitar 300 meter ke dalam sudah ketemu pantai. Pantainya: menyedihkan. Sepi tak terawat. Hamparan ilalang terlihat mengering kekuningan, mungkin habis disemprot racun gulma. Pohon -pohon kelapa berjejer di pinggiran. Tak ada jejak kalau sering dikunjungi orang ramai. Mungkin hanya penduduk sekitar.  Kami foto-foto sebentar, dan karena merasa takut meninggalkan motor lama-lama di pinggiran, lalu jalan lagi.

Berikutnya: Pantai Parai. Ternyata sudah jadi resort. Sempit saja, tapi terlihat terawat. Ada cottage-nya segala.
Pantai Matras

Kami lanjut ke Pantai Matras. Jalannya sepi. Di kanan kiri vegetasi khas pantai, perdu-perdu dengan warna hijau terang, terbakar di sana-sini. Bebatuan granit yang menjulang. Saya bertanya-tanya, tempat ini dulunya pegunungan atau laut?

Pantai Matras juga terbengkelai kesannya, tapi sepertinya cukup sering dikunjungi orang. Ada warung-warung makanan dan gazebo-gazebo  meski sangat alakadarnya. Warungnya juga nggak ada yang buka. Mungkin hanya di akhir pekan atau hari libur. Ada beberapa orang di seberang jalan, sepertinya anak kuliahan yang sedang ospek. Gundukan pasir  bertumpuk di sepanjang bibir pantai, mungkin mau dibangun apa gitu, tapi jadi memberi kesan tak indah. Karena takut kesiangan, setelah berfoto, kami memutuskan untuk pulang.

Pantai Rebo
Di perjalanan pulang, kami membaca plang Pantai Tanjung Pesona dan berpikir untuk singgah, eh, tiba-tiba di tikungan petunjuk arahnya sudah menghilang lagi. Ujung-ujungnya kami singgah  di Pantai Rebo. Jadi dalam perjalanan Sungai Liat - Pangkal Pinang ini ada banyak pantai-pantai yang bisa disinggahi sepanjang jalan.
Pantai Rebo

Ternyata ke Pantai Rebo, masuk ke dalamnya cukup jauh dari jalan utama. Melewati pemukiman pecinan. Bangunannya sih nggak khas.Cuma ada lampion dan kuburuan di kanan kiri. Kalau nggak salah waktu itu sedang menjelang upacara sembahyang arwah atau apa gitu. Di depan rumah mereka membuat sesajian, ada juga yang di bawah pohon. Kuil-kuil semarak oleh patung besar berwajah buruk.

Pantai Rebo terkesan terbengkelai. Padahal, kami baca, katanya pantai yang indah dengan bukit-bukit. Nyatanya: terlihat tak terurus, ada warung-warung kecil, sepertinya warung nelayan. Ada kuil kecil dan orang-orang sedang menyiapkan perayaan. Kapal-kapal nelayan sedang bersandar. Suasananya sih sejuk, mungkin karena ada dua baris tanaman pinus di sebagian pinggiran.

Mengejar Kapal ke Belitong
Karena lapar dan keletihan kami agak lama di sini sebelum akhirnya pulang karena tahu-tahu sudah pukul 11. Nyari makan sepertinya nggak sempat lagi. Jadi pulang langsung balikin motor. Si bapak  bilang kalau penumpang transit kapal yang nginap di tempatnya sudah jalan ke pelabuhan dan kami sebaiknya segera pergi agar tak ketinggalan kapal lagi.

Kami buru-buru ke penginapan buat check out. Mau beli tiket kapal di agen seberang penginapan, tapi mereka menyarankan untuk beli di pelabuhan saja karena sudah mau berangkat.

Kami ke pelabuhan naik angkot. Agak ketar-ketir juga karena angkotya sempat singgah nganterin penumpang. Tapi ternyata pelabuhannya nggak terlalu jauh jadi sebentar saja kami sudah sampai.

Kami tergesa beli tiket dan masuk. Pelabuhannya nggak terlalu ramai. Lusuh dan nggak ada pertanda apapun. Orang mondar mandir sesukanya. Mungkin karena cuma ada satu pelayaran sehingga orang sini nggak ada bingung-bingungnya. Kapalnya sudah sandar. Kami naik saja. ternyata dapat di dek bawah, kacanya terlalu tinggi  sehingga nggak bisa lihat laut.

Cukup ramai. Kami liat si Ibu di rumah makan kemarin. Kami juga ketemu Si Abang yang kemarin ketemu di Palembang.
(Bersambung)

Senin, 29 September 2014

Menengok Negeri Laskar Pelangi (2)

Menuju Pangkal Pinang
Sekitar 3 jam kami sampai di pelabuhan Tanjung Kelian, Muntok, Bangka (orang lokal biasa melafalkannya: Mentok). Pelabuhannya lengang saja. Kami agak bingung. Kami memutuskan bertanya kepada petugas pelabuhan, yang kemudian mencarikan kami mobil.

Si Abang sopir meminta ongkos: Rp 120.000, artinya Rp. 60.000 per orang. "Ke Belitong?" tanya saya. "Pangkalan Balam." jawab si Abang. Karena tarif dan tujuannya sama seperti yang saya baca di panduan, jadi aku naik  saja. Tapi di kepala, sejujurnya saya masih agak bingung: kami kan mau ke Tanjung Pandan Belitong, bukan Pangkalan Balam? Lalu saya tanya ke mbak-mbak yang duduk di sebelah: "Ke belitong juga ya?" "Pangkal pinang." Sahutnya pendek. "Berapa jam?" "Nggak tahu." Ternyata dia juga baru pertama ke sini. Hmmm.

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Bangka. Vegetasi yang terbentang di kanan kiri jalan: tanah kekuningan yang nampak tandus, perdu dan tanaman paku warna hijau muda hingga kemerahan karena terpapar matahari dan kekurangan nutrisi tanah rumah-rumah kecil tapi cukup layak, kebun karet, kebun sawit, hutan kelabu di kejauhan... Semakin ke dalam, suasananya makin terasa hijau. Tak ubahnya seperti suasana pulau-pulau besar. Jauh berbeda dengan pulau-pulau kecil di sekitar Riau dan Kepri yang pernah saya kukunjungi. 'Peradaban' sepertinya berlangsung sudah cukup lama di pulau ini dan kehidupan cukup ‘normal’ seperti layaknya orang-orang di pulau besar. Pendeknya, pulau ini sepertinya cukup nyaman untuk ditinggali.

Di tengah jalan, kami diguyur hujan. Perjalanan saya baca akan memakan waktu sekitar 3 jam. Itu cukup lama. Si Abang Sopir berbaik hati beberapa kali menanyakan tujuan kami. Dan dia sepertinya punya cukup koneksi tentang kapal ke Belitong. Kami sempat singgah di rumah makan yang ramai. Hidangannya prasmanan dan lauknya beraneka ragam. Ada kepiting dan aneka hidangan laut. Rasanya sih standar dan harganya lumayan: 25 ribu per porsi. Saat makan kami sempat ngobrol sama ibu-ibu yang juga mau ke Belitong. Katanya kapal kemungkinan sudah berangkat. "Berapa lama ke belitong?" tanya saya.  "4.5 jam," katanya. Tapi pernah dia sampai 7 jam ketika cuaca buruk. Waduh. Agak miris juga mendengarnya.

Usai makan, si abang sopir memberitahu kami kalau kapalnya sudah nggak terkejar. Berarti si Ibu tadi benar. "Nanti bermalam saja di Pangkal Pinang." sarannya. "Sudah punya tiket?" "Belum." Jawab saya. Usut punya usut, kalau sudah beli tiket terusan, akan disediakan penginapan ternyata. Hmm, saya pikir itulah sebabnya tiket terusan Palembang-Belitong di batasi karena sering kejadian ketinggalan kapal begini. Tentu saja pihak kapal bakal bangkrut kalau harus menanggung penginapan semua penumpang kalau terjadi penundaan begini. 

Perjalanan ke Pangkal Pinang memang tak kurang dari 3 jam. Jalannya mulus dan lengang. Tapi hujan terus membuat saya ketar-ketir: kalau hujan terus begini, bisa jadi kami tak bisa kemana-mana. Untunglah, waktu kami sampai Pangkal Pinang, ternyata cuaca cerah di sana.

(Gagal) Berburu Seafood di Pangkal Pinang
Si abang berbaik hati mengantarkan kami ke dekat penginapan  di Jalan Mesjid Jami. Ada sebuah penginapan yang nampak kumuh, Penginapan Srikandi. Tapi karena yang menyambut kami seorang ibu-ibu, jadinya kami berpikir untuk menginap di situ saja. Suasananya seperti kos-kosan. Rp. 160 ribu per malam untuk dua orang. Ternyata itungannya per orang bukan perkamar. Cukup mahal juga karena kamarnya kecil saja. Agak lusuh. Meski kamar mandi dalam, tapi kamar mandinya sangat alakadarnya. Fasilitas lainnya AC tua dan tivi tabung tua. Cukuplah untuk beristirahat.

Setelah istirahat 1 jam melepas penat, kami jalan-jalan ke luar. Infonya dari ibu pemilik penginanapan: tempat nongkrong di Lapangan Merdeka. Nggak terlalu jauh. Kami jalan pelan-pelan saja, menelusuri trotoar emperan pertokoan. Suasananya khas kota kecil. Ada penjual otak-otak dan mpek-mpek yang menguarkan aroma cuka yang khas, penjual oleh-oleh yang dipenuhi kerupuk ikan bergelantungan...

Setelah berjalan sekitar 15 menit akhirnya kami sampai di Lapangan Merdeka. Sebagaimana umumnya lapangan kota, lapangan ramai oleh anak-anak yang bermain dan penjual makanan gerobak. Saya sempat berpikir ini seperti Merdeka Walk-nya Medan atau semacam pujasera, ternyata ya lapangan kota biasa. Tapi suasananya cukup nyaman dan petang cukup cerah. Kami duduk-duduk hingga gelap dan memutuskan untuk cari rumah makan seafood tapi bingung dimana. Kami tak punya peta sama sekali.
Lapangan Merdeka,Pangkal Pinang


Lalu sambil jalan, kami nanya ke orang-orang yang kami temui dimana kami bisa makan seafood. Ibu-ibu penjual jajanan mengatakan kalau  kami bisa ke Puncak, di dekat ujung jalan. Puncak adalah semacam mall kecil. Kami langsung mikir, pasti fast food-fast food-an deh. Lalu kami tanya satpam bank di pinggir jalan. Seafood di belakang Lapangan Merdeka atau di seberang Barata (nama sebuah toko) katanya. Keduanya sudah kelewatan. Tapi Barata belum terlalu jauh, jadi kami memutuskan kesana. Tapi sampai disana, restorannya tutup. Mau balik ke Lapangan Merdeka enggan karena kaki sudah mulai capek. Ya sudah, kami balik, menyelusuri kompleks pemukiman yang ternyata padat.

Kami jalan pulang. Di sudut jalan yang kami lalui siang tadi, ada warung-warung yang tampak semarak. Menunya: mpekmpek-tekwan, sate dan sejenisnya. Sepertinya kultur Sumatera Selatan masih kuat di sini. Karena tak tahu mau kemana lagi dan sudah lapar, kami pun memutsukan singgah di salah satu warung. Saya pesan tekwan, teman saya pesan sate. Rencana wisata kuliner gagal.

Kami pulang ke penginapan. istirahat sambil menyiapkan tenaga esok hari. Rencananya kami akan jalan-jalan setengah hari karena kapal ke Belitong baru berangkat pukul 1 siang. Artinya kami harus bangun pagi-pagi agar punya cukup waktu untuk jalan-jalan. Mungkin ke pantai atau ke Belinyu yang katanya Kampung Pecinan.
(Bersambung)

Minggu, 28 September 2014

Menengok Negeri Laskar Pelangi (1)

Jambi-Palembang
sumber: indonesia-tourism.com


Yeah, Babel, finally. Kesempatan itu akhirnya tiba: mengunjungi salah satu tempat yang masuk dalam list to visit. Karena kapal Palembang-Bangka hanya berangkat pagi, jadi saya dan Sasa, teman saya, memutuskan untuk berangkat dari Jambi malam hari, agar tak perlu menginap di Palembang. Perjalanan Jambi-Palembang, normalnya ditempuh 6-8 jam dengan travel. Ada banyak travel yang malayani rute ini. Demi mengirit budget kami memilih travel IMI yang murah meriah. Bayangkan, dengan fasilitas nyaris sama, kami cuma harus membayar Rp. 65000, sedangkan untuk travel biasa harganya Rp. 110.000. Kalau mau lebih murah lagi, sebenarnya bisa naik bus, (kalau nggak salah Rp. 55.000), tapi kami khawatir kalau bus jalannya lebih lambat, dan kami bisa ketinggalan kapal.

Perjalanan Jambi-Palembang cukup lancar. Si Abang Sopir sepertinya pasang gas terus sepanjang jalan dan tahu-tahu kami sudah sampai di Palembang. Di luar masih gelap, saya melirik jam: jam 2 pagi! Whuah...artinya kami masih harus menunggu lama hingga pagi menjelang.

Terdampar di Loket
Begitu turun di loket, abang-abang ojek langsung riuh menawarkan jasa. Sangat menggangu karena bahkan sampai kami duduk di bangku loket, mereka masih terus memburu kami dengan pertanyaan: mau kemana? Kami memilih diam saja. Saya sering mendengar bahwa di Palembang ini banyak orang-orang yang suka mencari-cari kesempatan. Kami khawatir kalau-kalau kami kelihatan tak tahu menahu nanti malah dikerjai.

Loket, seperti umumnya loket-loket transportasi darat di negeri ini, tak nyaman dan sangat alakadarnya. Tapi untung ada beberapa kursi butut yang dihamparkan di teras yang suram dan lusuh. Bersama kami, ada beberapa orang juga yang sepertinya harus menunggu pagi untuk meneruskan perjalanan. Kami memutuskan untuk tidur saja. Tapi ini pun tak terlalu nyaman karena tidur dalam posisi duduk membuat punggung pegal, belum lagi nyamuk yang berdengung-dengung.

Ketika terang menyergap, hujan rintik-rintik mulai turun. Semakin terang bertambah deras. Karena berdasar info kapal biasanya berangkat pukul 7 pagi, setidaknya kami sudah harus berangkat dari loket pukul 6. Tapi bagaimana kesananya ya? Kami bertanya pada ibu-bapak, sepertinya sepasang suami istri, yang juga menunggu bersama kami.

Si Bapak dengan antusias memberi kami arahan bagaimana caranya kami bisa ke pelabuhan untuk mencari kapal ke Bangka. Tapi belum apa-apa, beliau sudah wanti-wanti supaya kami hati-hati, jangan tanya orang di sini karena itu akan menyusahkan. Waduh, saya mengerutkan kening. Keder. Sepertinya si Bapak memahami kekhawatiran kami, dan memutuskan untuk mengantarkan kami ke loket besar IMI. Menurutnya, di sana biasanya ada bus yang mengantarkan ke pelabuhan.

Loket besar hanya berjarak beberapa meter dari loket yang kami singgahi. Suasananya ramai tapi kumuh, khas tempat dimana kehidupan berlangsung selama 24 jam, penuh dengan orang-orang berwajah lusuh dan kuyu kurang tidur. Bis ke Bangka sudah mau berangkat. Tiketnya: Rp.220.000 untuk kelas ekonomi. Eksekutif sudah habis. Mahal sekali? Menurut info yang kubaca cuma 170-an ribu. Harga lebaran, kata abang penjaga loket acuh sambil mengulurkan kuitansi. Saya mengeluarkan uang Rp. 440.000 sambil meringis. 

Ke Pelabuhan Boom Baru
Kami dibawa dengan mobil kecil dan penuh sesak menuju sebuah kompleks pertokoan, dan berhenti di depan sebuah gedung bertuliskan nama perusahaan penyeberangan yang melayani rute Palembang-Muntok-Tanjung Pandan. Sopir dari loket turun untuk membeli tiket.  dan kemudian membagikannya kepada kami. Saya masih penasaran dengan harga tiket yang menurut saya cukup mahal. Jadi iseng saya masuk dan melihat harga daftar tiket: Rp. 190.000 untuk kelas ekonomi, 220 untuk eksekutif! Wah, sialan. Agak keterlaluan juga mereka mengambil untung untuk jarak sedekat ini: 30 ribu. Inilah penyakit orang-orang di negeri ini yang kadang membuat tak nyaman. Hmmh...

Abang yang tadi menyopiri mobil kami keluar dan membagikan tiket. Ketika sadar tak ada nama tertera, seorang bapak protes: bagaimana kalau terjadi kecelakaan? Tapi sepertinya si penjual tiket cuek saja. Ah, Indonesia!

Shuttle bus membawa kami ke pelabuhan Boom Baru. Pelabuhan itu kecil dan kumuh. Seharusnya kalau kami lebih berani, kami bisa  saja kami langsung cari tiket ke sini tadi, dengan harga normal tentunya. Tapi sudahlah.

Tak ada petunjuk apa-apa di pelabuhan dan orang-orang sepertinya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Petugas cuma mondar-mandir tanpa memberi bantuan apa-apa, malah ada yang sibuk jualan tiket travel dari Muntok. Saya sedikit bingung. Ke arah mana nih ruang tunggunya? Mana penumpang banyak sekali. Kami memutuskan mengikuti ibu-ibu dan dua anaknya yang tadi semobil sama kami karena dia tampaknya orang Bangka. Alih-alih menunggu di ruang tunggu yang memang kecil, penumpang berjubel di koridor keberangkatan.

Ada dua kapal yang sedang sandar. Tenryata yang satu ke Batam dan satunya ke Bangka tapi kapal pagi. Kapal kami yang jam 7 belum datang. Suasana benar-benar tak nyaman dan tak ada yang bisa diperbuat mengenai hal itu.

Setelah beberapa waktu, kapal muncul. Jetfoil berukuran sedang. Belum apa-apa saya sudah miris: apa muat penumpang sebanyak ini? Begitu pintu ke dermaga di buka, penumpang berjubel saling mendahului. Meski kami berada di antrian tengah, pada akhirnya kami menjadi yang paling belakang karena tak bisa cukup agresif bersaing dengan penumpang lain yang terus merangsek ke depan.  Ketika kami menoleh ke belakang, di belakang kami sudah kosong. Agak menyesal juga karena kami harus ikut berdiri berdesakan tadi. Kenapa tak duduk saja dan menyusul belakangan? Hihi...

Kapal yang Overload
Masalah belum selesai begitu memasuki dermaga. Lagi-lagi orang berebut ingin mendahului karena sepertinya kapal tak akan mampu mengangkut semua penumpang. Saya teringat pengalaman di Batam dulu: tiket sudah dibeli bukan berarti jaminan dapat berangkat. Waktu itu sih tiket bisa dikembalikan. Tapi di sini?  Dengan pelayaran yang sepertinya cuma sekali? Apa kami harus menunggu kapal besok pagi? Mengecewakan sekali. Tapi memaksakan masuk juga mengerikan. Banyak kejadian kapal tenggelam karena kelebihan muatan. Miris ketika melihat petugas kapal terus saja memasukkan penunumpang. Dua petugas pelabuhan yang berdiri di tangga diam saja. Apa mereka secuek itu terhadap keselamatan manusia?

Untunglah, beberapa waktu kemudian, petugas kapal mulai mencegah orang masuk kecuali pemegang tiket VIP. Tapi beberapa orang nekad masuk. Suasana mulai agak panas. Lalu seorang lelaki berwajah oriental berseragam kapal memerintahkan untuk menghentikan penumpang masuk. Mungkin dia pemiliknya. Ketika tangga ditarik, beberapa orang berteriak emosi: barang kami! Petugas berteriak balik: ini menyangkut keselamatan!  Pintu ditutup. Meski rasanya cukup kasar, tapi saya pikir lebih baik begitu daripada mengorbankan keselamatan.

Penumpang yang tertinggal masih cukup banyak. Tak ada kejelasan akan diapakan kami. Tapi saya pikir, pihak kapal tak akan tak bertanggung jawab juga karena ini menyangkut kepercayaan. Kemungkinan diikutkan di kapal berikutnya, karena dengar-dengar, sepertinya ada yang jam 12. Sedikit kecewa sih karena artinya kami tak akan bisa langsung ke Belitong hari ini. Konon kapal Bangka-Belitong berangkat jam 2 siang. Tak apalah.

Untunglah, kami ternyata tak harus menunggu lama, karena beberapa menit kemudian, kapal cadangan yang lebih kecil datang. Kami juga diuntungkan karena meski tiket kami tiket ekonomi, kami bebas memilih tempat duduk. Kami memilih duduk di kursi di belakang nahkoda. Waktu kami naik, si nahkoda sedang sibuk merayu seorang cewek berbaju merah. Saya dan teman saya cekikikan melihatnya. Apalagi melihat si cewek sepertinya menikmati digoda si cowok. Mungkin merasa keren digodain nakhoda kapal. Haha.

Kami berangkat sekitar jam setengah sembilanan. Menyusuri Sungai Musi yang berair jernih, lebar dan sepertinya cukup dalam karena nyatanya bisa dilayari kapal sebesar ini, dan juga kapal-kapal lain yang cukup besar banyak yang bersandar. Mencoba membayangkan di masalalu, zaman kejayaan Sriwijaya dulu, ketika kapal-kapal dari berbagai pelosok dunia singgah di sini...Syukurlah sungai ini masih terjaga ‘kualitas’nya hingga kini, karena biasanya kebanyakan sungai besar di masalalu, mengalami pendangkalan sehingga tak bisa dilayari lagi. Tapi Sungai Musi agaknya pengecualian dan semoga akan tetap begitu.

Kami melayari sungai cukup lama. Kanan kiri kebanyakan adalah pepohonan pinggir sungai. Membosankan. Saya tertidur. Sekitar 2/3 perjalanan adalah menyusuri sungai dan 1/3 nya baru memasuki lautan. Meski cuaca agak mendung, tapi ombak cukup tenang. Kapal melaju dengan tenang.
(Bersambung)

Sabtu, 27 September 2014

Bangkok, Suatu Ketika (IV-habis)

28 Desember, Au Revoir bangkok!

"Menjajal" MBK
Ini hari terakhir di Bangkok, tapi kami masih punya waktu hingga jam 4 sore. Setidaknya, kami masih bisa jalan-jalan setengah harian. Saya ngajuin opsi: jalan-jalan di sekitar Khaosan atau ngemall ke MBK yang konon favoritnya turis Indonesia itu? Tapi ujung-ujungnya saya tambahin: kalau cuma seputaran Khaosan bosen. Jadi sebenarnya bukannya ngasih opsi. Dan kami pun sepakat ke MBK.

Biar praktis, kami sekalian check out. Agak ribet juga sih kalau jalan-jalan dengan tas yang sudah makin berat. Tapi kami juga nggak mau ambil resiko terlambat ke bandara.


Kami nanya ke petugas hotel, kalau ke MBK naik tuk-tuk berapa? Karena dari kemarin belum jadi-jadi nyobain tuk-tuk, jadi masih penasaran. Tapi si mas resepsionis nyaranin kami untuk lebih baik naik taksi saja. Hmm, benar juga. Naik tuk-tuk bisa-bisa kami diajak muter-muter nggak jelas. Oke. Kami jalan keluar untuk cari taksi. Bye soi rambuttri, bye Baan Sabai. Bukan penginapan yang sangat berkesan tapi cukup memuaskan. Nggak tahu kenapa penginapan ini sepi-sepi saja padahal tarifnya cukup murah. Mungkin faslitiasnya yang kurang lengkap.

Kami naik taksi di pinggir jalan besar. Kali ini sopirnya bapak-bapak tua berwajah sangat Thailand, sedikit bisa Bahasa Inggris dan ramah. Seperti biasa dia nanya kami dari mana. Ketika kami bilang dari Indonesia, dia bilang ternyata orang Indonesia sama saja sama orang Thailand. Lalu kami terlibat obrolan basa basi sepanjang jalan. Bapaknya ramah banget. Pas turun dia ngajak kami salaman segala. Naik taksi sampai MBK 100 bath.

Masih terlalu pagi ketika kami sampai dan MBK belum buka. Di daerah ini ternyata berkerumun pusat-pusat perbelanjaan seperti halnya Pratunam. Ada Jim Tomson Jewelry yang kesohor itu, Siam Paragon...
Jajanannya mirip sama yang di Indonesia

Sambil nunggu mall-nya buka, kami nyoba cari makan tapi yang buka cuma McD. Kami nyeberang jalan, nemu penjual kue-kue basah seperti jajanan pasar di Indonesia. Kami membeli semacam kue bugis yang dibungkus daun pisang. Ternyata di situ ada juga penjual nasi yang dibungkus sterofam. Banyak orang-orang yang berlalulalang singgah untuk beli. Sepertinya mereka para pekerja di toko-toko situ. Nasi sama ikan 40 bath. Karena nggak ada tempat duduk, kami cuek saja makan di emperan toko yang belum buka. Orang-orang acuh saja, sepertinya itu bukan hal yang tak biasa.

MBK  baru buka jam 10. Para pekerja yang sudah datang sejak beberapa menit dan berkerumun di koridor jembatan penyeberangan, berhamburan masuk begitu pintu dibuka.

MBK mirip pusat perbelanjaan di Pratunam, tapi lebih besar. Kalau jualannya sih nyaris sama, baju-baju, souvenir, kain-kain Thailand. Harganya lebih miring daripada di pinggir jalan. Nyesel juga baru tahu terakhir-terkahir. Kalau tahu begini mending kami beli oleh-oleh di sini. Lebih nyaman tentu saja karena adem dan  bersih.

Karena kami tinggal punya beberapa bath dan oleh-oleh juga sudah terbeli, kami hanya lihat-lihat saja. Tapi tas yang menempel di punggung terasa makin berat, jadi kami pun menyerah meski rasanya masih terlalu pagi kalau ke bandara. Terakhir, pas jalan ke tempat nunggu taksi, lihat layar iklannya MBK dan disitu disebutin kalau ternyata ada tempat penitipan barang di lantai atas. Coba kami tahu sejak awal, tentu kami bisa bersantai ria window shopping.
Lanskap jalanan menuju bandara.
Don Mueang dan Sopir Taksi yang Nyentrik
Kami nyari taksi di luar. Dibantuin nyetop taksi sama satpamnya MBK. Ke Don Mueang, 400 bath. Nggak pakai argo. Kami males kalau nggak pakai argo. Mungkin sih jatuhnya akan segitu juga, tapi rasanya nggak sreg kalau nggak ber-argo. Akhirnya kami menyetop taksi berikutnya. Kali ini berargo. Yang bawa Bapak-bapak berwajah Chinese yang terlihat begitu necis, tapi cukup ramah. Sambil melajukan taksi, dia langsung muterin CD lagu Barat oldies. Pas banget dengan penampilannya. Hihi, lucu sih liat si bapak. Sepanjang jalan, dia ngajak ngobrol dengan Bahasa Inggris sederhana.

Taksi melaju. Nggak terlalu macet. Masuk jalan tol bayar 50 bath. Mirip-mirip jalanan ke bandara Soetta dengan gedung menjulang di kanan kiri dan tentu saja foto raja yang terpampang di semua sudut. Pemujaan yang terlihat total dari rakyat untuk rajanya.


Akhirnya sampai di Don Mueang. Argo menunjuk angka 200 bath-an. Tapi si Bapak minta tambahan 60 bath buat fee bandara atau apa gitu. Pokoknya totalnya 350an. Saya pikir, meski nggak sengaja, ide mencegat taksi di luar bandara waktu kami datang tempo hari adalah hal yang tepat. Kami dapat ongkos yang murah karena sepertinya nggak pake fee bandara segala macam.

Karena kami datang terlalu awal, counter check in kami belum buka. Untung ruang tunggu di luarnya cukup nyaman, meski sederhana saja. Kami tidur-tiduran menunggu waktu bersama penumpang-penumpang lain yang datang dan pergi. Rasa lapar menggerogoti lagi. Mau jajan di swalayan, harganya mahal-mahal semua. Mengalihkan rasa lapar dengan membaca dan mendengarkan musik. Ingat, barang yang tak boleh ketinggalan ketika melakukan perjalanan adalah buku dan pemutar musik!

Sekitar jam 2, check in dibuka. Antriannya minta ampun. Tapi kemudian saya ingat kalau kemarin waktu di Medan saya sempat check in di counter self check in dan boarding pass BKK-MDN sudah ter-print. Langsung saja ke waiting room, ujar si petugas. Kami pun melenggang ke bagian imigrasi. Plak2. Paspor kami distempel. Selesai. Kami menunggu di ruang tunggu yang lumayan mewah tapi terkesan hangat.

Au Revoir, Bangkok...
Pesawat agak terlambat beberapa menit. Tapi semuanya lancar. Meski semua fasilitas tambahan berarti nambah uang, tapi menurut saya pelayanan Air Asia cukup memuaskan. Crew-crew-nya lumayan ramah. 'MC' pesawatnya (hihi, apa sih itu namanya yang ngomong-ngomong di pesawat?) suara mas-mas yang terdengar empuk dan bikin meleleh. Hmm, kangen dengar orang ngomong pakai Bahasa Indonesia. Menurut saya, Bahasa Indonesia itu salah satu bahasa yang sangat indah buat didengarkan. Hehe,narsis.

Di belakang kami, ada turis Thailand yang mau wisata ke Medan. Paket turnya 20000 bath. Sekitar 6 juta. Lumayan murah ya. Sekitar satu jam kemudian, kami suara mas-mas yang menghanyutkan itu mengumumkan kalau kami akan segera mendarat di bandara Polonia. Tak ada perbedaan waktu antara Medan dan Bangkok, cuaca Medan berawan...Pesawat mendarat. Kami menjejakkan kaki di Polonia. Alhamdulillah. Liburan akhir tahun yang cukup menyenangkan. Sampai jumpa di petualangan berikutnya...:P

**(all photo credited to Mbak Tyas Augerah)


Catatan:

Pengalaman berharga dari perjalanan kali ini adalah:
- jangan sampai telat check in. Counter check in Air Asia biasa tutup 45 menit sebelum terbang. Di beberapa bandara, mereka sangat ketat terhadap aturan ini, terutama pada peak season. Untuk Air Asia, kalau ada yang bilang mau bantu, pastikan dia pakai seragam Air Asia. Terutama di bandara Polonia, banyak calo yang menyaru dan kadang memanfaatkan kelengahan kita. Be careful!

- Peta sangat penting buat memperhitungkan jauh dekat dan alternatif transportasi.

- Buku dan pemutar musik penting untuk membunuh waktu kalau tiba-tiba terjebak dalam situasi menunggu yang membosankan.

- Siapkan uang lokal pecahan sebelum keluar bandara. Ini penting banget kalau mau naik angkutan umum yang tarifnya murah meriah. Kalau kebetulan ada swalayan di bandara, jangan segan-segan mecahin duit disana. Dengan beli air mineral, misalnya.

-Terutama untuk cewek, pakai pakaian yang tak terlalu terbuka kalau mau mengunjungi tempat-tempat wisata di Bangkok. Kalau nggak suka pakai rok, bawa saja kain panjang buat jaga-jaga kalau nggak boleh masuk karena mengenakan celana.


Jumat, 26 September 2014

Bangkok, Suatu Ketika (III)

27 Desember: Pasar Terapung Damnoen Saduak, Shopping-Shopping

Jemputan yang Jam Karet
Kami bangun pagi-pagi dan bersiap. Ternyata lumayan berat juga bangun pagi-pagi. Salut juga dengan warung seberang jalan yang sepertinya tak pernah tutup.

Jam 7 kurang 10 kami sudah standby. Ternyata belum ada tanda-tanda jemputan. Jalanan masih lengang. Aroma masakan dari kedai makan di depan penginapan sudah menguar. Kami berniat beli sarapan, tapi tak ada yang menarik karena kebanyakan menunya pakai babi. Dua orang biksu dari kuil seberang berkeliling untuk mengambil sedekah. Matahari pagi berpendar di antara dahan-dahan ketepeng. Jalanan tampak basah, sepertinya hujan semalam. Suasana itu terasa begitu menenangkan.
Pagi yang tenang di Soi Rambuttri


Kami menunggu cukup lama. Ternyata sama saja kayak di negeri sendiri, jam karet. Hampir setengah 8 ketika mobil datang. Masuk ke mobil, kami disambut dua orang penumpang --mungkinsepasang suami istri--yang memperkenalkan diri bernama Julie dan Josh dari Malaysia. Lalu mereka mengajak kami mengobrol dalam Bahasa Melayu yang fasih. Katanya mereka sudah pernah bepergian kemana-mana. Ke Korea, ke New Zealand...Sepertinya mereka pasangan yang seru. Meski sudah terlihat cukup berumur, tapi terlihat masih mesra dan romantis. Lihat saja bagaimana kompaknya mereka pakai kaos pink-pink :)

Kami masih menjemput beberapa penumpang yang lain. Ada dua cewek dari Brazil, satu cewek dari Inggris, dan pasangan paruh baya dari Australia...

Mobil meluncur menelusuri jalanan mulus dan nggak macet.  Si guide, seorang perempuan muda, memperkenalkan diri bernama Phi. Dia menjelaskan bahwa perjalanan ke Damnoen Saduak memerlukan waktu sekitar dua jam. Hanya itu. Setelah itu dia nggak cerita-cerita lagi. Malah tidur kayaknya. Mungkin ini pekerjaannya setiap hari dan dia sudah bosan.

Pemandangan di kanan kiri hanya pemukiman-pemukiman yang tak terlalu khas. Semakin ke pinggir, bentang alamnya benar-benar sama dengan di Indonesia. Agak tandus, mirip-mirip daerah pinggiran pantai.

Sekitar dua jam kemudian, kami sampai di Damnoen Saduak,  floating market. Mobil berhenti di pinggir sungai kecil dengan boat-boat kecil yang berisik. Suasananya riuh rendah karena banyak turis. Setelah mengantri boat beberapa waktu, kami naik.
Pemukiman di sepanjang sungai menuju Damnoen Saduak. Bersih ya?

Damnoen Saduak: "Pasar Turis Terapung"
Boat meraung-raung, melaju menelusuri sungai kecil berair coklat dan anyir. Kanan kiri adalah rumah2 penduduk, rumah-rumah kayu panggung sederhana. Benar-benar mirip kayak perkampungan pinggir sungai di Indonesia.

Akhirnya terlihat tulisan 'selamat datang di Damnoen Saduak.'  Tapi mana pasarnya? Dari foto-foto yang pernah saya lihat, saya membayangkan sebuah pasar dengan para penjual bersampan, tapi ternyata ternyata kebanyakan kios-kios berdiri di daratan juga. Banyak boat, tapi bukan pedagang melainkan turis.

Sebelum menyebar, kami diterangin sama Phi. Di sini kami bisa tur gajah atau lihat cobra show. Kalau mau tur gajah atau liat pertunjukan ular, kumpul jam 10.30. Tapi bayar lagi. Untuk tur gajah kalau nggak salah 500 bath. Tapi kalau nggak mau ikut dua tur itu, bisa kumpul di sini jam 11.15. Di dalam, kalau mau naik sampan bayar 150 bath per orang. Oke. Kami sendiri tak berminat ikut dua tur yang lain. Sepertinya nggak terlalu worthed.

Kami masuk ke dalam. Padat sekali. Meskipun tak terlalu berminat, kami akhirnya memutuskan untuk naik sampan. Pendayungnya seorang ibu paruh baya yang cerewet. Sepanjang waktu dia terus teriak-teriak dengan bahasa yang tak kami pahami.
Damnoen Saduak yang super crowded

Sampan dikayuh, menghampiri penjual-penjual souvenir di pinggiran, ada yang pakai sampan juga. Sungai benar-benar padat. Bukan oleh pedagang, melainkan oleh sampan turis. Pedagang di sampan cuma beberapa, menjajakan makanan tentu juga untuk turis: buah-buahan segar yang terlihat menggiurkan, kelapa muda, kue-kue...Saya tak tahu, apa memang sekarang Damnoen Saduak memang sudah jadi atraksi turis semata atau memang ada pasarnya beneran. Seandainya ada, dugaan saya pagi-pagi sekali. Mungkin para pedagang-pembeli di sini sengaja memilih waktu yang tak akan terganggu oleh keriuhan turis.

Di tengah jalan, terjadi kemacetan. Sampan saling bertabrakan. Para pendayung saling teriak dengan bahasa yang melengking-lengking. Berisik. Turis-turis sibuk berfoto di atas sampan, tak terusik oleh keriuhan itu. Panas menyengat. Saya mulai merasa bosan. Perut juga mulai lapar. Akhirnya kami di ajak balik. Ya begitu lebih baik. Mending nyari-nyari souvenir menarik di pinggiran saja. Dan itu yang kami lakukan sekalian nyari makan.

Kami beli beberapa souvenir yang harganya cukup murah. Untuk tas-tas bercorak Thai, dihargai 300-400 bath, tapi akhirnya bisa ditawar 150-200 bath. Saya pikir harga di sini sedikit lebih murah daripada di Khaosan. Penjualnya juga ramah, dan lagi-lagi mengira kami orang Thailand juga.
Buah-buah segarnya menggiurkan :)

Karena kelaparan, kami cari makanan. Ada penjual mie kuah di pinggiran. Tapi sepertinya pakai babi, jadi batal beli. Akhirnya beli sesisir pisang, 20 bath, 5 potong ala kue serabi seharga 20 bath dan satu kantong jambu air yang merah menggoda seharga 50 bath. Tapi masih belum nendang rasanya kalau belum makan nasi. Eh, pas jalan keluar lihat rumah makan yang penjaganya berjilbab, mutusin mampir lah. Dia ngajak bicara bahasa melayu. Mungkin dari Malaysia atau Thailand Selatan. Kami makan, menunya ikan dengan bumbu kental. Satu orang 30 bath. Tak terlalu enak, tapi cukup menenangkan perut :)

Sekitar pukul 11 kami ke tempat bus. Setelah menunggu beberapa waktu, penumpang yang lain datang. Kami pun beranjak pulang. Beberapa didrop untuk lanjutin ke Tiger temple, termasuk pasangan Julie-Josh. Cuma kami dan pasangan tua Australia yang kembali ke Bangkok.

Saya tak terlalu tertarik lagi dengan pemandangan di jalan, jadi memutuskan untuk tiduran saja meski nggak bisa tidur. Damnoen Saduak tak terlalu mengesankan. Mungkin karena sudah terlalu populer jadi lebih sebagai tempat turis daripada pasar betulan.

Kami diturunkan depan Soi Rambuttri. Kami memutuskan pulang ke penginapan dulu karena ribet dengan barang-barang yang kami beli tadi. Hari masih siang,kami masih punya waktu sesorean untuk cari oleh-oleh.

Belanja-Belenji di Pratunam
Setelah istirahat sejenak melepas penat, kami berniat cari oleh-oleh ke Pratunam. Dari Khaosan kami naik bus no 2. Sampai di Pratunam bingung liat dept store di kanan kiri. Bayangan saya semacam pasar, ternyata pusat perbelanjaan modern. Celingak celinguk akhirnya mutusin masuk ke salah satu mall, City Center. Ternyata penuh sama penjual pakaian, jual baju yang cukup murah-murah dengan kualitas bagus: 200-300an bath. Di bawah 100 ribu. Kalau beli 3 lebih murah. Teman saya agak kalap. Saya sendiri tak terlalu tertarik untuk membeli pakaian. Sebenarnya masih pengin liat-liat, tp ternyata jam 7 sudah tutup. Kami segera keluar.

Pratunam

Di luar, masih banyak yang jualan. Kaos tipis yang kami beli di Khaosan seharga 120 bath kemarin, ternyata disitu cuma dihargai 100 bath. Kami masuk ke lorong yang semarak. Ternyata ada night bazaarnya meski barangnya nggak terlalu khas. Tapi di sini memang lebih murah. Ada kaos bertuliskan Thailand dengan bahan yang cukup bagus cuma 100 bath. Beberapa souvenir satu paket berisi 5 buah, juga dihargai 100 bath. Untunglah persediaan bath kami sudah tipis sehingga tak bisa lebih kalap belanja. Kami segera memutuskan untuk pulang. Eh, disorientasi arah lagi. Kami salah arah menunggu bus, jadi harus jalan lagi cukup jauh. Pegel.

Eh, sampai Khaosan pakai acara salah salah turun lagi. Kami nyasar masuk ke lorong kecil yang lengang dan suram. Ternyata itu rumah penduduk. Kumuh dan sempit, tapi cukup bersih.  Saya menyempatkan melongok ke dalam rumah-rumah yang berhimpitan. Cuma ambin-ambin dengan perabot sederhana. Mungkin mereka kaum miskin kota. Ironis juga sih ditengah dunia hingar bingar Khaosan road ada kehidupan seperti itu. Tapi yah, that’s life. Kami ikuti lorong makin nyasar. Akhirnya nanya cowok manis yang sedang mbersihin motor. Nyebrang, kata dia. Benar saja. Begitu menyebrang jalan, kami langsung disambut hingar bingarnya Khaosan.

(bersambung)

Bangkok, Suatu Ketika (II)

26 Desember: Bangkok City Tour

Mencoba Transportasi Sungai Chao Praya
Bangun pagi dengan badan lebih segar. Rencana pagi ini, ke tempat-tempat wisata di Bangkok, Grand Palace dkk. Saya ngajuin opsi: mau naik boat, tuk tuk atau taksi? Dari info yang saya baca, naik tuk-tuk bisa 50 bath-an.  Mahal, tapi nggak ada salahnya nyobain transport lokalnya Bangkok ini. Tapi akhirnya kami milih nyobain boat aja, apalagi dermaganya (pier) juga nggak jauh.

Kami cukup jalan kaki keluar gang kecil dekat Penginapan Bella Bella, lalu menyeberang ke dekat Navalai Hotel, nha, dermaga boat ada di gang kecil di sebelahnya. Awalnya kami ragu, karena gangnya begitu kecil dan ada beberapa bapak-bapak berseragam kayak tukang ojek. Ini dermaga apa pangakalan ojek? Tapi kemudian ada papan petunjuk kecil yang membuat kami yakin bahwa di situlah dermaganya.

Gangnya kecil banget, nyaris kumuh, penuh bendera-bendera plastik yang digantung. Bendera Thailand dan bendera kuning,  bendera kerajaan. Ketika kami melintasi bapak-bapak berseragam ojek itu, mereka cuek saja. Hmm, ini bedanya Indonesia sama Bangkok. Kalau di Indonesia pasti orang-orang seperti itu sudah reseh nanya ini itu. Tapi mungkin juga karena mereka mengira kami orang lokal, hihi..

Di depan kami terhampar Sungai Chao Phraya berlatar gedung-gedung perkotaan yang menjulang. Airnya terlihat cukup jernih dan bersih, mengingatkan saya pada Sungai Musi di Palembang. Tapi tetap saja, anyir.

Ada peta dekat dermaga yang nggambarin line boat. Tapi tulisannya keriting, pakai huruf Thai. Hadeh. Apa maksudnya? Dermaga sepi. Ada Ibu-Ibu sama Mas-Mas yang lagi mau buka lapak, sepertinya tempat jual tiket atau apa. Kami bertanya: Gimana beli tiketnya? Boatnya yang mana? menjelaskan dalam Bahasa Inggris sambil nunjuk peta. Saya bingung dengan logatnya yang belibet. Untung teman saya yang katanya terbiasa dengan logat Inggris Asia, bisa menangkap kata-katanya: beli tiket di boat, no sekian. Ooh...

Kami menunggu beberapa waktu. Kapal penuh sesak. Orang-orang berebut naik. Kami agak ragu, nanya ke kondektur kapal. Wat Arun? Iya katanya. Kami naik. Berdesakan. Sepertinya kapal salah satu transport umum masyarakat sini. Salut sih, karena ini angkutan praktis yang bebas macet. Kota-kota besar di Indonesia hampir semuanya di belah Sungai Besar, sayangnya jarang yang manfaatin buat jalur transportasi. Pemerintah sibuk menggalakkan tranportasi darat yang rentan macet. Sedih.

Kondektur mulai beredar buat nagihin ongkos. Wat Arun. Ujar saya sambil menyerahkan lembaran bath. Lupa saya berapa harga karcisnya. Tapi seingat saya lebih mahal dari ongkos bis. Kapal melaju.

'Nyasar' ke Wat Pho
Pas sampai di dermaga yang dimaksud kami turun. Dermaga kayu sederhana saja, nyaris reyot. Di seberang sungai, terlihat stupa kuil menjulang. Wat Arun? Loh ternyata masih di seberang toh? Sepertinya kami harus naik boat lagi ke seberang, tapi kami memutuskan jalan keluar dermaga saja. Ada pasar kecil yang tampak sangat tradisional. Dan di ujung jalan, ada Wat Pho yang megah. Saya membaca memang Wat Pho, Wat Arun dan Grand Palace berdekatan, tapi saya tak menduga sedekat ini. Kami memutuskan untuk ke Wat Pho.
Gerbang Wat Pho


Di pelataran, ternyata ramai sekali. Banyak remaja berseragam sekolah. Mungkin mereka lagi study tur. Juga ada beberapa turis mandar-mandir. Di dekat pintu masuk, ada loket penjual tiket yang memasang tarif masuk 100 bath atau 200 bath gitu. Lebih mahal dari yang saya baca di info internet yang kalo nggak salah cuma 50 bath. Tadinya kalau 50 bath saya mau saja, tapi 100 bath agak terlalu mahal dan kurang worthed. Saya pikir kuil ya begitu-begitu saja, kecuali bahwa di sini ada patung Buddha tidur, katanya. Kami urung masuk.
Jus buah delima yang menggiurkan :P

Ada banyak pedagang kaki lima di trotoar depan wat. Ada penjual rebus-rebusan: kacang rebus, ubi rambat rebus, kedeleai rebus...itu mah banyak di Indonesia. Yang agak beda penjual jus delima yang terlihat menggiurkan. Kami beli satu botol. 40 bath. Agak mahal, karena botolnya kecil saja. Kami foto-foto sebentar kemudian ke Grand Palace yang cuma di seberang jalan.

'Menggemporkan' Kaki di Grand Palace
Well, memang seberang jalan, tapi dikitari tembok dan kami harus berputar cukup jauh untuk sampai ke pintu masuknya. Mana matahari panas menyengat. Mengira bahwa bulan Desember, cuaca di Bangkok akan seperti di Indonesia, musim hujan adalah salah besar. Di sini Desember adalah kemarau.

Di pintu masuk Grand Palace, ada penjaga yang siaga di depan. Lucu dan kasihan melihat mereka harus berdiri tegak setiap hari begitu. Bersamaan dengan kami, rombongan turis berjubel. Mulai dari serombongan turis berwajah oriental, hingga bule-bule. Belum lagi rombongan anak-anak sekolah. Benar-benar ramai luar biasa.

Teman saya, Vince, sempat di tahan petugas karena pakai celana pendek. Beberapa orang yang berpakaian minim juga ditahan. Ternyata itu hal yang dilarang ketika masuk Grand Palace. Nggak boleh pakai celana pendek, rok pendek, celana yang terlalu ketat, baju yang terlalu terbuka...tapi tenang saja, pihak pengelola Grand Palace akan meminjami sehelai kain panjang yang bisa dipakai untuk rok dengan memberi deposit 200 bath. Nanti uang itu bisa diambil ketika mengembalikan kain. Di satu sisi, ini kesannya konservatif dan terlalu mencampuri urusan orang berpakaian, tapi di sisi lain saya pikir itu bagus buat negasin sikap 'dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung.' Belakangan, saya dengar cerita teman saya yang mengunjungi beberapa tempat di Thailand ada peraturan nggak boleh pakai bikini atau pakaian terlalu terbuka buat turis-turis. Kalau di Indonesia dibuat aturan seperti itu, tentu nggak akan ada orang yang reseh kalau ada bule-bule setengah telanjang.

Untuk masuk ke Grand Palace, kami harus beli tiket seharga 400 bath! Ini juga lebih mahal dari yang kubaca yang cuma 350 bath. Apa karena ini musim turis atau memang beneran sudah naik? Tapi kali ini, bagi saya cukup worthed. Grand Palace adalah ikonnya Bangkok. Rugi kalau sudah jauh-jauh ke sini nggak masuk ke dalam.

Pas di pintu masuk, ternyata ada pintu khusus buat orang Thai yang free. Saya iseng bilang ke teman saya, kalau kita cuek lewat pintu itu, mungkin orang akan percaya saja. Tapi teman saya bilang, nanti kita bisa kehilangan lebih besar hanya karena nggak mau bayar jumlah yang kecil. Saya juga percaya hukum karma semacam itu.
Hmm, megah ya?

Grand Palace benar-benar terkesan megah. Sepuhan warna keemasannya berkilauan di timpa cahaya matahari. Saya teringat Candi Borobudur. Dulu saya sering berpikir, Candi Borobudur adalah mahakarya. Tapi di Grand Palace, saya akhirnya sadar bahwa ada banyak mahakarya di dunia ini.

Museum Ratu Sirikit: Sederhana tapi Terjaga
Area Grand Palace luas betul. Selain kuil, ada museum senjata yang penuh beraneka macam senjata mulai dari tombak, kujur, pedang...lagi2 nggak boleh foto-foto di sini. Lalu di dekat pintu keluar ada Museum Tekstil Ratu Sirikit, istrinya Raja Bumibhol. Penasaran, kami iseng-iseng masuk. Sekalian manfaatin tiket karena sudah bayar mahal-mahal rugi rasanya kalau disia-siakan. Adem banget di dalam.

Di dalam museum, ada koleksi bajunya Ratu dan ruang diorama yang memperlihatkan perjalanan Sang Ratu waktu melakukan kunjungan-kunjungan penting dengan baju-bajunya. Lagi-lagi nggak boleh ambil foto di sini. Menurut saya sih sih nggak terlalu istimewa. Pakaian tradisional Indonesia jauh lebih kaya dan indah. Tapi saya pikir bukan di situ intinya. Ini adalah bagaimana negara ini begitu mencintai dan bangga dengan produk negerinya. 

Setelah ngadem dan melihat-lihat, kami turun. Pas di bawah, petugas mempersilakan kami masuk ke ruang eksibisi. Disana boleh foto-foto, katanya. Hmm, boleh juga. Kami kira ruang apa, ternyata ruang kecil dengan gambar-gambar proses pembuatan sutra. Meski boleh foto, tapi obyek fotonya terbatas. Pendeknya, segala sesuatu di sini sederhana saja, tapi dikemas dengan begitu rapi dan wah.
Lapangan di sekitar Grand Palace yang teduh dan asri

Kami keluar, disambut matahari tengah hari. Lapar mendera. Dimana kami bisa mencari makan? Kami menyeberang ke lapangan yang cukup teduh dengan rerimbunan pohon. Ada beberapa penjual kaki lima di pinggiran. Pilihannya ada nasi dengan ikan dan ada yang dengan daging babi. Satu porsi 40 bath. Saya ambil yang pakai ikan sambal. Rasanya standar. Sebenarnya masakan Thailand nggak terlalu berbeda dengan masakan Indonesia, tapi saya merasa ada bumbunya lebih kuat sehingga agak membuat eneg kalau terlalu banyak.

Menunggu Bus No. 70
Perjalanan selanjutnya, ke Vinanmek Mansion. Ke sana kami bisa masuk gratis dengan modal tiket terusan dari Grand Palace. Kami tanya ke tourist center yang ada di dekat situ. Mas penjaga menjawab dengan logat Thai yang belibet. Intinya, tunggu aja di halte dekat situ dan naik bus no 70. Oke. Thanks. Kami berjalan ke halte dan menunggu. Semenit, 5 menit, 15 menit, setengah jam...bus yang kami tunggu tak juga lewat. Kami mulai merasa jenuh. Jangan-jangan kami salah informasi. Mungkin kami nyobain tuk-tuk aja kali ya? Teman saya mberhentiin tuk-tuk: 100 bath. 50? tawar kami. Tidak mau. Kami garuk-garuk kepala. Tak tahu seberapa jauh Vinanmek.


Ibu-ibu di sebelah kami yang sepertinya juga nunggu bus dari tadi, bertanya dengan ramah:
    'Mau kemana?'
     'Vinanmek.'
    'Coba saya tanya, bus nomor berapa. Tolong jaga barang-barang saya, ya?' ujarnya, meninggalkan barang-barangnya. Sepertinya dia baru belanja.
    'Naik bus no 70,' ujarnya, beberapa waktu kemudian setelah kembali. Hmm, kalau itu sih kami juga tahu, Bu. 'Nanti naik bareng saya saja, saya juga naik no 70,' tambahnya. Ibu itu benar-benar ramah. Dia mengaku hanya bisa Bahasa Inggris sedikit-sedikit, tapi dia berusaha mengajak kami mengobrol. Wajahnya sederhana seperti kebanyakan ibu rumah tangga, dengan beberapa noda kehitaman terbakar matahari di wajahnya. Tapi dia terlihat cukup pintar.

Setelah beberapa waktu dan bus tak kunjung datang, si Ibu menyarankan kami naik taksi saja. Nggak terlalu mahal, katanya. Kami hampir saja menuruti saran si Ibu, tapi kemudian bus No 70 datang. Si Ibu mengajak kami bergegas naik. Dia juga yang memesankan pada kondektur dimana kami akan turun. Ongkosnya, 6 bath.
Busnya tua, tapi bersih


Busnya tua dan kusam tapi ternyata didalamnya cukup bersih dan segar. Jendelanya dibiarkan terbuka setengah semua dan nggak ada yang merokok. Jadi cukup nyaman. Sayang, jalanan macet dan hawa panas menguar. Setelah terkantuk-kantuk sekitar setengah jaman, kami sampai di Vinanmek. Say good bye dan berucap terimakasih sama si Ibu. Si Ibu tampak senang dan mengucapkan have anice time sama kami. Uuuh, baik banget ya si ibu.

Vianmek Mansion: Syarat Masuk yang Ribet
Masuk Vinanmek lebih ribet. Nggak boleh pakai celana pendek juga dan kali ini kainnya harus beli, nggak bisa sewa kayak di Grand Palace. Harganya 50-100 bath. Tergantung jenis kainnya. Teman saya memilih nggak masuk daripada beli karena corak kainnya tidak menarik. Tas, kamera hp, harus dititipkan di loker. Katanya sih free, tapi ternyata kuncinya bayar 20 bath. Kami jalan ke bangunan bercat kehijauan, Vinanmek Mansion. Eh, belum. Alas kaki juga harus dilepas. Pokoknya kami masuk dengan tangan kosong. Ada petugas yang siap siaga memeriksa di pintu masuk. Teman saya, Mbak Tyas, ternyata lupa mengeluarkan hp-nya dari saku celana. Nggak boleh dibawa. Padahal itu hp odong-odong, nggak ada kamera, nggak ada fasilitas recording...terpaksa dia balik lagi buat nitip di loker. Duh...

Rumah Vianmek adalah rumah panggung kayu dengan didominasi cat hijau muda. Foto-foto hitam putih tua terpajang di dinding. Keterangannya, semua dalam tulisan Thai yang keriting. Nggak ngerti. Mungkin itu foto si Vinanmek waktu kecil dan muda. Tampangnya khas Melayu. Mungkin dia anak bangsawan atau apa. Saya belum sempat membaca sejarahnya. Di ruangan sebelah, ada beberapa petugas berseragam sibuk membersihkan karpet. Ada banyak sekali petugas berseragam di rumah ini. Dan saya berpikir, mereka akan membersihkan setiap sudut rumah ini setiap waktu karena sepertinya tak ada sebutir debu pun dibiarkan menempel. Luar biasa. 

Segerombolan anak sekolahan berjilbab menyeruak masuk. Ada guide dengan Bahasa Thai. Lalu masuk rombongan lagi. Ruangan jadi penuh. Saya merasa tak nyaman. Teman saya tak muncul-muncul. Saya mutusin jalan sendiri, menyusuri bentangan karpet merah yang dihamparkan sepanjang koridor. Bersih dan lembut.  Mengitari ruang demi ruang. Ada berbagai perabot antik dan mewah. Ada piano tua. Semuanya hanya bisa dilihat dari balik kaca. Semuanya terlindung. Hawanya dingin oleh pendingin ruangan. Ternyata rumahnya cukup besar. Ada banyak ruangan. Saya terus bertanya-tanya dalam hati, seberapa berharganya rumah ini sehingga dijaga sedemikian rupa?

Keluar saya bertemu teman saya dan dia mengeluh karena harus bayar lagi 20 bath. Wah, pintar memang orang di sini. Masuknya gratis tapi bayar ini itu.
Ananta Throne Hall yang megah
Ananta Throne Hall: Sama Ribetnya
Dari Vinanmek, kami jalan. Kami berniat ke Ananta Throne Hall yang menjadi bagian komplek ini, sebuah bangunan serupa kastil di negeri-negeri dongeng. Tiket Grand Palace juga masih berlaku di sini. Tapi syarat masuknya lebih ribet: harus pakai kain panjang. Celana panjang tak bisa. Dan harus beli, 50 bath. Sebenarnya sih bukan jumlah yang besar, tapi kainnya kain polos biasa saja. Kalau kainnya bermotif sih saya mau saja beli. Di sisi lain, dompet kami titipkan di luar jadi harus jalan keluar lagi untuk ambil uang. Kaki sudah pegal bukan main. Akhirnya kami memutuskan untuk batal saja. Mbak-mbak berseragam bicara dalam Bahasa Thai, saya bingung. Saya bilang saya bukan orang Thai dan harus ngambil uang diluar. Dia baru ngeh. Kami keluar dan memutuskan pulang saja. Ribet.

Bapak Baik Hati
Kami berniat ke pasar malam, Suam Lum Night Bazaar di daerah Lumphini. Kami keluar, nanya ke orang-orang bagaimana cara kesana, tapi pada bingung. Lalu Bapak-Bapak berwajah Chinese menghampiri kami dan dengan ramaha bilang, kalau kami bisa naik bus 70 lalu turun di victory monument, terus naik 49 atau berapa gitu. Karena dilihatnya kami bingung, akhirnya dia bilang,
    'Bareng saya saja. Saya temenin.' Maksudnya dia nemenin kami? Aduh. Kok jadi merepotkan. Tapi mudah-mudahan maksudnya cuma bareng saja, sekalian.

Seperti halnya ketika kami hendak kesini tadi, menunggu bus 70 memang lama. Kami mikir untuk naik taksi. Tapi mungkin terlalu jauh dan mahal. Setelah mungkin sejaman menunggu, bus baru nongol, si bapak ngajak kami naik. Setetalh beberapa waktu,  si bapak ngajak kami turun. Lalu dia ngajak kami cari bus berikutnya. Istrinya ternyata bareng dia, terseok-seok di belakang dan akhirnya disuruh nunggu. Dia sepertinya memang khusus turun untuk mengantar kami. Dia bawa kami nyeberang dan kasih catatan dalam tulisan Thai beserta no bus yang harus kami naiki.
    'Ini nanti kasih aja ke kondektur,' ujar dia sebelum kami berpisah. Kami mengucap banyak terimakasih. Ya ampun...baik banget! Benar2 mengharukan kebaikan orang Thailand ini!

Ketika bus datang, seperti pesan si Bapak, kami kasih catatan ke kondektur dan dia ngangguk-ngangguk. Bus melaju menyusuri jalanan Bangkok yang cukup padat. Lalu lintas ramai dan macet.  Suara bus menderu-deru, tapi lajunya tak terlalu kencang. Saya terkantuk-kantuk, pengin banget tidur, tapi takut kalau tidur kelewatan. Lewat Siam Mall, lewat Chulalongkorn...kemarin hingga siang ini saya  berpikir kalau nggak ada gedung pencakar langit di Bangkok kayak di jakarta, ternyata dugaan saya salah. Semakin ke tengah kota, terlihat gedung-gedung menjulang dimana-mana. Udara juga mulai terasa pengap oleh polusi. 

Terdampar di Lumphini & Seafood yang Yummy
Matahari sore jingga bersinar. Perjalanan sepertinya cukup jauh. Saya khawatir jangan-jangan si kondektur lupa mengingatkan kami. Ternyata nggak. Dekat Lumphini dia mendekat dan bertanya:
    'Lumphini?'
    'Ya.' Dan turunlah kami di Lumphini. Daerah pertokoan dengan trotoar penuh pedagang aneka makanan dan souvenir. Dimana pasar malamnya? Nha lho, nggak ada tanda-tanda. Kami menyeberang lewat jembatan penyeberangan. Masih tak ada tanda-tanda. Akhirnya nanya ke Ibu-Ibu berseragam (mungkin PNS) yang lagi ngobrol dengan penjual makanan pinggir jalan. Dia ramah, tapi jawabnya pakai bahasa Thailand. Yah, bagaimanapun sepertinya cukup sulit membedakan kami dari Orang Thailand kebanyakan karena memang berasal dari ras yang sama.  Ketika akhirnya saya tanya Suam Lum Night, dia bilang,
    'No-no,' Saya agak bingung. Maksudnya nggak ada lagi ya? Dan memang begitu kenyataannya: pasar malam di Lumphini sudah tidak ada lagi.
Nemu kedai seafood yang nyam-nyam


Oke, karena sudah terlanjur sampai di sini dan lapar, kami memutuskan untuk mencari makan. Kami mneyusuri emperan toko yang penuh pedagang kaki lima. Banyak makanan serupa jajanan pasar, tapi kami butuh sesuatu yang bisa mengganjal perut. Akhirnya masuk ke gang yang nampak semarak. Tapi kebanyakan makanan yang dijual bermenu babi. Ketika lewat penjual seafood yang nampak segar menggiurkan, kami memutuskan untuk mampir. Ada aneka sup ikan dan jamur. Hmmm...saya pesan sup jamur pakai ikan, si Vince pesan sup jamur dan Mbak Tyas seafood. Dimakan selagi panas, rasanya menyegarkan dan memuaskan perut. Penjualnya sepasang suami istri yang ramah. Harganya 50-60 bath. Sepertinya jualan itu cukup laris karena banyak pelanggan datang dan pergi.

Kembali ke Khaosan
Usai makan, kami jalan menuju stasiun MRT untuk ke Hualamphong. Tiketnya 20 bath. Stasiun sepi banget, sepertinya jarang orang yang naik MRT. Mungkin karena MRT cuma menjangkau beberapa spot dan juga ongkosnya lebih mahal.

Dari Hualamphong kami keluar stasiun dan mencari bus no 53 jurusan Khaosan Road. Setelah beberapa menit menunggu, bus datang. Bus membelah jalanan malam kota Bangkok yang gemerlap. Pas lewat China Town, saya melongokkan kepala. China Town tampak semarak dengan lampion-lampion merahnya. Orang-orang yang berjubel di pinggir jalan. Sepertinya ada banyak kuliner enak disini. Agak nyesel juga, coba tadi ke situ aja?
Chinatown


Lalu lewatin pasar bunga yang penuh bunga. Sepertinya bunga jadi komoditi utama di sini karena orang-orang butuh buat sesaji. Hampir di semua sudut ada sesajen bunga-bunga di sini. 

Lokasi itu sudah dekat Khaosan. Tapi pas mau turun kami agak disorientasi. Ini bus lewat sebelah mana ya? Sebaiknya turun dimana? Akhirnya, daripada kelewatan kami turun di halte yang agak jauh saja. Yah, lumayan untuk memperparah pegel di kaki :)

Sampai di penginapan, kami menyempatkan diri singgah sebentar di travel agent di dekat meja resepsionis untuk pesan tur buat ke floating market besok pagi. Berdasar info panduan, kalau mau wisata ke pasar terapung, mending lewat travel agent saja daripada jalan sendiri karena jatuhnya bisa lebih mahal. Lagipula lebih simple meski mungkin unsur petualangannya jadi kurang. Tokh kami juga nggak punya banyak waktu disini.

Si mbak menawarkan dua paket ke floating market Damnoen Saduak: setengah hari ke floating market saja, 300 bath. Seharian sampai ke Tiger Temple 500 bath. Saya usul ke teman-teman, kalau masih mau belanja-belanja, mending setengah hari saja. Semua setuju. Jadi kami ambil yang setengah hari. Besok mulai jam 7 pagi. Oke. Jam 7 kurang 10 sudah disini. Oke.

Sebenarnya, 300 bath mungkin agak mahal karena yang saya baca bisa 250 bath. Tapi kami sih mikir praktisnya saja.
(bersambung)